Showing posts with label [should has been] an art. Show all posts
Showing posts with label [should has been] an art. Show all posts

Saturday, February 4, 2012

Penantian Dua Cangkir Kosong


Siapapun kamu.
Aku selalu membayangkan,
akan habiskan hari tua kita, duduk berdua.
Saban pagi, menyapa mentari.
Setiap sore, melepas surya,
sambut bulan dan bintang.

Siapapun kamu.
Aku ingin sekali menyeduh dan menuang
teh atau kopi hangat di cangkir kita berdua.
Menyeruputnya pelan-pelan,
sambil menertawakan nasib, takdir, hidup, dan pertemuan kita.

Siapapun kamu.
Aku ingin mendengar ceritamu.
Jika itu rahasia, akan kusimpan rapat-rapat di relung hati.
Kalau mau, kau juga bisa dengar kisahku.
Tambah dulu kopi atau tehmu,
nyanyian hidupku tak cuma satu atau dua bait.

Di manapun kamu,
Sejak tadi aku di sini.
Bersama dua cangkir kosong,
yang menanti tuannya.



(Pondok Gede, 04022012, 02:01)

Tuesday, January 31, 2012

Petak Umpet


Aku paling senang main denganmu.
Kamu gudang teka-teki.
Semakin sulit soalnya,
semakin aku penasaran.

Sekali dua kali, kau tantang aku.
Tak ada yang tak kulampaui.
Lama-lama habis akalmu,
dan kau mulai bosan.

Ayo main yang lain, ajakmu.
Aku mengangguk.
Lalu kau menutup mataku.

Kuhitung sampai sepuluh.
Rasanya lama sekali.
Ku buka mata, kau sirna.
Ku cari ke segala penjuru,
bayanganmu pun tiada.
Aku berteriak memanggilmu,
tapi kau tak menyahut.

Aku janji tak minta teka-teki lagi.
Asal kau kembali.


(Pondok Gede, 31012012, 22:12)

Sunday, January 29, 2012

Surat Untuk Langit


Dulu sekali aku pernah menulis surat kepada langit.
Tulisan sengaja ku buat berantakan.
Biar langit kira aku seorang bocah.

Kulipat surat itu serupa pesawat.
Lalu kuterbangkan dari atap rumah.
Menembus langit malam.

Bertahun-tahun, tak ada balasan.
Malam ini kepalaku melongok ke atas.
Ku lihat langit menahan tawa.

Kenapa? Tanyaku.
Suratmu lucu.
Bukan aku yang menulis, kilahku.
Lalu siapa? Tanyanya.
Seorang anak kecil menitipkannya padaku.

Lalu langit berbisik padaku,
bilang padanya, salju tak kan pernah turun di sini.



Pondok Gede (29012012, 23:34)

Teman Lama


Aku lupa sejak kapan kenal dia.
Sudah lama rasanya.
Dulu dia teman yang menyenangkan.
Membantuku menghapal ujian.
Selesaikan pekerjaan rumah.
Dia bukan teman sekolahku.

Nonton film semalaman?
Bersamanya pasti menyenangkan.
Sepertiku, dia juga suka nonton bola.
Novel baru, jangan ditanya.
Kami pasti membaca bersama.
Dia bukan tetanggaku.

Kalau dia sedang murung,
kami berdua hanya diam.
Aku asyik dengan khayalku.
Tapi lama-lama aku turut murung.

Saking gembiranya,
kami pernah bermain 3 hari tanpa henti.
Aku lelah, kataku.
Ayo main lagi, katanya.
Pulang dan datanglah besok, saranku.
Tak mau, jawabnya.

Kalau sedang benar-benar lelah,
sebelum dia datang aku pura-pura pejamkan mata.
Bukan karena aku membencinya.
Aku hanya lelah dan tak mau melihatnya sedih.

Sekarang, saat aku menulis puisi ini, 
dia sedang duduk tenang di sebelahku.
Titip salam untuk kalian.
Kenalkan, dia teman lamaku. Insomnia.


(Pondok Gede, 29 Januari 2012, 00:56)

Thursday, January 26, 2012

Tamu Malu-Malu (2)

Credit: Katka Samková (sxc.hu)


Baiklah, aku mengaku.
Aku lebih dulu mengintipnya.
Sungguh, aku cuma lihat dari jauh.
Tak sampai masuk ke rumahnya.

Aku memilih datang saat senja.
Saat bulan perlahan jemput pulang matahari.
Saat dia sibuk memotret senja.
Ya, dia pengagum senja. Teramat.

Tiba-tiba dia menengok ke arahku.
Duh, hampir saja aku ketahuan.
Dia masuk ke dalam.
Aku pun pulang.

Hei kamu, ya kamu.
Apa yang membawamu ke sini?
Ah iya, aku lupa menghapus jejakku.
Pasti kamu menelusurinya.
Ya, jejak kakiku yang besar dan lebar itu.

Karena kau sudah di sini.
Silakan masuk.
Duduk sini di sebelah ku.
Tak usah malu-malu sepertiku waktu itu.
Mari menyeruput secangkir kopi.
Kopi pahit kesukaanmu.

Aku janji takkan malu-malu lagi.


(Pondok Gede, 26012012)




[Yaaahh, hujannya berhenti! Tapi wangi tanah tersiram air masih tersisa.  Mendengarkan kembali album Quite Down - Adhitia Sofyan, yang baru diunduh kemarin]

Tamu Malu-Malu

Credit: Lea Csontos (sxc.hu)

Dini hari kemarin dia datang lagi.
Langkahnya pelan-pelan.
Melihat-lihat dari jauh saja.

Aku terbangun. Bukan karenanya.
Tapi karena dering ponsel yang sengaja kusetel paling  kencang.
Bunyi setiap pukul 3 pagi.

Setengah sadar aku melihatnya.
Tapi dia tak melihatku.
Nah, ketahuan dia.
Aku memilih pura-pura tidak tahu.

Hei kamu, iya kamu.
Tak usah malu-malu.
Mari mendekat dan duduk di sini.
Kau bebas melihat-lihat isi rumahku.
Coretlah dindingnya sesuka hatimu.

Jangan diam saja.
Teriaklah sesekali.
Atau mengobrollah denganku.
Sambil menyeruput secangkir kopi.
Kopi pahit kesukaanmu.

Kutunggu sampai kau tak malu-malu lagi.


(Pondok Gede, 26012012)



[Hujan baru saja turun. Wangi tanah tersiram air. Sambil mendengarkan album Forget Your Plans - Adhitia Sofyan, yang baru diunduh kemarin]

Thursday, January 19, 2012

Seniman Gagal

 "Ada orang yang nggak 'sekolah' tapi berbakat. Ada orang yang nggak berbakat, tapi tekun belajar. Ada juga orang yang sudah nggak berbakat, tekniknya payah, tapi ngotot pengin bisa"

Nah, saya termasuk tipe yang terakhir dalam hal menggambar atau melukis. Bakat nggak ada, teknik juga nol besar (karena nggak serius belajar), dan jarang latihan. Jumlah gambar saya yang "mengerikan" itu cuma beberapa. 

Tapi, dari dulu, walaupun gambar saya jelek dan nggak pernah ada kemajuan, saya tetap yakin bisa gambar dan pengin banget belajar gambar atau melukis. Belakangan pernah kepikiran pengin "kabur" ke Bali atau Yogyakarta, magang melukis sama maestro di sana. Semoga bukan cuma angan-angan tukang cendol. 

Nah, semalam saya blog walking ke sini. Blog yang isinya gambar-gambar si pemilik blog. Bagus dan lucu. Konsepnya sangat detail. Huhuhu, jadi semakin pengin bisa gambar deh.

Dan, saya pun teringat seupil oret-oretan saya yang mengerikan, tahun 2005. Dari situ, saya jadi pengin membiasakan bikin sketsa lagi. Dan mulai belajar sedikit tekniknya. Oiya silakan lho dicaci maki "karya" saya ini . Selain gambarnya emang juelek, kertasnya buram, scanner pun tak ada. Akhirnya saya foto pake kamera butut. Ya... begini deh jadinya.... 

"Gambar opooo iki" 


Semrawut! 


Aslinya, muka si model nggak sekotak ini...
Maafkan sayaa


Ceritanya anak kembar. Tapi kok???#! 

[udah pasti bukan] Rain


Ya ampunn, gigi orang saya bikin tonggos!


Ini cewek atau cowok sih? 


alisnyaa   

another "penonggosan" 

padahal sudah pakai garis bantu,
tapi tetap loh, alis dan matanya  nggak sinkron  
btw, ada yang tahu ini siapa? 

p.s: jangan lupa mampir-mampir ke blog itu ya... pasti menghibur. oiya, kamu-kamu yang jago gambar, ajarin donggggggg.