Showing posts with label FriCtion. Show all posts
Showing posts with label FriCtion. Show all posts

Friday, March 16, 2012

[FriCtion] Teror Eskalator

Tiada yang bisa menyaingi kekuatan kedua tangan Alia.
Hasrat Alia, lebih tepatnya.

Setiap kali masuk ke gedung bereskalator Alia sibuk menenangkan kedua pihak batinnya. Yang satu, gegap gempita. Yang lain, ketakutan dan khawatir. Pertentangan batin terbaca lewat gerak-geriknya. Tengok kiri-kanan, meremas tangan, sesekali memejamkan mata.
"Kamu kenapa?" beribu kali pertanyaan itu Alia dengar.
"Nggak apa,"  jawaban yang seharusnya menenangkan namun gagal karena disertai mimik muka khawatir.
Sering juga ia ragu masuk ke dalam gedung dan tak jarang urung masuk. Kalaupun masuk, dia pasti menghindari turun dengan eskalator. Tapi tidak hari ini. Alia muak dengan ketakutannya.

Masuk ke gedung dengan tekad kuat, membuat satu sisi batinnya kegirangan minta ampun. Sementara sisi batin yang lain semakin takut melihat tekad Alia. Dia kemudian melangkah pasti ke eskalator yang bergerak menuju lantai dua. Sesampainya di atas, tanpa ragu Alia berpindah ke eskalator yang akan membawanya kembali ke bawah.
"Ayo cepat. Langkahkan kakimuuu! Cepat Aliaaaaa," satu sisi batin berteriak-teriak melihat banyaknya orang yang turun di eskalator itu.
Sisi batin yang lain, hanya meringkuk dan berdoa agar Alia tak terbujuk.
" Tunggu apa lagiii??? Ah, itu. Lelaki tua pincang itu akan memudahkanmu. Tak akan ada yang menyalahkanmu. Cobalah sekali, ini menyenangkannn!" satu sisi batin semakin menggila.
Semakin menggila. Membuat jantung Alia berdegup kencang dan mendorongnya melangkah ke eskalator. Alia persis berada di belakang seorang kakek dengan sebuah tongkat. Mata Alia berbinar takjub melihat kedua tangan mungilnya yang seolah-olah terlihat kekar dan bertenaga. Tenaga yang menggerakkan kedua tangannya menjulur menyentuh punggung Si Kakek.
"Cepat doronggg. Jangan lama-lama. Ini menyenangkan!! Percayalah padaku!" setengah batinnya menguasai Alia.
Seperti tak bisa menguasai tangannya, Alia sekuat tenaga mendorong punggung Si Kakek.

Brakkk. Sang Kakek tersungkur ke depan. Beruntung, di depan ada pria cukup tegap yang bisa menghalangi kakek itu jatuh lebih jauh.
"Maaf," suara Alia hampir tak terdengar, kalah dengan tangisnya. 
***
Kedua tangan mungil Alia masih menggenggam keras pegangan eskalator. Matanya terpejam erat, tubuhnya bermandi peluh. Ia berlirih pelan, mengucapkan satu kata berulang-ulang "Tolong... tolong... tolong..."

Besok, lusa, seminggu lagi, sebulan lagi masih sama. 
Ya, Alia memilih melawan.


-Selesai-


Bekasi, 16 Maret 2012,
(di toilet atas)

emy agustia


Friday, March 9, 2012

[FriCtion] Penikmat Luka

Credit: Belovodchenko Anton (sxc.hu)

"Katanya dia pemarah dan sering main tangan."
"Lalu, buat apa dekat-dekat?"
"Entahlah..."

***

"Kami sering bertengkar. Aku curiga dia selingkuh."
"Kok bisa?"
"Aku tak boleh lihat ponselnya lagi. Pasti ada perempuan lain"
"Ya sudah, putus saja."
"Iya sih. Tapi....."

***

"Aku sedih, aku bodoh."
"Dia selingkuh lagi?"
"Bukan."
"Menamparmu?"
"Sebulan ini sudah dua kali sih. Tapi bukan itu."
"Gila. Apa yang bisa membuatmu lebih sedih?"
"Dia menghilang, marah tak ku pinjami uang."
"Biar saja, tak usah diberi."
"Sudah kutransfer tapi dia masih tak kembali."
"Hah?"

***
"Aku putus."
"Syukurlah."
"Bodohnya aku dulu."
"Iya benar. Tapi yang penting sekarang kamu sudah putus."
"Kenapa aku mau saja dibodohi ya?"
"Sudahlah, sekarang kamu tidak bodoh lagi."
"Aku bodoh... Aku benci diriku."

***

"Kemarin aku bertemunya."
"Buat apa sih ketemu lagi?"
"Dia datang bersama seorang perempuan. Itu pasti selingkuhannya dulu. Kok dia tega ya?"
"Loh dia bukan pacarmu lagi kan?"
"Iya, tapi dia kan baru saja putus denganku."
"Apa hakmu melarangnya?"
"Aku sedih, aku bodoh. Dia jahat."

***
"Dia akan menikah"
"Bukan urusanmu, kan?"
"Hatiku sakit. Kenapa dia tega?"
"Loh, kalian tidak pacaran lagi kan?"
"Iya. Tapi harusnya dia bisa menunda pernikahannya."
"Kenapa begitu?"
"Aku belum bisa melupakannya, setidaknya butuh tiga tahun."
"Jadi? Kau akan menikmati luka ini tiga tahun ke depan? Bodoh."
"...."


Depok,  9 Maret 2012.
emy agustia.



Friday, March 2, 2012

[FriCtion] Kaus Kaki Sebelah

Credit: Irum Shahid (sxc.hu)

Ini FriCtion sekaligus dongeng anak-anak perdana saya. Enjoy reading.
 

Oleh: Emy Agustia



Berantakan dan berisik.
Di kamar Lily.

Malam itu, semua kaus kaki kepunyaan Lily berkumpul. Banyaaak sekali, bertebaran di lantai. Merah, kuning, pink, ungu, hijau, biru, oranye, dan abu-abu. 

Tunggu! Mereka bukan kaus kaki biasa. Kamu tahu kan, kaus kaki selalu berpasangan? Kanan dan kiri. Nah, mereka ini kaus kaki yang kehilangan pasangannya. Iya, kaus kaki sebelah. Sedang apa ya mereka? Dan kemana pasangan mereka?

***

Sudah seminggu Lily berlibur ke rumah Eyang di Solo, dan selama itu juga sebuah kaus kaki terus-terusan menangis. Namanya Si Kuning.

Malam itu, semua kaus kaki sebelah membujuk Si Kuning agar berhenti menangis.
"Hei Kuning, berhentilah menangis. Memangnya kenapa sih kamu sedih?" tanya Si Oranye. 
"Huhuhuhu, apa kamu tidak sedih? Kita cuma tergeletak di lantai dan tidak pernah dipakai Lily? Harusnya kita bisa ikut jalan-jalan ke Solo. Aku ingin orang-orang memuji warnaku yang cantik," jawab Kuning masih terisak.
"Benar juga sih... Tapi bagaimana lagi? Lily tidak mungkin mau memakai kita yang cuma sebelah. Sedangkan pasangan kita, tak tahu terselip di mana," sahut Si Ungu murung.
"Aku tahu kok pasanganku di mana. Ituuuu diaaa," tunjuk Kuning ke arah atas lemari buku.
"Tapi aku tak bisa membantunya turun. Huaaaa," tangisan Kuning meledak lagi.
"Sudah jangan berisik. Sudah bagus kita tidak dibuang oleh Lily," ucap Si Biru kesal mendengar keluhan Si Kuning.

"Ya tapi... kita kan kaus kaki. Semua kaus kaki pasti bahagia kalau dipakai. Ya kan teman-teman?" tanya Si Kuning. 
"Iyaaa betull," jawab Ungu, Oranye, Merah, Pink, Hijau, dan Abu-abu kompak. 
***

Tiba-tiba pintu kamar Lily terbuka. Ternyata Ibu yang masuk. 
"Lily... Lily... Kenapa buku-buku, mainan, dan kaus kaki berantakan di lantai?" Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ibu lalu mengambil sapu dan kemoceng. Dia mulai membereskan kamar Lily. Satu per satu, pasangan kaus kaki yang hilang Ibu temukan. Ada yang di kolong tempat tidur, di tumpukan komik, di atas lemari buku, malahan ada yang di dalam tas sekolah Lily.

Selama ini, Lily sembarangan menaruh kaus kaki. Akhirnya, waktu Lily ingin memakai kembali, kaus kakinya tinggal sebelah. Ada juga yang hilang dua-duanya.

Dan sekarang, semua kaus kaki, yang sudah lengkap dengan pasangannya, masuk ke dalam satu keranjang. Ibu mau mencuci mereka.

***

Masih berantakan dan berisik.
Di dalam keranjang cucian.

Semua pasang kaus kaki bernyanyi kegirangan, karena besok mereka bisa dipakai Lily lagi. Sudah pasti, Si Kuninglah paling lantang bernyanyi. Di sela senandungnya, Si Kuning berdoa "Semoga Lily tidak malas membereskan kaus kaki lagi, ya..."


-Selesai-




Thursday, March 1, 2012

FriCtion: FRIday fiCTION

Karena keberhasilan CelebriTues, yang memacu "memaksa" saya menulis setiap Selasa, saya membuat lagi tema tulisan serupa. Judulnya FriCtion, singkatan dari FRIday fiCTION. Seperti kepanjangannya, FriCtion melatih memaksa saya menulis cerita fiksi setiap Jumat. Kebetulan, sudah lama sekali saya tidak menulis fiksi. Saya mau mengasah kemampuan imajinasi saya dalam menulis.

The Logo.

Meskipun section ini berjudul FriCtion, bukan berarti fiksi yang akan saya tulis selalu tentang friksi atau perpecahan. Saya mau coba tema apapun. Dongeng atau fairy tale, boleh (Ini pun kalau saya bisa. Konon membuat dongeng itu sulit). Fiksi fabel (tentang hewan), seru. Fiksi percintaan, oke (tsahhhhh, macam ngerti cinta aja). Fiksi yang berdasarkan kisah nyata, kenapa nggak? (ahahahaha, ini mah curcol terselubung). Fiksi komedi, horor, ahhhh pokoknya apapun yang judulnya fiksi, insyaAllah mau saya coba tulis.

Doakan yaaa saudara-saudara, semoga saya sukses komit dengan FriCtion.



P.s: Berarti, FriCtion perdana akan muncul besok Jumat, 2 Maret 2012 :)