Showing posts with label Nyinyir. Show all posts
Showing posts with label Nyinyir. Show all posts

Sunday, February 19, 2012

Jenazah Baik Pun Kena Gosip


Bergosip? Semua orang pasti pernah melakukannya, paling tidak sekali. Hayo ngaku, Anda juga kan? Saking sudah menggilanya, bahkan orang yang sudah meninggalpun tak luput dari gosip. Ah, banyak contohnya. Jenazah tidak beruntung yang terakhir kali kena gosip adalah seorang desainer nasional. Dari kabar burung yang tak jelas kebenarannya, berbagai versi gosip tersebar dari mulut ke mulut, dari akun Twitter satu ke akun lainnya, dan tak ketinggalan “laskar” infotainment yang sudah tak punya hati nurani itu.

Tapi, cerita saya sedikit berbeda. Inilah yang menambah keyakinan saya akan “keanehan” orang Jakarta (mungkin termasuk saya). Kalau biasanya jenazah yang terkena gosip adalah yang proses meninggalnya “tidak wajar” atau orang yang semasa hidupnya berbuat “jahat”, di daerah rumah saya beberapa oknum warga justru menggosipkan mendiang tetangga yang selama hidup (bahkan hingga meninggal) bermanfaat bagi orang lain.

Bagaimana tidak, mendiang gadis usia 20-an itu punya niat mulia mendonorkan matanya setelah meninggal dunia.  Mengharukan ya? Bahkan sedikitpun tidak pernah terpikirkan bagi saya untuk berbuat hal sama. Saya semakin kagum saat tahu ternyata mereka sekeluarga sejak awal memang berniat donor mata jika meninggal.

Gadis itu meninggal karena kecelakaan yang mengakibatkan benturan di kepala. Jasadnya utuh, hanya sedikit benjolan di kepala. Tapi yang bikin heboh para biang gosip (bigos) adalah kondisi mata yang ditutup perban. Bukan cuma bisik-bisik, bahkan secara terang-terangan mereka menggunjing situasi tersebut. Mbok ya kalau tidak tahu bertanya, jangan sok tahu. “Ih, itu kenapa matanya ditutup? Aneh ya, padahal kemarin di rumah sakit baik-baik saja?” celoteh salah satu tetangga, tepat di belakang kakak almarhumah. “Iya ih, harusnya kan dibuka biar nggak menimbulkan fitnah,” samber tetangga lain,  yang tak sadar justru dialah yang baru saja menyebarkan fitnah.

Untungnya Sang Kakak sama baik hatinya dengan mendiang. Dia justru menjelaskan baik-baik kepada para bigos. “Kita sekeluarga memang niat donor mata, termasuk adik saya. Makanya matanya diperban, karena kornea sudah diangkat,” jelasnya dengan tegar. Para bigos itu tentu tidak puas dengan jawaban Sang Kakak. Pindahlah mereka ke tenda depan, yang tentu banyak pelayat lainnya bisa dengan jelas mendengar gosip mereka. “Aneh ya, buat apa donor mata? Jangan-jangan nggak sanggup bayar biaya rumah sakit kali yah? Lumayan tuh jual mata, bisa dapat berjuta-juta,” kata salah satu biang gosip.

Entah ide gila itu ia dapat dari mana. Dari beribu-ribu bahan gosip, kenapa mereka harus memilih jenazah gadis mulia itu?  Saya hanya bisa mengelus dada dan menyeret ibu saya yang duduk tak jauh dari gerombolan sinting itu. Jangan sampai ibu saya ikut-ikutan.

Apakah gosipnya selesai sampai di rumah duka? Tentu tidak. Bahkan, hingga jenzah baru dimasukkan ke liang lahat,  para bigos yang rela terpaksa ikut ke makam masih bersungut-sungut penasaran. Mungkin mereka ingin melihat langsung bagaimana bentuk jenazah tanpa kornea.  Sinting.


Selamat Siang Jakarta,

Jangan ikut-ikutan gosipin (jenazah) ya :)

*reposted from there.

Saturday, January 28, 2012

Pulang Sana Ke Negaramu!



Disclaimer: Tulisan ini masuk ke Categories Nyinyir. Jadi harap maklum kalau saya esmosih. Lagi hormonal pun (alasannn).

Keluar negeri? Hampir semua orang senang. Beberapa orang bangga. Dapat beasiswa sekolah, jadi TKI (nggak selalu pembantu rumah tangga yaaaa), ikut suami/istri, atau sekadar jalan-jalan. Mungkin begitu juga yang dirasakan (sebut saja) Lipstick dan Lipbalm. Bukan, mereka nggak kembar. Mereka tidak saling mengenal, tapi saya kenal mereka berdua.

Lipbalm (kira-kira) dua tahun lalu melanjutkan sekolah di negara Sono. Lipstick (kira-kira) setahun lalu ikut suaminya pindah kerja ke negara Ntuh. Setahun di sana, mereka menyapa tanah air. Pulang kampung. Selama ini saya secara nggak langsung ikut ngintip (Nggak ngintip sih, kesannya maling. Mereka sendiri yang kasih lihat) kehidupan mereka dari Social Media. Sepertinya seru dan menyenangkan.

Awalnya, saya mau greeting mereka karena baru pulang. Langsung urung setelah lihat kicauan mereka yang hampir mirip (Hmmm, jangan-jangan mereka kembar sungguhan). "Airlines dan bank Indo nggak profesional banget sih. Blaalalalalala.Tetttt (Disensor. Dia menyebut satu kata indah, empat huruf berawalan  F dan berakhiran K)," ketik Si Lipbalm. Baru sekali saya melihat dia ngetik kata itu. Lipbalm yang saya kenal waktu kuliah dulu, orangnya lembut dan sopan. Teman-teman lain juga kaget dan me-reply dengan nada bercanda. Dia lalu minta maaf. "Sedang emosi," katanya.

Oke, tidak ada lagi empat huruf ajaib berawalan F dan berakhiran K. Tapi dia masih berkicau. Sejam setelahnya (eh nggak deng, sampai dia balik lagi ke Sono juga  masih begitu.) dia ngetik begini, "Di Indo nggak ada yang beres, nggak kayak di Sono yang teratur." Kicauan lain hampir senada. Kecuali saat mulutnya mengunyah makanan indo yang sudah setahun tidak dia cicipi. Saat kenyang, ocehannya berhenti sejenak.

Udah ketebak dong, Lipstick juga melakukan hal yang sama. Dua kicauan yang paling gong (kira-kira) begini: "Desperate sama Indonesia. Pengin balik aja." dan "Indo cuma cocok buat liburan. Pulang aja deh". Saya langsung pencet opsi "Reply" trus ngetik, "Baru setahun aja udah begini lo Mbak. Norak deh. Gidah sana pulang." Send message? Cancel. Saya tarik napas, menenangkan diri. Duh, nggak perlu ikut-ikut norak deh. Saya langsung senyum karena ada yang me-reply dengan cerdas tapi dalem. Si Lipstick kayaknya kesentil. Sekarang udah jarang berkicau.

Kalau punya hak untuk kecewa, saya sangat menyayangkan mereka begitu. Mereka berdua yang saya kenal dulu adalah orang yang open minded dan beradab. Tapi kok begitu? Setuju, negara Sono dan Ntuh memang jauh lebih bersih, teratur, dan memanusiakan manusia. Saya sih belum ke sana, tapi dengar-dengar begitu. Sah-sah juga kalau kita membanding-bandingkan Indonesia dengan negara lain. Saya saja yang baru pertama kali ke Singapura langsung jatuh cinta dengan kebersihan dan keteraturannya. Kalau dibuat list, perbandingan antara Indonesia dan Singapura mungkin bisa habis satu buku (lebay).

Masalahnya adalah, mereka berdua komplain seakan-akan baru sekali ke Indonesia. Seakan-akan mereka tinggal di Sono dan Ntuh selama berpuluh-puluh tahun, dan baru pulang sekarang. Sebelum mereka berangkat, Indonesia masih sama seperti sekarang. Jauh dari teratur, pelayanan amburadul, fasilitas publik nggak karuan, pemerintah nggak beres, dan kejelekan lainnya. Duh sedih ya... Tapi saya lebih sedih lagi pas baca kicauan Lipstick yang seakan-akan bilang tanah airnya di negara Ntuh. Bukan di Indonesia. Lipstick lupa, sejak kecil dia menghirup udara, mencicipi air dan pangan dari negara yang dia sebut berantakan itu. Kepada Lipbalm, yang sudah jauh-jauh menimba ilmu di Sono, awalnya saya menaruh harapan dia akan ikut memperbaiki Indonesia. Bukan hanya mencaci.

Sempat mikir, apakah semua yang tinggal lama di luar negeri, ketika pulang ke Indonesia, akan bersikap norak begitu? Ah, rasanya tidak. Saya ingat Si Sisir yang sekolah dua tahun di Sono tapi pas balik masih tetap humble. Mbak Blush On juga. Padahal negara mana sih yang tidak dia singgahi? Tapi dia tak pernah congkak. Atau Om Parfum yang dari SD malahan tinggal di negara Ntuh, tapi selalu menikmati pulang ke Indonesia. Saat diskusi kecil dengan Om Parfum, dia mengaku awalnya saat dia pulang ke Indonesia 15 tahun kemudian, dia sempat seperti itu. Ya, maklum Om Parfum sudah lama nggak ke Indonesia. Kaget kalau makan di warung tenda, akan diganggu sama puluhan  pengamen. Kaget karena petugas imigrasi mata duitan, dan lain-lain. Tapi akhirnya dia sadar, kelakuannya itu norak. Om Parfum bilang, Lipstick dan Lipbalm sedang mengalami culture shock.

Ya, mungkin mereka masih mengidap "culture shock". Setahun lagi mungkin sembuh. Pada saat itu pasti mereka akan geli atau jijik sendiri ingat tingkah mereka sekarang. Semoga saja.



Selamat Siang Jakarta,
Wahai kamu yang culture shock, bertobatlah :p





P.s: Berniat pada diri sendiri untuk suntik vaksin anti culture shock sebelum suatu hari nanti (mungkin) akan menetap tinggal agak lamaan (sekolah lagi misalnya) di luar negeri.