Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

Friday, March 8, 2013

Sebulan Lalu


Jumat, 8 Februari 2013, pukul 02:00. Saya bangun terlalu dini? Tidak! Saya bahkan belum memejamkan mata semalaman. Bingung memandangi isi lemari. Berapa helai pakaiankah yang harus saya kemas? Bolak-balik saya mengambil dan menaruh kembali setumpuk koleksi buku pinjaman dan milik pribadi ke dalam rak. Saya pikir, akan menyenangkan melahap semuanya di perjalanan. Empat pasang sepatu dan sendal yang saya jajarkan, menunggu untuk dipilih. Belum lagi, laptop, alat mandi, kacamata hitam, kipas, kamera, arsip penting, dan... gitar! Kalau yang terakhir, wajib dibawa! Dia akan jadi teman perjalanan saya. 

Pukul 03:00, tak satupun barang-barang tadi masuk ke koper kecil cokelat yang baru saya beli sore kemarin. Perut mulai mual. Benar, penyakit too-excited-to-travel  kambuh. Saya selalu begitu. Malam sebelum bepergian jauh, saya terlalu gembira. Akibatnya? Tidak bisa tidur dan tidak fokus berkemas. Plus, asam lambung naik berujung mual.

Dari kamar, terdengar sayup-sayup suara minyak goreng mendidih. Disusul harumnya aroma tumisan bawang putih. Mama pasti sedang masak nasi goreng untuk bekal saya di jalan. Sebentar lagi, dia pasti ke kamar saya. Memeriksa apakah saya sudah bangun. Wah, bisa bawel Si Mama kalau lihat koper saya belum rapi. Seperti biasa, si Deadliner Nan Random ini baru gesit jika sudah detik-detik terakhir. Tak sampai 15 menit, saya mengambil acak pakaian seperlunya dan perlengkapan lain. Yang penting, semua bisa masuk ke koper. Saya memilih sepasang sepatu saja, Converse putih belel kesayangan. The Alchemist - Paul Coelho terpaksa saya tinggal. Khawatir buku pinjaman itu rusak. Jalan Sutra - Bondan Winarno pun jadi pilihan.

Mama mengetuk pintu kamar saya di waktu yang tepat. Kesedihan di raut wajahnya tak bisa ia sembunyikan. Saya pura-pura tak melihat itu. Toh ini cuma perjalanan senang-senang yang singkat. Sayang rasanya dihiasi dengan kesedihan. "Hati-hati ya Nak... Nggak ada yang ketinggalan kan?" tanyanya. Saya menggeleng. Namun, ketika Mama keluar kamar memunggungi saya, saya sadar ada satu barang tertinggal. Secarik foto saya berdua mama, saya selipkan di bagian depan koper.

"All my bags are packed, i'm ready to go..."  penggalan lagu Chantal Kreviazuk terlantun pelan di hati. Satu koper kecil cokelat, 1 tas tangan merah, 1 kantong plastik oleh-oleh, dan gitar. Papa dan Mama hanya menggeleng tersenyum melihat putri bungsunya repot dengan barang bawaan. "Bawa gitar? Ya sudah ngamen gih nanti di sana," canda Papa. Mama memasukkan bekal nasi goreng ke dalam kantong plastik.

Saya mencium tangan dua orang yang telah membesarkan dan selalu menyayangi saya. Papa mengecup kepala saya, kemudian mengelusnya. "Pergilah... Nanti kasih tahu alamat di sana, ya". Mama tak banyak bicara. Jelas sekali dia menahan kesedihan dan kekhawatiran. "Anggap saja aku jalan-jalan seperti biasa. Lagi pula, Solo kan dekat Ma," saya mencoba menenangkan Mama. Dia pun akhirnya memaksakan senyumnya.

Pagi itu saya terus tersenyum. Ingin segera mencicipi perjalanan hati perdana di Tahun 2013. Dan terus bertanya-tanya, "Apakah saya akan menemukan sesuatu-entah-apa-itu  yang selama ini saya cari?". Doa kecil mengiringi pertanyaan saya itu. Semoga Allah SWT meridhoi perjalanan ini. Aamiin.

Stasiun Gambir, 07:00. Menunggu Argo Dwipangga.

Jumat, 8 Maret 2013.
Malang.

Monday, September 10, 2012

Sepedahan Ke Ancol


Akhirnya, jadi juga sepedahan! Padahal sudah direncanakan 5 tahun lalu *lebay*. Minggu kemarin, 9 September 2012, saya meluncur ke Ancol bareng Romleh dan Ai.
Pekan lalu, Ai mengeluh bosan dan pengin refreshing. Pas banget sama kondisi saya yang lagi sakau jalan-jalan! Saya mengusulkan sepedahan ke Ancol. Ide lama bersemi kembali. Dengar ide itu, Ai sempat pesimis. Dulu, berbagai alasan menggagalkan rencana kami ke Ancol. Mulai dari hujan (agak ribet ya bok, naik sepeda pakai jas hujan atau pegang payung), ada acara lain, sampai dengan mager alias malas gerak. "Kali ini, jangan sampai nggak jadi yah My. Aku malu diledekin Mamahku," si Ai khawatir. "Tenang i, insya Allah pasti jadi!," jawab saya yakin.

Dengan prinsip "The more the merrier", saya mengajak Romleh alias Indy. Gayung pun bersambut. Romleh kegirangan pengin ikut karena belum pernah ke Ancol. Buahahahahaha, boong deng. Supaya rencana ini nggak gagal, tadinya kami ingin menginap di rumah saya atau Ai. Tapi nggak jadi karena satu dan lain hal. Kami cuma janjian akan berangkat dari rumah masing-masing pukul 06:00 teng! *setting alarm*

Dini hari (saya nggak cek jam berapa), Romleh BBM saya. Katanya, doi nggak bisa tidur. Yaelah Mleh, ke Ancol doang pake grogi segala, sampe nggak bisa molor gitu. Buahahahaha. Karena masih ngantuk, saya nitip pesan ke Romleh supaya BBM saya pas Subuh. Sekitar pukul 05:00, Romleh BBM dan saya konfirmasi ke dia kalau kita jadi berangkat. Pukul 06:00 lewat dikit saya telepon mereka, laporan mau jalan. Si Romleh baru kelar mandi, Ai lagi bikin mi instan. Awas ye kalau pada lama.

Saya dan Ai janjian di halte TransJakarta (TJ) Garuda (tepatnya di depan Tamini Square). Saya sampai duluan, si Ai masih jalan kaki. Kasian dia, nggak ada yang antar ke depan kompleks yang lumayan gempor kalau jalan kaki. Ojek, kata Ai, juga tak kunjung menunjukkan batang stang-nya. Saya terpaksa manyun menunggu Ai di depan halte -_____- Nggak lama, Ai nongol dan kami langsung ke loket. Yeay! Kami cuma bayar Rp2000, karena berangkat sebelum pukul 07:00. Lumayan banget, ongkos Garuda - Ancol cuma segitu! *ogah rugi*. Perjalanan kami relatif lancar. Halte dan jalanan belum terlalu ramai. Kami juga dapat duduk. Transit pun hanya sekali, di BNN (depan Badan Narkotika Nasional, Cawang) ganti bus TJ jurusan Pusat Grosir Cililitan (PGC) - Ancol. Tapi karena ke-sotoy-an saya, kami sempat nyangkut di UKI. *toyor kepala sendiri*

Pas saya dan Ai sampai di Ancol, Romleh masih keliling Jakarta dulu. Buahahaha. Kami memutuskan menunggu Romleh di bangku dekat loket masuk Ancol. Sudah pasti sambil foto-foto narsis dan nggak penting. Eng... ing.. eng, Romleh nongol juga. Kami langsung beli tiket masuk, sambil masing-masing menyiapkan uang Rp15.000. "Rp10.000 saja, karena masih belum jam 8," kata petugasnya. Wow, diskonan again! *joget-joget* Berdasarkan informasi di tiket, harga tiket masuk pukul 05:00 - 08:00 hanya Rp10.000 karena ada event Ancol O2 Seaside Party. Harga termasuk kupon belanja Rp5.000 di stand Sunday Market Ancol. Kata Ai, mungkin voucher itu bisa dibelanjain di Pasar Minggu sono -____- Menurut looo? Ya emang sih Sunday Market dalam Bahasa Indonesia artinya Pasar Minggu. Tapi pan tetap saja dua tempat yang beda. Si Romleh nyaris bayar tarif normal karena kelamaan ribet ngumpulin koin secengan sepuluh biji. Muahahaha.

Tempat peminjaman sepeda ada di beberapa lokasi strategis di Ancol, salah satunya dekat banget dengan halte bus TJ. Kami pun langsung ngesot ke TKP. Saya sempat syok (lebay) melihat pengumuman yang bilang tarif sewanya Rp20.000 per jam. Setahu saya, sejam pertama gratis dan jam berikutnya Rp10.000. Loh kok nggak gratis? "Itu untuk sepeda ijo," kata Mas petugas. Trus, yang gratis sejam pertama yang mana? "Yang biru," jawab Si Mas sambil menunjuk segerombolan sepeda dekil bin karatan. Jauh banget sama sepeda hijau yang kelihatannya masih bagus. Padahal sama-sama merk Polygon. Mungkin, yang membedakan seri dan umurnya. Hih! Ancol nggak niat gini sih kasih fasilitas.

Nggak pakai galau, kami sudah tentu milih yang ada gratisan. Buset, sepeda biru nggak ada yang benar. Joknya lah yang keras, bannya lah kempes, stangnya lah oglek-oglek -_____-  Kami sibuk memilih "The best from the worst", lalu minta bantuan Mas Petugas untuk mompa ban yang kempes. Taraaa! Kami siap gowes sepeda butut! Oiya, syarat minjam dan sewa sepeda di Ancol adalah dengan menitipkan SIM atau STNK sebagai jaminan. Catat, harus SIM atau STNK! KTP nggak bisa jadi jaminan. Agak diskriminatif ya sebenarnya. Masa yang nggak punya SIM dan STNK nggak boleh pinjam atau sewa sepeda? Satu SIM atau STNK berlaku untuk 5 peminjam. Kemarin SIM C-nya Ai yang disandera.

Jam menunjukkan pukul 08:15, kami sepakat ngegowes selama dua jam saja. Berarti harus balik pukul 10:15. Alasan utamanya tentu karena ogah rugi bayar lebih dari Rp10.000. Hahahaha. Kami pun meluncur dengan sepeda butut ke segala penjuru Ancol. Asli ya, sepedanya Ai dan Romleh berisik banget kayak gerobak. Taunya gara-gara standar yang oglek-oglek ngesot ke jalanan -____- Namun begitu, kami tetap pede jaya karena kebututan itu kebanting dengan kecantikan dan kesolehahan kami yang luar biasa. *kedip-kedip* *kemudian muntah*.

Ai ditunjuk sebagai navigator. Kemana nih? Kemana saja, yang penting mutar-mutar! Baru ngegowes berapa meter, kami berhenti narsis foto-foto dan syuting video. Saking narsisnya, kami sampai nyaris dicium Bus Wara-wiri -___- Berapa menit jalan, Ai sudah mengingatkan kami ngegaya pake sun glasses. "Sudah panas nih mataharinya," kata Ai. Romleh langsung sigap dan tersenyum bahagia karena bisa pamer kicimiti bunga-bunga barunya. Hih, iri berat gue!
Ya ampunn Mleh, tu bibir. Bae-bae jatoh!
Dua gowes, cekrek! Tiga gowes, cekrek! Kapan nyampenya inih??


Ai akting sepeda ngetril.




Karena sudah lama tidak sepedahan, saya sangat menikmati momen kemarin. Sesekali saya memacu sepeda dengan laju dan kemudian menggowes sambil berdiri. Pengin coba lepas tangan, tapi kok ya seram karena stang sepeda tidak stabil. Udara Ancol pagi itu cukup bersahabat. Relatif adem, angin semilir, serta sinar dan terik matahari yang pas. Di beberapa titik, misalnya pantai atau Eco Park, Ancol diramaikan oleh sekumpulan orang yang suka-cita bertamasya.
Walaupun track sepeda masih belum jelas, pesepeda di Ancol lumayan diutamakan. Beberapa kali, Pak Satpam membantu menyetop mobil supaya kami bisa menyeberang. Selain kami, lumayan banyak juga orang yang menggowes. Ada yang menyewa, ada yang bawa sendiri.

Tidak terasa, sudah satu jam lebih. Berarti gratisan-nya sudah habis dan jatah sewa Rp10.000 tinggal sejam. Ai mengingatkan untuk gowes ke arah halte TransJ. "Mampir ke Eco Park ya i," usul saya. Di Eco Park track-nya lumayan enak, naik turun. Lumayan pegal, apalagi pakai sepeda yang sistem giginya udah dol. Apalagi kalau tiba-tiba harus berhenti di tanjakan. Buahahaha. Pemandangannya juga cukup asoy. Tapi sayang, lagi ramai sama halal bihalal sebuah instansi pemerintah. Mereka cuek menutup beberapa titik jalur sepeda.
Track sepeda dan jogging di Eco Park.
Pukul 10.00 teng kita sudah sampai di tempat semula. Ai dan Romleh nggak langsung balikin sepeda. Mereka melipir, karena ogah rugi masih ada jatah 15 menit. Saya ikut melipir, walaupun beberapa kali rempong ingatin mereka supaya balikin sepeda nggak lebih dari pukul 10:15. Sayang kan kalau harus keluar Rp10.000 lagi. Mending buat beli minum.

Kemana lagi setelah setelah sepedahan? Naik gondola! Kami naik Bus Wara-Wiri, bus AC Big Bird gratisan di Ancol, menuju ke anjungan Gondola. Tarif gondola Rp40.000 per orang. Kemarin kami ngutang dulu sama kartu kreditnya Ai. Hahahaha. Antrean Gondola tidak terlalu ramai. Kabin Gondolanya lebih besar daripada di Taman Mini.
 Saya dan Ai sempat ngeri karena sama-sama takut ketinggian. Saya malahan panik karena pintu kabinnya nggak ditutup petugas. Padahal sudah ada tulisan "Otomatis" segede gaban di pintu. Lah, abisan katanya otomatis, tapi mana kok nggak ketutup-tutup? Manaa? Si Romleh mah cengar-cengir doang karena dia emang demen naik mainan macam begitu."Ya elah, emang kenapa sih kalau kebuka? Sky Ride di Sentosa kebuka aja nggak kenapa-kenapa," kata Romleh. Yeee, tapi kan beda. Nanti kalau ketiup angin gimana? Kalauu.... Setttt, krek! Alhamdulillah, pintunya ketutup juga. *elus dada*



Kelar naik Gondola, kami makan di A&W. Kami kompak pesan paket 1 potong ayam + nasi + sup + minum seharga Rp30.000. Jatah nasi saya dilahap si Ai yang lagi kelaparan. Romleh nguap kekenyangan. "Habis ini pada mau ngalay kemana? Gue duluan yah? Ngantuk banget," katanya sambil kriyep-kriyep. Dih, mana enak lanjut jalan sementara dia pulang. Kami sepakat pulang. Kasian Romleh ngantuk berat. Agak lama nunggu bus TJ jurusan PGC. Kami beberapa kali sotoy masuk bus jurusan lain. Langsung keluar lagi, karena malas harus transit beberapa kali.
Setelah sebulan nggak makan nasi, Romleh nyerah juga!

Ada hikmahnya juga sih pulang jam segitu. Bus TJ masih lengang, jalanan juga masih lancar. Di BNN, kami harus menunggu bus TJ jurusan Pinang Ranti. Nah, di pintu keluar Tol Taman Mini, lalu-lintas tersendat. Ada kali 20 menitan bus nggak bergerak sama sekali. Ai yang sudah mabok sama macet di hari Sabtu, kesel karena harus berjodoh sama macet lagi. Untungnya, kami duduk, walaupun misah. Ai di bangku bagian tengah, saya dan Romleh ngejogrok di tangga dekat Pak Supir.

Sampai di Halte Garuda, Ai ngajakin makan pempek. Saya pesan 2 adaan, Ai 1 kapal selam, Romleh pesan Es Kacang Merah. Setelah kenyang, kami bubar jalan ke rumah masing-masing. Daghhh, kapan-kapan sepedahan lagi yaaah!


Ps: Sampai rumah kami ngeluh fantat sakit gara-gara jok sepeda yang keras. Makan deh tuh gratisan! Buahahaha.

Friday, September 7, 2012

Kangen Mereka

Tepatnya, kangen jalan-jalan sama orang-orang gila ini. Hahahaha. Semoga salah satu dari berjuta rencana kita, segera terealisasi ya temannn :p

(Ki-ka): Bal, Mel, me, Neng, Ai, Nyo, Git.


Friday, April 6, 2012

Let's Get Lost (5a): KL - Hat Yai

Bus double decker a.k.a bus tingkat Sri Maju,
mengantarkan kami dari Puduraya (Malaysia) ke Hat Yai (Thailand).
Kami duduk di atas, lho! Sooo exciting!

Jumat malam, 30 Maret 2012:
Berangkat ke Hat Yai
Setelah lelah jungkir balik foto-foto di KLCC, kami kembali ke Terminal Puduraya. Kami kembali menanyakan kepastian di mana kami harus menunggu bus. Karena, keterangan yang diberikan semula masih kurang jelas. Tadinya kami diberitahu menunggu di dekat lobi Hotel Ancasa. Siang tadi kami cari di mana lobinya, tapi tak ketemu. Oke, sekarang kami diberitahu untuk menunggu di Platform 12. Lebih mudah.

Waktu kami masih agak lama untuk menunggu pukul 22:00. Kami memanfaatkannya untuk istirahat sebentar, lalu bersih-bersih dan sholat. Baru setelah itu makan malam di food court lantai 4. Oiya, sebelumnya saya dan Indy menukar MYR30,60 menjadi THB300. 'BANYAK' banget yahh?  Hihi, kami kan cuma sehari saja di situ. Yang penting jalan-jalan sekitar situ, lalu pulang.

Saat istirahat, kami memilih ruang loket untuk dijadikan base camp, karena lumayan pewe dan tentunya banyak colokan! Ahahaha. Karena kursi yang dekat colokan sudah penuh, akhirnya kami lesehan di dekat tiang bercolokan listrik. Untungnya, lantainya berkarpet. Seorang petugas sempat melihat kami dan dia bilang kami kreatif karena membawa ekstensi colokan. Ya, kemana pun, kalau bepergian jauh, saya pasti selalu membawa ekstensi colokan. Pertama, karena kebutuhan listrik saya lebih dari satu (ponsel dan laptop). Kedua, karena saya takut mencolok listrik kalau tidak pakai ekstensi yang ada saklarnya.

Agar lebih efektif dan efisien, akhirnya kami gantian ke mushola. Indy dan Ashry duluan, saya menunggu ponsel dan baterai yang sedang di-charge sambil update blog. Oiya, fyi, mushola Puduraya besar dan nyaman banget. Setelah semuanya kelar, kira-kira pukul 20:30, kami bergegas ke food court dan memesan menu 2 orang untuk bertiga. Biasa deh, ngirit! Malam itu kami memesan Nasi Goreng Kampung dan Tom Yam. Karena ternyata nasi gorengnya porsinya sedikit, maka kami memesan nasi putih. Saya lupa rincian harganya. Total harga makan malam kami MYR11,5. Rasanya? Nasi gorengnya dikit dan topping-nya nggak seperti di display, jauh banget sama porsi nasi goreng di food court KL Sentral. Tom Yamnya, walaupun  porsinya sedikit tapi dimasak baru dan rasanya segar.

Setelah kenyang, kami bergegas ke Platform 12. Tadinya, kami langsung ke bawah, tempat bus berhenti. Tapi, petugas menjelaskan bus kami baru akan datang 10 menit sebelum waktu berangkat. Kami disuruh ke ruang tunggu di atas. Memang benar sih, kalau kami kekeuh nunggu di bawah, kami bisa sesak nafas mencium bau asap knalpot bus. Kami pun akhirnya menunggu di atas.

Kondisi di atas cukup ramai dengan suara penumpang. Diselingi dengan teriakan kondektur yang memberitahu bus yang akan berangkat. Kami pun pasang kuping kalau-kalau nomor bus kami dipanggil. Sudah pukul 21:50 tapi kami belum juga dipanggil. Setiap ada kondektur yang meneriakkan "Hat Yai", kami langsung menanyakan apakah itu bus kami. Mereka menggeleng. Malahan ada yang bilang bus kami baru akan berangkat sejam lagi. Nahlo? Duh! Saya takut ketinggalan bus.

Akhirnya, kira-kira pukul 22:00, ada seorang kondektur yang meneriakkan "Hat Yai" lagi. Saya pun menghampirinya dan menunjukkan tiket kami. "Ini dia, sudah ditunggu dari tadi. Kenapa tunggu di sini? Ayo cepat," katanya. Ternyata yaa, seharusnya kami tidak menunggu di Platform 12, melainkan langsung di pinggir jalan depan terminal Puduraya. Hmmm, mungkin itu yang dimaksud si Calo siang tadi. Dan sebenarnya Indy juga sempat bingung, apa iya si double decker muat di terminal bawah, karena bus biasa saja sudah hampir mentok dengan atap.

Walaupun agak kesal, karena diberi tahu info yang salah, kami masih bersyukur tidak ketinggalan bus. Beruntung kami mendapatkan jatah kursi di atas. Ahahaha, baru sekali nih saya naik bus tingkat untuk perjalanan jauh. Seperti apa yaaa? Nyaman nggak ya? Pegal nggak ya tidur di bus? Saat naik ke atas, saya sempat bingung kenapa salah satu bangku kami ditempati. Tadinya Indy bilang "Ya sudah kita duduk di kursi lain." Loh? Iya, saya tahu maksud Indy dia malas ribut, tapi kan itu hak kami. Kalau kami menempati kursi lain, jangan-jangan kami malah mengambil hak orang lain. Akhirnya saya tegur langsung bapak-bapak India itu "Sorry, this seat is mine. What's your seat number? " tanya saya sambil menunjukkan tiket saya. Dia hanya bingung dan langsung pindah ke belakang, kursi dia sebenarnya.

Oiya, tadinya si calo bilang kami bakal duduk sederet (15-22-23, susunan bangkunya 1 - 2). Eh ternyata nggak. But it's not a big deal sih, ternyata Ashry hanya satu deret di depan kami. Setelah mencoba bangku, ternyata lumayan nyaman dan jarak kaki dengan bangku depan cukup jauh. Ya, standar bus eksekutif lah. Sebelum orang di belakang saya datang, saya langsung men-setting bangku saya 180 derajat layaknya dipan. Boong deng . Ya, yang penting nyaman untuk tidur.

Kira-kira 15 menitan kami menuggu penumpang lain yang belum naik. Jeng-jeng! Tiba-tiba datanglah empat pemuda India (maaf, saya nggak niat racist). Tampangnya nggak karuan dan saya punya feeling nggak enak dengan kehadiran mereka. Kami menamakan mereka Gerombolan Siberat. Eh, benar lho feeling saya. Selama perjalanan, mereka rusuh banget ngobrol dengan suara keras. Udah gitu, mereka juga makan melulu. Makan memang nggak dilarang, tapi kalau bau makanannya menusuk? Kan kasihan penumpang lain. 'Kabar baik'-nya, mereka duduk tepat di belakang saya dan Indy! Sepanjang jalan saya sibuk menutup hidung dengan pasmina dan menyumpal kuping saya dengan MP4 player. Alhamdulillah sih, saya tetap bisa tidur nyaman.

Tak jauh dari Puduraya, bus berhenti di pom bensin. Hmmm cukup lama sih, sekitar 30 menitan. "Ngisi berapa barel sih ni bus?" tanya Indy. Ahahahaha. Setelah itu, perjalanan ke Hat Yai dimulai. Saya kira, medan yang bakal ditempuh itu seperti mendaki gunung lewati lembah plus jalanan rusaknya. Ternyata nggak! Ya seperti jalan tol biasa. Seperti dari jalanan ke Bandung. Tapi karena gelap, jadi tidak terlalu banyak yang bisa dilihat. Ya sudah, saya memutuskan untuk tidur lagi.

Imigrasi Malaysia dan Thailand
Pukul 02:00, saya terbangun. Rupanya bus berhenti. Saya amati, jangan-jangan sudah sampai di imigrasi Malaysia? Tapi kayaknya sih belum. Baru berapa jam saja dari keberangkatan. Kayaknya hanya transit biasa. Mungkin ada yang mau makan atau ke toilet. Saya juga lega karena melihat beberapa penumpang yang masih duduk di bus. Kira-kira pukul 06:00, saya terbangun lagi karena bus berhenti. Kali ini saya lihat, semua penumpang turun dengan barang bawaannya. Wah saya langsung panik, jangan-jangan sudah sampai di imigrasi Malaysia. Saya langsung bangunin Indy dan Ashry dan menyuruh mereka bergegas. Waktu turun, paspor kami diminta kondektur. "Wah, benar nih sudah di imigrasi," pikir saya. Ternyata bukan. Cuma tempat transit biasa dan masih berada di wilayah Malaysia. Kami akhirnya memanfaatkan untuk ke toilet. Informasi dari seorang bapak, paspor kami dikumpulkan untuk diisikan lembar imigrasi Thailand. Rupanya, itu salah satu pelayanan dari travel bus kami.

Kami pun kembali ke bus dan tak berapa lama, kondektur membagikan paspor kami yang sudah lengkap dengan lembar imigrasi yang diisi rapi (di-print). Tinggal kami tandatangi dan isi next destination. Tak lama, kami berhenti lagi dan semua orang terlihat bergegas turun. Saya tanya ke bapak sebelah, "Ini imigrasi Malaysia?". Iya, katanya. Saya langsung membangunkan Indy dan Ashry. Bisa dibilang, mereka berdua kurang peka kalau bus berhenti. Ahahahaha. Kalau saya, setiap bus berhenti, pasti bangun. Kami langsung ke antrean dan prosesnya lancar sekali. Saya kira, imigrasi Thailand berada di spot yang sama, rupanya tidak. Kami pun kembali ke bus. 

Di sinilah kondektur curhat kalau dia juga sebal dengan Gerombolan Siberat. "Semua kursi bersih, kecuali empat orang belakang ini," katanya sambil menunjuk ke arah belakang. Pas saya dan Indy tengok, ya ampunnn! Kursi belakang kami penuh dengan sampah kuaci! Ckckckckck, pantesan bau. Kondekturnya juga bilang, salah satu dari mereka tidur dengan kaki di atas jok Indy. "Memang tak ada otak," kata si kondektur geram. Indy, sebagai korban, malah nggak sadar joknya dikasih kaki. Ahahhaha dasar kebo lo Ndy! Oiya, kondektur kami baik sekali! Orang Melayu. Setelah penumpang kelar dengan urusan imigrasi dan kembali ke bus, seperti biasa kondektur memastikan jumlah penumpangnya. Semua sudah di atas kecuali Gerombolan Siberat! "Adakah yang kenal mereka? Tinggal saja lah?" katanya mantap dan esmosi. Tanpa sadar, saya ikutan teriak "Iya" bersama penumpang lain. Yak, bye bye Gerombolan Siberat! Silakan cari bus lain menuju Hat Yai. Lagian, siapa suruh lama. Ih jahat banget ya saya

Hanya berselang 30 menit, kami berhenti lagi. Nah, kali ini baru imigrasi Thailand. Kami semua turun dengan barang bawaan. Kami mengikuti kemana orang berjalan. Imigrasi Thailand (di Sadao) ini letaknya seperti di terminal bawah jembatan. Agak kurang rapi, menurut saya. Nah, saat mengantre saya berkenalan dengan seorang pria asal Malaysia yang mengaku tinggal di Australia. Namanya Ashton. Penampakannya seperti orang Melayu dan India gitu. English-nya cas cis cus seperti bule. Dari Ashton lah saya tahu, bahwa kami belum sampai di Hat Yai. Satu jam lagi, katanya. Sempat ada kejadian nggak mengenakkan. Ashton ditolak bapak-bapak imigrasi karena tidak mengisi tempat menginap di Thailand. "I'm not sure yet about the hotel," katanya. Tapi si bapak imigrasi Thailand yang saya yakin Bahasa Inggrisnya paspasan, cuma geleng-geleng dan ngusir Ashton dengan bahasa tubuh. Khawatir dengan kondisi Asthon, saya nanya ke dia "You are ok?"  (buahahahaha, kebalik-balik deh tuh Bahasa Inggris gue). "I'm good," katanya. Alhamdulillah sih, urusan imigrasi Si Asthon kelar.  

Bener juga kata Ashry,
Ashton mirip Miller.
Tapi iteman, makanya saya kira
dia keturunan India.
Kapanlagi.com
Bahas Asthon lagi boleh yaaa...???  Waktu saya tanya apakah dia pernah ke Jakarta, dia bilang cuma transit saja. Kalau ke Indonesia, dia palingan ke Balikpapan. Ashton orangnya charming dan helpful. Dia ngasih tahu saya untuk membeli tiket langsung di travel resmi bus Sri Maju. Dia juga mengingatkan saya untuk segera membeli tiket sesampainya di Hat Yai. Karena, katanya, mencari bus kembali ke Kuala Lumpur sangat terbatas. Dan obrolan berlanjut seputar tempat tinggal dan pekerjaan. Menyenangkan! Saya sebenarnya sudah sadar dengan kehadiran dia di kursi bagian belakang. Tapi saya abaikan karena saya kira dia salah satu dari geng Gerombolan Siberat. Ahahaha. Intinya, Ashton bisa dijadikan salah satu gebetan kami di trip ini  Lumayan lah... daripada lumanyun. 

*to be continued  *

Tuesday, April 3, 2012

Let's Get Lost (4): Pusing-pusing di Kuala Lumpur

Jumat, 30 Maret 2012

Alhamdulillah sampai!
Sesampainya di KL Sentral pukul 08:55, kami langsung mencari bilik mandi. Biar wangi dan segar. Apalagi habis keluyuran seharian dan semalaman kemarin. Informasi ini hasil browsing Indy dan Ashry. Untungya, di dekat lift tak jauh dari tempat kami turun, petunjuk ke bilik mandi tertulis jelas. Bilik mandi berada di lantai 1. Tapi sebelumnya kami harus naik lift ke lantai 2 dulu. Baru dari situ, turun ke lantai 1 dengan eskalator. Fyi, KL Sentral itu semacam terminal besar. Ada monorail, LRT (Light Rail Transit), kereta, dan bis.

Persis seperti penjelasan hasil browsing, bilik mandi berada di dekat 7Eleven. Tempatnya agak tersembunyi. Kalau sudah menemukan 7Eleven di lantai satu, lurus saja lalu belok kiri. Ikuti saja petunjuk di sana. Kalau bingung, tanya saja. Pasti ketemu! Harga sewa satu bilik mandi MYR5, termasuk kamar ganti yang bisa berfungsi sebagai loker. Sepertinya sih tidak ada batasan waktu, makanya kami mandi sepuasnya. Ada fasilitas setrika juga loh.. Biayanya MYR3. Tadinya Indy ambisius mau nyetrika baju-baju kami *jiwa babu menggebu* *kaburrrrrr*, tapi pas liat dompet akhirnya pasrah pakai baju dan jilbab lecek. Buahahahaha. Sebenarnya, kami boleh numpang nge-charge.Tapiii sayang, colokan di bilik mandi perempuan rusak semua. Harusnya kami nyelonong ke bilik pria saja yaaa... Kali colokannya bisa. *menurut nganaa???*

Kiri: Bilik mandi dan ruang ganti baju. Lumayan bersih dan nyaman.
Kanan: Fasilitas setrika dan loker yang berada di KL Sentral.

Oiya, kami re-packing ransel karena berencana ke Genting dan lanjut ke Hat Yai (Thailand Selatan). Bisa gempor kalau kami harus membawa semua isi ransel. Jadi, kami hanya mengemas keperluan sehari semalam saja. Sisanya? Kami titipkan di fasilitas loker yang ada di KL Sentral. Ide ini datang tiba-tiba saja karena kami pusing mikirin harus jalan-jalan sambil 'gendong' ransel. Mana??? Katanya backpacker sejatiii? Kok gini doang nyerah. Ahahahaha.

Harga sewa loker bervariasi, tergantung besarnya. Ada yang MYR15 per hari (pas untuk koper gede), MYR10 per hari (cukup untuk 2-3 ransel sedang), MYR5 per hari (1 ransel kecil), dan saya sempat lihat di dekat loket tiket kereta antar kota ada yang MYR2 per hari (cuma cukup untuk tas tangan atau sandang kali ya). Nah, kami memesan yang harga sewanya MYR10 per hari. Masa sewanya adalah hingga pukul 24:00. Jadi, jam berapapun kami menyewa, tetap akan berakhir pukul 24:00. Tidak dihitung pure 24 jam. Karena kami baru akan kembali ke Kuala Lumpur hari Minggu, berarti kami menyewa loker itu 3 hari. Total pengeluaran untuk loker bertiga dan tiga malam adalah MYR30 (@ MYR10). Lumayan murah lah, daripada pegel-pegel trus pingsan? *lebay*

Kehabisan Tiket Kereta Ke Hat Yai
Setelah mandi dan repacking, kami langsung ke loket kereta antar kota di lantai 2. Jeng-jeng, Mak Cik penjaga loket bilang tiket ke Hat Yai habis bis bis untuk hari ini. Tiket pulangnya juga. Oiya lupa, ini kan weekend. Pastilah ramai. Harusnya yaa... kami booking jauh-jauh hari. Tapi kan perjalanan ini memang impulsif. Jadi, perubahan rencana macam begini sangat wajar dan sudah diprediksi.

Namun kedua teman saya, terutama Indy, langsung kecewa dan cemas. "Yaahhh, gimana dong? Pokoknya kita tetap harus ke sana yaaah," ucap Indy khawatir plus muka melas. Saya, terus terang, juga kecewa dan khawatir gagal ke Hat Yai. Tapi akhirnya kami tetap optimis. Masih ada opsi naik bus atau naik van via Penang (nyontek perjalanannya Ied dan Shima). 

Sambil meeting kecil, kami numpang nge-charge di ruang tunggu loket ini. Lumayan pewe. Akhirnya perubahan rencana pun terjadi. Hari ini kami nggak jadi ke Genting, karena sudah siang dan tiket ke Hat Yai belum beres. Ke Gentingnya kami tunda hari Minggu, sepulang dari Hat Yai. Hari ini, setelah tiket Hat Yai di tangan, kami berencana jalan-jalan seputar KL Sentral saja. Tujuan utama tentu saja Twin Tower Petronas di Kuala Lumpur City Center (KLCC). Kami juga memutuskan ke terminal Puduraya untuk mencari tiket bis Hat Yai. Bismillah.

Sebelum berangkat ke Puduraya dan supaya nggak pusing mikirin tiket, kami mengisi perut ke Medan Selera (alias food court) di lantai 3. Saya dan Indy diet ngirit cuma mesan air panas (MYR0,30) buat nyeduh popmi dan susu kental yang kami bawa dari Jakarta.. Sedangkan Ashry, memesan Nasi Goreng plus Chicken Strips seharga MYR5,50. Porsinya banyak dan potongan ayamnya besar. Saya yang dalam hati ngarep Ashry butuh bantuan untuk ngabisin nasi gorengnya (idih amit-amit celamitan), girang setengah mati pas Ashry bilang sudah kenyang. Buahahahha. Akhirnya pertumpahan darah terjadi antara saya dan Indy memperebutkan Nasi Goreng. Ahahahaha nggak deng, kami malah saling menyuap mesrah. Cuih! Nggak gitu juga ahahaha. Intinya, alhamdulillah kami kenyang! Nggak lupa, minum vitamin C.

Beli Tiket Di Puduraya
Setelah kenyang dan cuci piring sendiri (boong deng), kami pun meluncur ke terminal Puduraya. Nah, proses bertanya naik apa ke Puduraya juga drama banget. Dari tiga orang yang kami tanya, jawabannya beda-beda. Ada yang bilang, bisa jalan dari KL Sentral dan cuma 7 menit. Ada yang bilang, harus naik LRT dan transit beberapa kali. Dan ada yang nyuruh naik taksi. Biar aman, akhirnya kami memutuskan naik LRT saja dan mengikuti petunjuk berhenti di Pasar Seni dan lanjut jalan kaki. Ongkos LRT ke Pasar Seni, MYR1. Pembayarannya menggunakan token yang didapat dari mesin. Caranya, mirip mesin tiket MRT. Tekan tujuan, lalu jumlah tiket, dan masukkan uang. Pertama kali, token hanya ditap atau di-scan. Pas turun dan keluar stasiun, token di-cemplungin. Jadi, tidak ada deposit seperti MRT di Singapura.

Mejeng dulu sebelum jalan ke Puduraya.

LRT ini gerbongnya pendek. Cuma 4-5 kali ya. Tapi frekuensi kedatangannya cukup sering. Baru masuk, ternyata kami sudah sampai tujuan, karena Pasar Seni adalah pemberhentian pertama dari KL Sentral. Kemudian jalan kaki menuju Puduraya, setelah bertanya pada seorang Pak Cik. Ternyata memang dekat dan tinggal jalan lurus saja. Terminal Puduraya, menurut saya cukup besar. Layaknya terminal, situasi di depan dan dalam Puduraya sangat ramai. Sebelum masuk, banyak calo yang menanyakan kami mau kemana. Sempat kami bertanya, dia bilang tiket Hat Yai habis. Hah? Masak habis semua? Tapi kami tetap optimis masuk menuju loket resmi.

Penampakan Si Tiket.
Sesampainya di loket lantai dua, blas kami bingung. Banyak benar loketnyaaa. Harus ke mana nih? Mana yang murah? Mungkin karena terlihat bingung, kami didatangi pria yang sepertinya calo. Dia bilang, harga tiket bus ke Hat Yai semuanya sama, yaitu MYR50. Tidak percaya begitu saja, kami mendatangi salah satu loket. Mak Cik penjaga loket bilang tiket bus ke Hat Yai masih ada pukul 22:00 dan harganya MYR50. Bismillah, kami akhirnya beli tiket itu. Kami dapat bus double decker alias bus tingkat merk Sri Maju. Kami pun belum ada bayangan seperti apa busnya. Oiya, semula kami ingin pesan tiket roundtrip alias pp. Tapi ternyata tidak boleh, kami harus memesan tiket pulang dari Hat Yai. Baiklahh....

Nih, bukti kekeblukan di Puduraya.
Lumayan segar pas bangun.
Setelah lega sudah dapat tiket, kami istirahat sebentar di ruang tunggu sambil menunggu Sholat Jumat selesai. Ya ampun, walaupun situasi ramai dan cuma duduk di kursi yang keras, kami bertiga bisa tidur dengan nyenyak lho. Ahahaha dasar kebo. Lalu kami ke mushola untuk sholat dan lanjut jalan-jalan ke Petronas, kira-kira pukul 15:45.


Menara Petronas dan Hard Rock Cafe
Ashry merem melek jilat Ice Cone,
padahal di Jakarta sering nemu.
Melihat petunjuk ke arah KLCC, kami pede menyebrang mencari cara ke Menara Petronas. Mak Cik pedagang kaki lima menyarankan kami naik bus nomor 79 atau 28. Dia menyarankan kami berjalan sedikit ke ujung jalan, which is itu daerah Masjid Jamek. Sebagai rasa terima kasih, Indy menyumbangkan sekotak Cheese Roll nya yang selama ini bikin berat ranselnya aahahaha. Dan si Mak Cik pun kegirangan dapat oleh-oleh makanan dari Jakarta. Oiya, kami sempat nyangkut di McD beli ice cream cone, gara-gara ngiler ngeliat Mas dan Mbak bule lagi jilat-jilat es krim. Btw, yang rasa Apel enak deh. Segerr!

Kaos Hard Rock Umar,
titipan Unina.
Bus di KL mirip di Jakarta, ada kondekturnya. Bedanya, kami menerima bukti pembayaran ongkos bus. Ongkos ke KLCC dari Mesjid Jamek adalah MYR1. Sesampainya di KLCC kami langsung cari spot yang pas untuk berfoto. Memang harus akrobat untuk mendapatkan foto bagus, sampai baringan segala. Hihihi. Oiya, kami memang tidak berencana masuk ataupun naik ke kawasan KLCC dan Menara Petronas. Puas berfoto, kami langsung jalan kaki ke Wisma Concorde, tepatnya ke Hard Rock Cafe. Unina nitip kaus buat Umar. Setelah urusan foto-foto dan titipan kelar, kami langsung balik ke Terminal Puduraya dengan bus nomor 28. Waktu itu sekitar pukul 19:00 dan masih terang benderang aja lho!

Keriaan mejeng bareng Twin Tower Petronas, KLCC :)

*to be continued*


P.s 1: Keterangan jam mengikuti waktu lokal. (Singapura & Malaysia = GMT +8, Thailand (GMT +7).

P.s 2: Rincian pengeluaran hari ke-2 (Jumat, 30 Maret 2012)
  • Sewa bilik Mandi            : MYR   5
  • Sewa loker                        : MYR  10 (Ket: MYR10 per hari x 3 hari = MYR30 dibagi 3 orang = MYR10)
  • Air hangat                          : MYR    0,30
  • LRT ke Pasar Seni         : MYR    1
  • Bus ke Hatyai                   : MYR 50
  • Ice Cone                                 : MYR    1,60
  • Bus 79 ke KLCC                : MYR    1
  • Bus 28 ke Puduraya  : MYR    1
  • Air mineral                      : MYR    1
TOTAL PENGELUARAN HARI KE-2 : MYR 70,9  x IDR 3.010 = IDR 213.409
*Kaus Hard Rock Umar: MYR 75 (nggak masuk pengeluaran, karena titipan)

(MYR : Malaysia Ringgit, IDR : Indonesia Rupiah)
(1MYR = IDR3.010)

Friday, March 30, 2012

Let's Get Lost (3): Singapore - Kuala Lumpur

Kereta 'mundur' Woodlands - Kulai.

Setelah berkumpul dengan Indy dan Ashry, kami memutuskan untuk ke Masjid Al Mutaqqin, di daerah Ang Mo Kio. Tujuannya, sholat dan bersih-bersih (karena Indy dan Ashry belum sempat mandi). Dulu, saya dan Indy pernah terdampar di masjid ini. Masjidnya besar, toilet dan tempat wudhunya pewe (ada tempat khusus mandi), dan ada air dingin gratis yang bisa diminum sepuasnya (teteupp nyari gratisan). Lagipula, Ang Mo Kio dan Woodlands Checkpoint Train (stasiun kereta menuju KL) berada dalam satu jalur MRT (jalur merah).

Jadi, intinya, saya di Singapura cuma numpang lewat doang. Hahaha. Indy dan Ashry lumayan masih bisa foto-foto di Merlion dan Esplanade. Tapi nggak apa lah, saya sudah sering kok ke sini. Jadi sudah nggak mupeng lagi foto-foto (congkak mode: on, padahal baru 3 kali. Buuahahahaha).


Indy di depan Al Muttaqin,
Oktober 2011. Lokasinya
nggak jauh dari stasiun
Ang Mo Kio. Tanya aja.
Gampang dicari kok.
Keputusan kami tepat sekali. Karena sesampainya di masjid, hujan turun derasss banget. Ya sudah kami ngaso sambil menunggu hujan reda. Indy dan Ashry mandi sepuasnya. Malah Indy sempat keramas. Kami bisa minum sampai kembung dan selonjoran melepas penat. Tentu, tak lupa menjamak sholat Dzuhur dan Ashar. Kekurangan masjid ini cuma dua: dilarang nge-charge hape dan tidak ada dispenser air panas untuk nyeduh mi instan. Yaiyalahhhh, lo kira ini penginapan? Sekalian aja ngarep ada kasur. Ahahahhhaa, dasar traveller kere.

Pukul 17:30 hujan reda dan kami memutuskan langsung ke Woodlands, membeli tiket kereta ke KL. Kira-kira perjalanan 40 menit. Naik MRT dulu dari Stasiun Ang Mo Kio ke Stasiun Woodlands (SGD1,9), lalu lanjut naik bis nomor 911 (SGD1,10). Sedikit ada drama, kami kelewatan satu bus stop., karena keasikan ngobrol. Ashry yang ngeliat plang "Woodlands Checkpoint Train", cuma datar bilang "Itu tempatnya". Sementara busnya sudah jalan. Ahahahaha. Untungnya dari halte berikutnya tidak terlalu jauh, jadi bisa jalan kaki.

Kami langsung ke loket dan memesan tiket kereta ke Kuala Lumpur (Malaysia). Petugasnya bilang jadwal yang tersisa hanya pukul 23:30, dan itupun sepertinya sudah habis. Tapi dia berusaha mencarikan. Setelah mengeluarkan mantra 'the cheapest", petugas loket menawarkan tiket dengan harga SGD35. Harusnya dari Singapura kami langsung ke KL. Tapi karena ada kerusakan rel, kami harus berganti moda transportasi. Pertama, naik kereta dari Woodlands ke Kulai. Dari Stasiun Kulai, kami akan diangkut dengan bis hingga Stasiun Kluang. Nah dari situlah kami lanjut ke KL dengan kereta. (Moral of the story: Kalau perginya well planned dan nggak impulsif seperti kami, bisa booking online dulu biar tidak kehabisan. Coba cek di sini. Macam-macam, ada yang modelnya tempat tidur. Ya.. ada harga, ada rupa). 

Atas: Menunggu di loket Woodlands
Bawah: Mari nge-charge!
Karena kereta dijadwalkan berangkat pukul 23:30, kami memutuskan beristirahat di ruangan dekat loket. Cukup nyaman, kami bisa numpang sholat. Kami juga dengan leluasa numpang nge-charge ponsel dan baterai kamera. Saya menyebut tempat yang ada fasilitas colokan dan air sebagai surga! *lebay. Ah iya, di loket ini kami bertemu seorang bapak paruh baya yang baikkk sekali. Dia bisa berbahasa melayu. Dia selalu menawarkan bantuan pada kami. Kami mau sholat, dibolehkan ke kamar mandi dan tempat sholat petugas. Dia menyuruh kami istirahat di ruangan yang lebih nyaman. Dia juga menunjukkan tempat makan di sekitar stasiun. "Makan pelan-pelan ya. Baik-baik jage bag," pesannya pada kami. Saya sempat curiga bapak itu ada maunya. Tapi ternyata dia memang baik sama semua orang. Saat kami tawari cheese roll pun (sebagai rasa terima kasih), dia menolak. "Ada pantangan makan karena operasi jantung," katanya. Baiklahh, thank you Uncle! God bless you!

Lihatlah, betapa ngilernya saya
sama Mi Tom Yam-nya Indy.
Sebelum berangkat kami makan malam di foodcourt seberang stasiun. Gampang kok menemukan tempat ini, benar-benar di seberang stasiun! Kami memesan di kedai yang sama, Seafood Kampung Muslim. Saya pesan Nasi Goreng Seafood (SGD3,50), Indy pesan Mi Tom Yam (SGD4,50), Ashry pesan Mi Hongkong (SGD3,50). Rasanya? Nasi goreng saya 'adem' dan pakai sayuran kaleng, tapi masih bisa dimakan. Mi Hongkong Ashry juga tidak hangat. Nah, menu pilihan Indy lah yang menurut saya enak. Mie Tomyam disuguhkan panas-panas. Rasanya pedas dan segar. Udang, bakso ikan, jamur, ayam, dan sayurannya pun fresh. Mienya mirip mi aceh. Dan yang tak kalah penting, porsinya BANYAK! Saya yang beriman pada "rumput tetangga lebih hijau" langsung nyicipin mi tomyamnya Indy. Slrup! Awalnya satu sendok, lama-lama saya merasa memiliki mangkok besar itu. Ahahahahaha. Untung Indy baik hati dan tidak sombong. Bayangkan, saking banyaknya, kami berdua tidak sanggup menghabiskan karena sudah kekenyangan. Harusnya pesan 1 porsi untuk berdua saja.

Atas: Mi Tomyam milik bersama Indy.
Bawah: Nasi Goreng  Seafood anyep (kiri), Mi Hong Kong (kanan).

Kereta berangkat pukul 24:00, terlambat 30 menit dari jadwal. Fyi, per tanggal 1 Juli 2011, rute kereta ke KL yang tadinya di Tanjung Pagar dipindah ke Woodlands. Perubahan itu justra mempermudah traveller, karena urusan imigrasi di 2 negara (Singapura dan Malaysia) selesai di satu  tempat: stasiun Woodlands. Prosesnya pun cepat (imigrasi dibuka 30 menit sebelum kereta berangkat) dan tidak resek. Padahal saya sudah bersiap mendapat perlakuan kurang menyenangkan di imigrasi Malaysia. Mengingat, banyak cerita tidak mengenakkan yang saya dengar. Tapi alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Malahan petugas imigrasinya mengajak kami bercanda dan mengira kami masih kuliah (senangnyaaa disangka masih muda).

Ada yang lucu dari kereta ke Stasiun Kulai. Kereta kami berjalan mundur! Hihihi. Biasanya kan bangku kereta bisa diputar, tapi yang ini tidak bisa. Ya sudah nikmati saja perjalanan 'mundur' ini. Namanya juga tiket murah :p

Oiya, saat perpindahan bis di Kulai (saya lupa sampai jam berapa di Kulai), kami sebenarnya masih mengantuk dan setengah tidak sadar mau digiring kemana. Ahahaha. Kami hanya mengikuti orang-orang saja. Untungnya, bis parkir tak jauh dari tempat kereta berhenti. Saat di bis pun, kami masih tidak sadar karena mengantuk. Yang kami ingat, bisnya besar dan nyentrik (langit-langit dengan interior ngenjreng warna merah). Untungnya nyaman dan kami masih bisa tidur nyenyak. Sampai-sampai kami tidak sadar berapa lama perjalanan. Saya hanya ingat, sebelum memejamkan mata, saya sempat bertanya ke mbak-mbak yang duduk di sebelah, berapa lama perjalanan ke Kluang. "Satu jam," jawabnya. Berartiiii, mariii kita tidur lagii... Zzzzz.

Saat sampai di Kluang pun kami masih mengantuk. Akhirnya kami sok tahu masuk ke gerbong yang salah. Tiket yang kami beli kelas yang duduk di kursi, tapi kami malah masuk ke gerbang yang ada kasurnya. Indy sempat kegeeran tiket kami di-upgrade. You wish Ndy! Ahahaahha. Setelah menyelusuri gerbong sampai mentok dan sruduk orang-orang dengan ransel, kami sadar salah gerbong. Untungnya kereta belum jalan, jadi kami bisa kembali ke jalan yang benar alias di gerbong 'eksklusif' yang cuma duduk di kursi.

Gerbong kami yang sepi!
Cuma 5 orang!
Sempat baca-baca di blog orang yang cerita dia nggak bisa tidur karena gerbong berisik. ALHAMDULILLAH, gerbong kami sepiiiii. Isinya cuma 5 orang (termasuk kami bertiga). Agak bingung sih, katanya tiketnya sudah habis. Hmmm mungkin yang dimaksud, seat yang ada tempat tidurnya. Oiya, tetap loh, kami kebagian gerbong yang kursinya bertolak belakang sama arah kereta. Sekali lagi, alhamdulillah kami bisa tidur nyenyak. Tentu, sebelumnya kami mengoleskan counterpain dan menempelkan koyo. Maklum, namanya juga nenek2 jompo... *ngunyah sirih*

Kira-kira pukul 08:55 kami sampai di KL Sentral dengan selamat. Berarti total lamanya perjalanan, hampir 9 jam. Cerita jalan-jalan di KL saya lanjut besok yaaaa :) Sekarang kami menunggu bis di Terminal Puduraya, menuju Hatyai (Thailand Selatan). Doakan selamat yaaa :)


*to be continued*


P.s 1: Keterangan jam mengikuti waktu lokal. (Singapura & Malaysia = GMT +8, Thailand (GMT +7). 

P.s 2: Rincian pengeluaran hari pertama (Kamis 29 Maret 2012)
  • Tiket Promo Air Asia (Jkt - Sing) dan (KL - Jkt)    : IDR 175.000
  • Damri Kampung Rambutan - Soe Tta Airport     : IDR   25.000
  • Sarapan Bakmi Special GM                                      : IDR   23.000
  • Airport Tax                                                                      : IDR 150.000 
Total pengeluaran rupiah                                                            : IDR 373.000
  • MRT Changi - Esplanade                                           : SGD    2,20
  • MRT Esplanade - Ang Mo Kio                                  : SGD    2
  • MRT Ang Mo Kio - Woodlands                                : SGD    1,90
  • Bis ke Woodlands Checkpoint Train (No. 911)    : SGD   1,10
  • Kereta ke KL                                                                   : SGD 35
  • Nasi goreng seafood                                                    : SGD   3,50
Total pengeluaran SGD                                                          : SGD 45,70 ---> x IDR 7.320 = IDR 334.524

TOTAL PENGELUARAN HARI 1 (dalam rupiah)            : IDR 707.524


(SGD : Singapore Dollar, IDR : Indonesia Rupiah)
(1SGD = IDR7.320)


Let's Get Lost (2): Hello (Again) Singapore!

The Clouds, Jakarta - Singapore. View from 25C.

Melanjutkan bagian sebelumnya, pesawat take off sekitar pukul 09:05. Saya duduk di seat 25C. Tadinya, saya bertanya-tanya siapa yang bakal duduk di samping saya. Siapa tahu jodoh saya (eaaaaa, ngarep. wuahahaha). Atau nggak, seperti kata Bebe, kalaupun di sebelah saya nenek-nenek saya harus tetap positive thinking. Karena siapa tahu si Nenek punya cucu cowo ganteng. Eh ternyata, boro-boro ada nenek-nenek. Ini kosong blas! Mungkin karena seharusnya itu kursinya Ai, Mamanya, dan kedua adiknya (yang batal ikut di perjalanan ini). Nasib..nasib. Padahal saya udah mandi kembang 7 rupa plus kondean ke salon (boong deng). Positive side-nya, saya bisa bebas pindah duduk di jendela dan bisa naro tas saya di bangku-bangku kosong itu. Hehehe.

Penerbangannya muluss banget. Pilotnya orang Indonesia. Karena cuaca bagus, langit dan awannya cakep, saya sempat foto-foto. Oiya, saya baru sekali naik Air Asia rute internasional. Ternyata penumpang dikasih kacang atom gratis tanpa, diberi minum! Saya sih mikirnya kacang itu jebakan betmen banget. Orang-orang banyak yang akhirnya pesan air mineral (harganya lebih dari Rp10ribu, tetep ya Bok medit!) karena makan kacang itu. Ahahaha. Untung saya nggak cepat haus, nggak masalah makan kacang itu. Saya malah diam-diam membuka cokelat. Laper (lagi)!

Bangku Si Jodoh kosong & kacang atom jebakan betmen.

Pesawat mendarat siang di Changi Airport sekitar pukul 11:18 GMT+8. Saya langsung menyesuaikan jam tangan dengan waktu setempat. Lalu ke kamar mandi, pipis dan bersih-bersih. Tiba-tiba ada petugas perempuan yang mengingatkan saya untuk segera bergegas karena saya harus men-scan barang bawaan. "Miss, faster please, we will close the area." Oh begituuu, baiklahhh... Sebenarnya saya agak bingung karena beberapa kali ke Singapura, keluar pesawat biasanya langsung ke imigrasi. Hmmm rupanya sekarang harus scan barang bawaan dulu. Alhamdulillah sih karena bawaan saya isinya makanan semua (ahahahha, ngirit dot com) dan ga ada yang berbahaya, proses scanning ini lancar jaya. Cumaaa, saya malu karena sotoy salah jalan -___-

Habis itu saya bergegas ke imigrasi. Sambil lewat, saya mengisi botol minum dan ribet men-setting ponsel untuk free roaming layanan blekberi selama di Singapura. Soalnya, saya harus berkomunikasi dengan Indy dan Ashry yang sudah menunggu. Mereka sampai duluan malam sebelumnya. Pas layanan berhasil, saya langsung bbm Indy dan dibalas dengan "Bawainnn minum donggg, kita hausss." Ketahuan banget kerenya yak, minum aja nggak mampu beli. Wuahahahaha.

Setelah menukar uang ke pecahan kecil untuk mesin tiket MRT, saya membeli tiket ke Stasiun Esplanade untuk bertemu Indy dan Ashry. Namanya travelling, apalagi yang edisi irit seperti saya, pasti ada saja dramanya. Ternyata dari stasiun Esplanade saya harus jalan agak jauhan ke tempat Indy dan Ashry menunuggu (Merlion). Saya sih mau saja nyamperin mereka. Tapi masalahnya baterai blekberi sudah sekarat. Saya takut nanti malah kami cari-carian dan tidak bisa saling menghubungi. Akhirnya saya meminta mereka yang mendatangi saya, sekalian kami langsung melanjutkan perjalanan. Jadi kan tidak perlu buang-buang waktu.

Saya menunggu agak lama dengan ransel saya taruh di lantai. Ah, saya biasa kok menunggu. Termasuk nunggu jodoh (eaaaaa, ujungnya ke situ muluk). Ada beberapa petugas yang bingung melihat saya berdiri cukup lama plus celingak-celinguk nggak jelas. Tapi mereka nggak negur sih. Hmmm, atau mungkin saya terlalu memesona kali yak, jadinya pada ngeliatin. Ahahahaha.

Akhirnyaaaa, yang ditunggu-tunggu datang juga. Dua perempuan TKW, eh salah, maksudnya Indy dan Ashry, datang dengan muka kecapekan dan ngos2an. Langsung deh mereka minum air bawaan saya seperti kuda nil yang kehausan. Trus tanpa disadari, kami sudah asyik ngemper di lantai layaknya emak-emak arisan. "Woiii,emangnya boleh begini. Yuk langsung ke stasiun".

*to be continued*

"Nggak apa-apa yah, kemarin aku nggak sempat nengok kamu Lio :*"
(ngomong sama MerLIOn).

photo taken by Indy.

Thursday, March 29, 2012

Let's Get Lost! (1): Diantar Papa Mama

My "Travelmates".

Yeayyy! Akhirnya saya akan mendamparkan diri ke negara tetangga. Hari ini (Kamis, 29 Maret 2012) sampai Senin (2 April 2012) saya akan melakukan perjalanan ke beberapa tempat, insya Allah Singapura - Kuala Lumpur - Hat Yai (Thailand Selatan).

Perjalanan ini sudah direncanakan tahun lalu, saat ada promo Air Asia. Saya dapat tiket Jkt-Sing-KL-Jkt Rp175ribu saja :) Saya baru 2 hari lalu mengabari Mama dan Papa. Komentar mereka? "Jalan-jalan terus! Cari suami dong!" -___-

Saya ke bandara menumpang bis Damri di Kampung Rambutan. Sempat bingung naik apa ke Kampung Rambutan karena masih subuh. Mau pesan taksi, takut abangnya nggak mau karena kedeketan. Mau naik ojeg, males. Naik angkot, belum ada. Akhirnya saya keluarin jurus terakhir: merayu Papa minta diantar.

Sebelum adzan Subuh, saya sudah rapi dan siap ikut sholat jamaah. Setelah sholat, saya nyengir-nyengir ke Papa:
Me: "Pa, tolong anterin ke Kampung Rambutan"
Papa: "Ga ah, nyusahin orang aja. Males, Papa ngantuk"
Me: "Kalau bukan Papa siapa lagi coba? Emy kan masih tanggungan Papa *pasang muka melas*
Mama: Iya Pa, kasihan anak kita. Mama ikut deh nemenin Papa.
Papa: (ga ngomong apa2, langsung ke kamar dan siapin mobil).
Ahhh Papa dan Mamaku baik sekali. Nggak cuma itu, sebelum pergi Si Papa dengan sok cueknya buka dompet dan ngasih saya uang saku 7 Milyar (lebay, ahahaha). Alhamdulillah!

Pukul 05:10 saya sudah nangkring di Damri. Saya dapat kursi di barisan tengah. Baru saja duduk tenang, tiba-tiba terdengar suara melengking ibu-ibu yang tidak asing di telinga. "Adeekk, sudah dapat tempat duduk kann?"

Saya melongok ke depan. Benar dugaan saya, itu suara Mama. Dengan dasternya, doi pede celingak-celinguk di atas bis nyariin saya. Ahahahaha. Malu deh, berasa masih anak SD dicek sampai kayak gitu. "Iya Ma, di siniii. Makasih yaaa," jawab saya sambil melambai dan pasrah dilihatin para penumpang Damri. "Hati-hati yaaaa," kata Mama.

Pukul 05:25 Damri meluncur dengan mulus ke Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Saya langsung check in dan bayar airport tax Rp150ribu. Trus, sarapan Bakmi GM dulu deh. Udah kenyang, saya langsung masuk ke gate. Eh ternyata benar lho, kita nggak perlu lagi isi lembar imigrasi dari Indonesia. Lumayan lah ya, hitung-hitung menghemat kertas.

Baiklahh, sekian dulu catatan singkat perjalanan saya. Besok kalau sempat dan ada koneksi internet, saya update lagi deh. Kalau tak sempat, nanti saya rapel ceritanya :) Have a nice day, People :)


(Kamis, 29 Maret 2012, 07:50, Gate Z6 Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, menunggu boarding).