Siapapun kamu.
Aku selalu membayangkan,
akan habiskan hari tua kita, duduk berdua.
Saban pagi, menyapa mentari.
Setiap sore, melepas surya,
sambut bulan dan bintang.
Siapapun kamu.
Aku ingin sekali menyeduh dan menuang
teh atau kopi hangat di cangkir kita berdua.
Menyeruputnya pelan-pelan,
sambil menertawakan nasib, takdir, hidup, dan pertemuan kita.
Siapapun kamu.
Aku ingin mendengar ceritamu.
Jika itu rahasia, akan kusimpan rapat-rapat di relung hati.
Kalau mau, kau juga bisa dengar kisahku.
Tambah dulu kopi atau tehmu,
nyanyian hidupku tak cuma satu atau dua bait.
Di manapun kamu,
Sejak tadi aku di sini.
Bersama dua cangkir kosong,
yang menanti tuannya.
(Pondok Gede, 04022012, 02:01)


