Showing posts with label CelebriTues. Show all posts
Showing posts with label CelebriTues. Show all posts

Tuesday, October 1, 2013

[CelebriTues] Belatung Tomohon



Sekarang Selasa alias Tuesday! Sudah lama tidak ber-CelebriTues. Karena ada yang insist minta numpang nampang, saya terpaksa memperkenalkan dia. Sebenarnya s/he doesn't really make my (tues)day sih. Tapi lumayanlah buat nakut-nakutin tikus. Duh ini ga rela banget sih jadiin dia one of my CelebriTues =))


Namanya Rinto Rompah. Lebih dikenal dengan nickname Maggotsick. Nama penanya #8. Dia bilang, angka 8 identik dengan keseimbangan atau balance. Saya manggil dia sesuka hati saya. Kadang Monyong, Comberan, atau Mejret. Tinggal di Tomohon. Umur 28 tahun dan belum lulus kuliah (doain Desember 2013 dia bisa sidang skripsi lalu lulus ya pemirsah). Entah apa jenis kelaminnya, malam dia berubah jadi Ranti. Yang jelas, dia berkumis dan berjenggot. Walaupun mukanya sangar, dia baik hati dan tidak sombong. Dia juga Anak Mami yang nurut. "Gue nurut sama nyokap demi menyelamatkan telinga gue. Daripada pusing dengar emak gue bawel, mending gue nurutin apa katanya." Karena itulah saya terenyuh dan akhirnya terpaksa menerima tawaran pertemanan dari dia.

Meski kulitnya hitam dan mukanya garang, dia punya suara keren! Serak-serak becek khas dia banget lah. (Tapi anehnya ya, kalau lagi ngomong suaranya kayak banci :-s Mending lo nyanyi aja, ga usah ngomong) Kalau mendengar dia sedang bercinta sama gitarnya, kamu pasti ikut masuk ke dunianya. Silakan main ke akun Soundcloud miliknya. Atau mengintip kenarsisannya di Youtube. Dia juga suka bikin puisi! "Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Puisi gue bisa dijadiin lirik lagu," katanya. Lagu di atas adalah salah satu ciptaan dia.


Berikut ini 3 ekor puisi karyanya. Dia nangis guling-guling minta dimuat di blog ini. Jadi nggak tega saya. Silakan menikmati :) 

JENDELA

Dari balik jendela ku tatap indah dunia 
Meradang memerah berikan tawa
Merona jingga tawarkan asa
Mekar ceria bagai taman bunga
serahkan noktah yang tak akan terlupa
Mungkin tak akan sama dengan apa yang kau rasa

Dari balik jendela ku reguk nikmat dunia
Manis terasa walau terkadang bukanlah suatu hal yang mudah
Bening putih hampa sodorkan canda
Membeku dingin menyumbang sejuta pesona
mengeras membatu dalam jiwa
Memang  tak akan sama dengan apa yang kau rasa

Dari balik jendela ku lepas angan penuh khayal yang tak nyata
Meretas menembus batas ruang waktu dan imajimu 
Menghentikan waktu dan tak lagi maju berlari 
Membunuh realita tanpa menyisakan apapun selain debu 
Ku tahu tak akan pernah sama dengan apa yang kau rasa

Dari balik jendela ku hanya punya nama tanpa raga
Melawan jutaan tubuh nyata manusia 
Menantang arus deras laju kereta waktu 
Mencoba diam hening saat teriakanmu menerpa 
Ku yakin tak akan pernah sama dengan apa yang kau rasa

Dari balik jendela adalah awal dan akhirku
Dari balik jendela hanyalah ada kataku
Dari balik jendela tawa dan air mata adalah hampa yang ternoda
Dari balik jendela adalah langkah yang hentikan waktu 

Dan ku tak pernah mau merasakan hal yang sama dengan apa yang kau rasa...

Tomohon 12 03 2012 01.56 PM 
#8

-----------------------------


RUANG

Gelap itu pekat, ketika cahaya meredup perlahan 
dan dinding kamar berubah hitam 
tak ada warna lain temani kita malam ini 
dan kau pun meraih sebuah lilin
berharap merah adalah terang untuk saat ini

kau tau aku juga menginginkan hal yang sama
tapi sayang, warna itu bukan cuma milik kita.
dan terang adalah milik sang pencipta
cepat atau lambat kita akan menyadarinya 
seperti aku yang menyadari bahwa angan tentang mu adalah semu 
dan hadirmu hanyalah pengantar tidur di kala penat. 

aku pernah berkata cinta bahkan dusta untuk meraihmu 
ataukah harus berkata benci? 
namun gelap itu tetap pekat, dan kau tak beranjak
dan dinding kamar ini semakin menyempit
seakan tak mau memberi waktu dan tak sabar
untuk menghancurkan mimpi dan angan
aku lupa akan warna, bahkan lupa akan terang
ketika kau berkata: tidak bukan aku 

Tomohon 30 09 13 11.40 pm 
#8
---------------------------------

HARAP

Bukan tentang seberapa dalam rasa yang ku simpan
Bukan juga tentang seberapa nyata perasaan yang kau pendam
Bukan tentangmu, bukan juga tentang semua mimpi mu

Tapi adalah bagaimana kau bisa menyampaikannya
Dan nanti ketika saatnya tiba, dengan berbagai resiko
Kau akan diperhadapkan dengan kenyataan
bahwa rasa itu bukanlah untuk di pendam
dan mimpi itu bukanlah sekedar bunga tidur
tapi adalah perjuanganmu ke depan
untuk tak hanya sekedar membayangkannya

kau, kamu, kita... pasti akan gagal jadi kenapa takut?
ketika kegagalan adalah hal yang lumrah
dan kemenangan adalah buah manis yang menanti di baliknya

Tomohon 26-09-13  11.30
#8




Tuesday, September 11, 2012

[CelebriTues] Adhitia Sofyan

Di saat-saat genting banyak deadline kerjaan dan pusing mau mulai yang mana duluan, lagu-lagunya Adhitia Sofyan bikin adem pikiran dan hati deh. Siapa sih dia? Dia musisi independen yang saya 'temuin' di Twitter. Saya lupa siapa yang ngetwit. Pokoknya saya tiba-tiba terdampar di blognya dan mengunduh lagu-lagunya. Gratis? Yes! Adhit mengizinkan penikmat musiknya untuk mengunduh karya-karyanya secara cuma-cuma. Terima kasih Adhit!

Ternyata, sebelumnya saya pernah mendengar lagu "Memilihmu" di radio. Jauh sebelum itu, ternyata saya juga pernah mendengar suara bening Adhit di salah satu Ost. Kambing Jantan, yaitu lagu "Adelaide Sky", which is my favourite song! Petikan gitar dan suara Adhit benar-benar bikin hati lumer. Anyway, lagu-lagunya yang lain juga maknyus!

Bagi yang belum kenalan sama Adhit, silakan nonton klip berikut. Semoga suka. Enjoy!






Tuesday, June 5, 2012

[CelebriTues] Fatimah Noer: A Truly Good Muslimah



Perkenalkan salah satu sahabat terbaik saya, Fatimah Noer. Saya biasa memanggilnya Ima. Kami bersahabat sejak kuliah. Alhamdulillah, kami sempat melanjutkan kuliah bersama. Jadi, kami bersama selama kurang lebih 6 tahun. Sama-sama berzodiak Leo, membuat kami hampir sepikiran dan sama-sama ekstrovert. Dulu, saya sering menginap di rumahnya. Mengerjakan tugas kuliah ataupun sekadar mengobrol semalaman. Ibu dan Ayah Ima pun sudah seperti tante dan om sendiri.

Perbedaan yang paling mencolok adalah Ima anak baik, sedangkan saya anak bandel. Karena Imalah sampai sekarang saya anti mencontek. Padahal, sejak SMA, saya jagonya mencontek, terutama pelajaran sejarah. Kalau ujian, saya santai banget naro buku di paha dan tidak pernah ketahuan guru. Parah! Eh tapi, saya paling gengsi lhooo mencontek untuk pelajaran kesayangan, Matematika. Nah, waktu semester awal di FISIP, semua jurusan wajib mengikuti matakuliah Pengantar Ilmu Antropologi (PIA). Isi kuliahnya hapalan mati. Saya yang benci banget sama hapalan mati, sudah pasti mati gaya kalau kuis atau ujian.

Di suatu hari yang cerah, diumumkanlah kuis dadakan PIA. Saya tenang, buku catatan di tangan. Baru saja mau ngintip catatan, Ima yang duduk di sebelah saya bilang "Kok mencontek? Allah Maha Melihat lho...." JLEB! Entah kenapa ya, ucapan Ima itu bikin saya malu hati. Mungkin karena Ima bilang dari hati, jadi sampai ke hati juga. Saya sama sekali tidak menangkap nada sok menggurui atau sok alim dari ucapan Ima. Sejak saat itulah saya tidak pernah lagi mencontek. Hasilnya? Nilai tes kecil, UTS, dan UAS matakuliah macam PIA dan Pengantar Ilmu Sosiologi selalu di bawah 5. Paling banter 6. Hahahahaha. Sampai sekarang, alhamdulillah saya tidak pernah mencontek, apapun bentuknya itu.

Tak cuma itu. Menurut saya, Ima memang sosok muslimah yang sesungguhnya. Dari perilakunya sehari-hari dia berusaha menjalankan apa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Tutur katanya lemah lembut dan sopan, selalu senyum, ramah, dan sering membantu orang. Dia juga disiplin waktu, baik saat janji bertemu orang, masuk kuliah, ataupun mengumpulkan tugas kuliah. Beda banget dengan saya yang ceplas-ceplos, (terkesan) kasar kalau ngomong sama orang, dan sering telat masuk kuliah atau janjian. "Muslimah yang baik pasti disiplin waktu, My," kalimat lain Ima yang menohok. Prestasi akademik Ima pun baik. Catatan Ima sering dipinjam teman-teman dan Ima juga sering memberikan tutorial kuliah.  Bagi Ima, mensyi'arkan Islam itu tidak perlu koar-koar ceramah. Tapi dimulai dari diri sendiri dan dari hal kecil: menjadi sosok muslim yang berakhlak baik.

Waktu berlalu, dan kami menjalankan hidup masing-masing. Lulus dari MM Kom tahun 2008, Ima sudah menikah. Sedangkan saya sibuk di majalah. Ya, sejak saat itu kami hanya bertukar kabar via sms dan telepon. Alhamdulillah saya bisa menengok saat Ima lahiran anak pertama dan melayat saat Ibu meninggal. Setahun belakangan, kami lumayan sering bertemu di tempat kerja. Saya dan Ima mengajar di universitas yang sama. Ternyata Ima masih seperti dulu, baikkkkk hati. Walaupun melihat sahabatnya mengenakan pakaian yang tidak syar'i (ketat, dada dan fantat kemana-mana), dia tidak lantas memicingkan sebelah mata, berburuk sangka, atau memusuhi saya. Seperti biasa, dari hatinya, dia menasihati dan mendoakan saya.

Seperti kata Hanum Salsabiela Rais di bukunya 99 Cahaya di Langit Eropa, tentang sahabat-sahabat barunya yang menjadi contoh sosok muslim baik: "Bagiku, orang-orang seperti ini tadinya too good to be true, tapi aku berani berkata: they are really true." Begitu pula Ima. She is truly good muslimah. And she's my best friend. I'm proud of her.



P.s.: Satu hal yang dulu tidak sempat kami lakukan: travelling bareng. Dulu, Ima tidak bisa pergi lama-lama karena menjaga Ibu yang sakit. Sekarang, dengan dua anak, tidak mudah pula buat Ima pergi seenaknya. Semoga nanti kita bisa travelling bawa keluarga masing-masing ya Ma... Doain sahabatnya yaa.





Tuesday, March 20, 2012

[CelebriTues] Ika Karlina Idris

Tahun 2006, kami bertemu di kelas A MM Kom UI.


Kuliah biasa mulai pukul 19:00. Tapi perempuan ini sering datang saat kuliah telah berjalan. Dengan terburu-buru, ia masuk kelas dan langsung duduk di deretan depan. Wajar, selain kuliah, dia juga bekerja sebagai wartawan di salah satu harian nasional. Kalau telat begitu, pasti dia baru saja meliput berita. Namun, bukan berarti dia tidak fokus dengan materi yang diterangkan dosen. Dia bahkan bisa dibilang kritis. Kenalkan, namanya Ika Karlina Idris. Saya biasa memanggilnya Ikot.

Ikot senang sekali diskusi. Semua penjelasan dosen yang kurang sreg di hati pasti akan dia diskusikan. Gaya bicara yang tegas dan cepat  adalah ciri khas Ikot yang mencerminkan kekritisannya. Belum lagi, diskusi bahan berita yang tak kalah rumit. Waktu itu, seingat saya, Ikot bertanggung jawab di desk ekonomi. Kalau Ikot mengajak diskusi tentang ekonomi, saya biasanya menghilang diam-diam karena tidak terlalu menguasai. Ahahahaha. 

Eits, jangan salah. Meski sering bicara berapi-api, perempuan kelahiran 24 Juli ini sangat menyukai puisi. Dia juga piawai menulis sajak-sajak indah. Kata Ikot, "Puisi itu bukan picisan!" Coba deh main-main ke blognya. Tapi, sayang belakangan Ikot tidak sempat meng-update blognya.

Ah saya ingat, dulu ia gemar sekali membeli sepatu! Setiap beli sepatu baru, dia pasti menunjukkannya pada saya. Entahlah sampai sekarang dia masih begitu atau tidak. Oiya, ada satu kedai kopi favorit yang Ikot perkenalkan pada saya. Tapi sayang, kedai itu sekarang sudah tidak ada lagi. Namanya Au Lait, di Cikini. Dia beberapa kali mentraktir saya. Kami ngobrol dan belajar bersama. Tentu saja, Ikot penggemar kopi!

Ketahuan kan CherryBelle nyontek gaya siapa?
Foto ini diambil tahun 2006 lho :)
Kesempatan Mengajar
Ikot adalah orang yang berjasa dalam kegiatan lecturing saya. Dialah yang memberi kesempatan dan mempercayai saya untuk mengajar di universitas tempatnya bekerja. Hingga akhirnya saya menemukan passion sebagai pengajar. Walaupun dia berkali-kali bilang saya lebay, saya tetap akan selalu berterima kasih. Thank you so much Kot! Semoga Allah membalas kebaikan lo dengan kebaikan yang berlipat-lipat. Amin

Sekarang Ikot masih mengajar di Universitas Paramadina Jakarta. Dia juga menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Ilmu Komunikasi. Saya belum pernah menghadiri kelasnya, namun beberapa mahasiswa bilang Ikot dosen yang asyik dan up to date. Walaupun, ada beberapa yang bilang Ikot galak. Aahahaha. "Bukannya galak, Em. Tapi mau nggak mau kita harus nunjukkin kredibilitas. Jadi, mahasiswa tidak seenaknya," begitu pesan Ikot.




Tuesday, March 13, 2012

[CelebriTues] Ibu Aman Purba: "Siapa Kau Dan Siapa Saya?!"


CelebriTues kali ini bahas salah seorang guru SMA saya. Galak tapi bikin mikir.

Namanya Ibu Aman Purba. Beliau guru sejarah waktu saya kelas 1 SMA. Saya tidak tahu berapa pasti berapa usianya waktu itu (1998). Namun dari fisiknya, saya mengira beliau sudah late 40's. Entahlah sekarang beliau masih sehat dan masih mengajar atau tidak.

Dari namanya, kamu tentu sudah tahu beliau berasal dari mana. Ya, beliau dari Sumatera Utara atau Batak. Seperti stereotype yang sudah terbentuk, orang Batak diidentikkan orang yang keras dan galak. Begitu juga dia. Garis wajah dan suaranya yang lantang menambah "keangkeran" itu.

Gaya mengajar beliau menurut saya kuno. Kenapa saya bilang begitu? Karena beliau sangat text book. Saat mengajar, beliau sambil membaca buku yang kami punya. Kenapa harus dibaca ulang? Kami kan bisa membaca sendiri di rumah. Tapi saya yakin, setiap metode mengajar pasti ada keunggulan dan kekurangannya. Mungkin, dengan membaca bersama begitu, kami jadi ingat.

Kalau sedang membaca bersama begitu, sudah tentu kami tidak boleh ngobrol atau berisik. Karena, kami harus siap dipanggil untuk giliran membaca. Kalau lengah dan tidak bisa melanjutkan bacaan, siap-siap kena omelan Ibu Purba. Hihihi. Saya alhamdulillah belum pernah apes.

Ujian selalu hapalan mati dan dengan jawaban singkat (misalnya: nama tokoh, nama tempat, tahun, dan lain-lain). Saya sih kurang suka model ujian begitu, karena terlalu "sempit". Hihihihi, dasar saya protes saja. Dan yang bikin tambah "sempit" adalah soal yang didikte. Jadi, kami tidak bisa menunda menjawab. Anyway, ulangan sejarah saya nggak pernah bagus. Paling bagus 7.

Dari kekurangan yang dia miliki, ada satu kalimat yang selalu dia ulang-ulang tapi bikin saya mikir. Setiap marah karena kami berisik atau bandel (kelas 1-15 memang terkenal berisik dan sering bikin ngambek guru), dia selalu mengeluarkan kalimat sakti: "Kalian boleh bersikap masa bodoh seperti sekarang. Tapi kita lihat 10 tahun nanti. Siapa kau dan siapa saya?! Kalau 10 tahun nanti kalian jadi orang sukses, kalian boleh sombong. Tapi belum tentu kan?". Saya merinding mendengarkan kalimat itu dan berpikir apa yang akan terjadi pada saya 10 tahun nanti ya? Saya akan menjadi apa?

Siapa saya setelah 10 tahun? 10 tahun dari kelas 1 SMA, berarti tahun 2008, alhamdulillah saya sudah bisa sharing pengalaman lewat reportase dan tulisan. Tahun 2008 hingga 2010 saya jadi jurnalis di sebuah majalah. Tahun 2010 hingga sekarang, selain masih menulis sebagai freelancer, saya juga sharing ilmu lewat lecturing. Alhamdulillah saya bisa bermanfaat untuk orang lain. Amin.



Terima kasih untuk Ibu Purba yang sudah bikin saya mikir!

P.s: Sayang, saya tidak punya foto beliau. Hmmm, mungkin ada di buku tahunan. Nanti deh saya coba cari dan scan.




Tuesday, March 6, 2012

[CelebriTues] Little Angels Ben (Ken) Kei & Their Great Parent

Ben (kiri) Kei (kanan), minus (alm) Ken.
 Pic taken on Feb 20th 2012.

Mari berkenalan dengan malaikat-malaikat kecil lucu bernama Ben, (alm) Ken, dan Kei :) Kebetulan mereka baru saja ulang bulan yang ke-10, 4 Maret 2012 kemarin. Btw, mereka cucu saya lohhh :p

With Inta, my niece.
(masih SD, lupa kelas berapa)
Ya, benar. Saya sudah menjadi seorang nenek. Bukan nenek langsung sih. Jadi, Mama dan Mak Uwo sepupuan, jarak usianya pun lumayan jauh (20 tahun-an). Nah, Niar (putri pertama Mak Uwo, berarti kakak sepupu saya) punya putri pertama bernama Shintami. Inta, begitu biasa saya panggil, berarti keponakan saya kan? (semoga nggak bingung yaaa :p).

Walaupun jatuhnya keponakan, jarak usia saya dan Inta nggak begitu jauh, hanya 2 tahun. Makanya, Inta cukup memanggil saya Kakak. Dulu, bisa dibilang, kami teman sepermainan. Tanggal 4 Mei 2011, Inta melahirkan putra-putri kembar 3. Jadilah saya nenek. Supaya tidak ketahuan "tua", saya mengganti panggilan menjadi Ucimy. "Uci" adalah panggilan nenek dari daerah Bukittinggi. Sedangkan "My" adalah bagian dari nama saya. Cute yah panggilannya :p

Abyan (Ben), Kenzie (Ken), dan Keira (Kei) lahir prematur di usia kandungan 29 minggu. Inta dan Ulil (suami) beruntung punya anak kembar 3 sekaligus, beda kelamin pula. Ben dan Ken berjenis kelamin cowok, Kei Si Princess. Ben dan Ken satu ari-ari, sedangkan Kei terpisah.

Keluarga besar kaget waktu Inta memberitahu kami dia bukan mengandung bayi kembar 2, tapi 3. Subhanallah. Bukan kami saja yang kaget, hampir semua orang di RSCM (tempat mereka lahir), takjub ketika kami beritahu bayi yang lahir adalah kembar 3. Karena, kembar lazimnya berjumlah genap. Saya adalah salah satu saksi kelahiran mereka dan ikut sedikit membantu mengurus ini itu. "Apa? Tiga? Yang benar? Laki atau perempuan?" begitu kata petugas lab ketika saya membeli peralatan untuk tes infeksi BenKenKei.

3 Rumah Sakit!
Proses kelahiran mereka pun cukup bikin deg-degan. Entah kenapa, hari itu saya punya feeling tidak enak dan memutuskan tidak kemana-mana. Eh, benar saja. Saya baca di Twitter, Inta merasakan air ketuban dan sedikit panik karena di rumah sedang tidak ada orang. Setelah saya tanya lagi, alhamdulillah ada orang yang bisa menemaninya ke rumah sakit. 

Kebetulan Papa dan Mama sedang ada di rumah. Ya sudah, meluncurlah segera kami ke RS Hermina Grand Wisata, Bekasi, tempat Inta merencanakan kelahiran Si Triplet. Kami mendapatkan kabar tidak enak dan sangat tidak manusiawi. Inta dan suami harus bisa menyediakan biaya operasi dan perawatan Rp300 juta, dan HARUS CASH disediakan dalam waktu 1 x 24 jam. What? Inta dan Ulil belum siap dengan jumlah itu. Memang mereka sudah tahu kemungkinan caesar, tapi tidak dengan jumlah biaya sebesar dan dalam waktu sesingkat itu. Benar-benar keterlaluan!

Syukurlah Ulil punya kerabat di RSPAD Gatot Soebroto. Rumah sakit pemerintah pasti lebih manusiawi kan? Akhirnya Inta diboyong ke sana dengan ambulan. Dia sudah mengalami pembukaan dan mulas-mulas. Ehhh, sampai di sana, mereka mengaku tidak siap membantu kelahiran Si Triplet. Ada alat yang kurang. Dirujuklah Inta ke RSCM. Kasihan kan Inta, dengan kondisi seperti itu, harus dipindah-pindah ke tiga rumah sakit.

Alhamdulillah RSCM tidak mempersulit kedatangan kami. Inta langsung ditangani, sementara kami semua mengurus administrasinya. Ya memang sih, detail kebutuhan harus diurus sendiri oleh pasien. Jadi, kami harus bolak-balik dari satu ruangan ke ruangan. Lumayan juga loh harus mengelilingi RSCM. Tapi semua demi BenKenKei....

Usia 7 hari, mereka masih mungil.
Atas: (kiri) Si Cantik Kei, (kanan) Si Mata Besar Ben.
Bawah: (kanan) Alm. Ken dan "rumah terakhir" (kiri).


Kalau tidak salah, sekitar pukul 10 malam-an, BenKenKei lahir dengan selamat. Inta juga dalam kondisi baik. Menurut keterangan salah satu suster, yang diangkat terlebih dulu Kei, kemudian Ken, lalu Ben. Tapi namanya juga kembar, tidak ada urutan mana kakak dan mana adik. Tubuh mereka mungiiillll, beratnya sekitar 1 Kg-an. Sumpah, mereka seperti puppies. Hihihi. Niar, nenek kandung mereka, hanya berani lihat-lihat dari jauh. 

Karena lahir prematur, mereka harus dirawat intensif di ruangan Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Alhamdulillah, kondisi mereka (terutama Ben dan Kei) semakin kuat dan sehat. Ben pulang duluan, menyusul Kei. Namun tidak begitu pada Ken. Kondisinya memburuk, beberapa infeksi semakin parah. Inta dan Ulil akhirnya "menyerah" pada takdir Allah SWT. Tanggal 10 Juli 2011, Ken meninggal dunia. Mereka sendiri yang menggendong tubuh mungil dan kaku itu untuk disemayamkan di rumah. Ah, pasti kamu sudah tenang di surga sana ya Ken....

Ciyeee kompak niyeee, Ben dan Kei...
(Mereka sudah 10 bulan, 4 Maret 2012 kemarin).

Great Parent
Mengurus bayi prematur memang butuh perhatian ekstra. Saya salut dengan Inta dan Ulil. Meskipun masih tergolong muda, mereka berdua menurut saya sudah sangat siap menjadi orang tua. Inta dan Ulil mandiri mengurus kembarnya, tentu dibantu orang-orang terdekat. Saya saja terkaget-kaget melihat Inta tanpa kagok menggendong, menyusui, memandikan, mengganti popok, bahkan mencuci sendiri botol-botol susu Si Kembar. Ulil? Jangan ditanya. Kelak kalau sudah besar, mereka harus tahu ayahnya sangat hebat. Salah satu buktinya: tanpa jijik, Ulil mencuci ari-ari putra-putrinya. Saya dan Mama yang waktu itu menemaninya saja tidak berani melihat. I'm proud of you, guys!

Tak hanya itu, Inta dan Ulil harus menghadapi beberapa pihak (bahkan dari keluarga sendiri) yang sedikit tidak setuju dengan cara pengasuhan mereka. Sekali lagi, karena lahir prematur, Ben dan Kei rentan terkena infeksi. Jadi, semuanya mesti higienis. Kalau ingin menggendong mereka, ya harus cuci tangan dengan sabun antiseptic dulu. Saya sangat mengerti, karena perjuangan yang mereka lewati demi buah hatinya tidak mudah. Apa susahnya sih, kita (sebagai pihak luar) mengikuti aturan mereka? Apalagi demi kesehatan Si Kembar.

Lucu yaaa... Inta kayak gendong boneka hidup. Haha.

 

Sekarang, Ben dan Kei alhamdulillah tumbuh normal dan sehat, sama seperti bayi seusia mereka. Badan Bei berisi dan menggemaskan. Kei, walaupun sedikit mungil, tapi dia aktif. Malahan, katanya Kei agak "rakus" kalau lagi maem. Ahahahaha. Kata Inta, mereka mulai saling mengikuti tingkah kembarannya. Kalau Ben sedang lompat-lompat (sambil dipegangi pengasuh), Kei pasti ikut-ikutan. Oiya, mereka sudah bisa rebutan mainan segala! 

Cepat besar dan sehat selalu ya cucu-cucuku. Kalau sudah besaran, Ucimy gendong dua-duanya. Kalau sekarang masih takut:p



Tuesday, February 28, 2012

[CelebriTues] My AK-12 Family

Keluarga AK-12, minus Adik Shifa (yang belum lahir, saat foto ini diambil)

Saya beruntung punya kakak sepupu yang perhatian dan baiiik banget. Salah satunya Ida Purnama atau biasa saya panggil Nida. Dia putri bungsu Mak Uwo (kakak sepupunya Mama). Usia kami terpaut 10 tahun, tapi kami akrab sejak saya kecil. Saya, Unina, Nidian dan Nilia (anak Mak Etek, abangnya Mama), serta Shinta (putri sulung Niar, kakak pertama Nida) sejak SD langganan menginap di base camp: rumah Mak Uwo di Kalibata dan Tebet. Biasanya kami ngumpul saat libur lebaran atau libur kenaikan kelas. Perempuan penyuka warna kuning dan penikmat bakso ini nggak malu jadi induk semang adik-adik sepupu yang selalu mupeng ditraktir.

Tak terhitung traktiran Nida buat kami. Sebut semua makanan di Jakarta, kami sudah pernah coba. Mulai dari Bakso Titoti (ada yang tau?), Bakmi GM, Bakmi Bloon, Ayam Bakar Blok M, berbagai fast food, dan lain-lain. Yang paling sering sudah pasti McD, karena Nida sempat bekerja di situ. Kalau main ke rumah Makuwo, kami pasti nodong voucher dan mainan Happy Meal. Senang!

Selain jalan-jalan ke Ancol dan Dufan, kami juga sering ke Bandung. Saya salut, Si Aries (ulang tahunnya sama kayak Krisdayanti, 24 Maret. Penting banget dibahas. Ahahaha) ini dengan senang hati "menggembalakan" adik-adik sepupunya yang rempong. Mungkin karena pada dasarnya Nida suka sama anak kecil. Pssttt, dulu saya juga sempat diajak ke Ebony, diskotik yang hits banget di Catatan Si Boy, padahal waktu itu saya masih 2 SMP :p

Saat Nida mau nikah, saya sempat bertanya-tanya, kira-kira suaminya seru nggak ya? Atau jangan-jangan, setelah menikah dia jadi jauh sama saya. Alhamdulillah, kekhawatiran saya tidak terjadi. Nida beruntung bersuamikan Abang Andi, karena doi orangnya ramah, bisa berbaur dengan orang baru, dan suka jalan juga! Meski sedikit pendiam, Bang Andi nyambung diajak ngobrol. Tidak butuh waktu terlalu lama buat saya akrab dengannya.

New Base Camp: AK-12
Sejak menikah dan pindah ke rumahnya sendiri di Depok, saya masih sering menginap dan ditraktir. Menginap di AK-12 surga banget. Ada satu kamar kosong yang nyaman dan bebas saya tempati. Dannnn selalu saja banyak makanan :9 Kalau saya lagi di kamar, Nida atau Abang pasti manggil saya nawarin makanan. Mereka tahu banget, adik sepupunya semacam gentong air. Ahahahaha. "Udah My, nggak usah malu-malu. Habisin aja pizzanya, daripada nanti pagi nyesel Bang Andi lahap," kata Si ABang yang hobi ngemil juga. Belum lagi, berbagai cemilan Kakak (Anandia Muthia Azra, putri sulung mereka) yang tak kalah menggoda. Pokoknya, pulang dari sana saya tambah gembul!

Selain itu, kalau ke sana, saya sering dapat nodong barang lungsuran. Mulai dari baju, dompet, tas, sendal, sepatu, jam, ahhhh banyak deh. Ya, Nida emang generous banget. Dia punya prinsip, "Kalau beli barang baru, saatnya 'mengeluarkan' barang lama dari lemari." Oiya, Nida tuh hobi banget jalan dan sering banget punya rencana dadakan, yang tentu tak jarang mengajak saya. Hehehe.

Bukan sekadar tempat hura-hura, rumah AK-12 jadi salah satu bangunan berjasa dalam penyelesaian skripsi saya. Desperate karena skripsi tak kunjung rampung, saya melarikan diri ke AK-12. Selain lingkungannya yang asri, kebetulan lokasi AK-12 dekat dengan kampus dan rumah pembimbing saya. Alhamdulillah Abang Andi dan Nida mengizinkan saya mondok di rumah mereka selama sebulan lebih. Kakak Muthia juga mendukung tantenya banget. Dia pengertian tidak mengajak main saat melihat saya lagi sibuk mengetik. "Tante emy lagi belajar ya?" begitu tanya Muthia kecil mengintip saya di kamar. Saya tentu tidak menyia-nyiakan kebaikan mereka. Meski harus nangis darah plus bergadang, skripsi saya selesai tepat waktu dan mendapat nilai A!

Dukungan mereka terhadap perkuliahan saya tidak hanya sampai di situ. Waktu saya memutuskan kuliah lagi, Abang dan Nida mendukung saya secara moral dan material. Ahhhhhhhhh, nggak terhitung deh kebaikan mereka. Saya cuma bisa bilang terima kasih dan semoga Allah SWT membalas kebaikan mereka sekeluarga. Semoga saya diberi kesempatan untuk membalas kebaikan mereka. Amin.


P.s (1): Sejak 1 Februari 2010, penghuni AK-12 bertambah satu: putri kedua mereka bernama Anandia Mushifa Azizah.

P.s (2): Sudah lama nggak ke AK-12. Weekeend ini main ah, siapa tahu ada barang lungsuran :p Ahahhaha.

Tuesday, February 21, 2012

[CelebriTues] Harunya Cinta Pepeng - Tami

Ritual minum teh setiap sore.
(Foto: Dok. Majalah Sekar, Sendie Nurseptara S.)

Pada kenal Pepeng kan? Itu loh komedian yang dulu terkenal dengan kuis Jari-jari dan grup Sersan Prambors. Pria bernama lengkap Ferrasta Soebardi ini, beberapa tahun lalu, didiagnosis menderita Multiple Sclerosis (MS), penyakit otoimun yang kumatan. Karena penyakit itulah sekarang Pepeng harus "bersahabat" dengan tempat tidurnya.

Apakah MS lantas membuat Pepeng mandek berkreativitas? Tentu tidak. Pepeng sempat menyelesaikan studi S2-nya. Hingga kini, Pepeng juga tak berhenti berkarya dan memberi semangat kepada orang lain dengan gaya khas guyonnya. Cobalah sekali tengok akun Facebook atau Twitternya. Kamu pasti tersenyum dibuatnya.

Di balik ketegaran itu, ada seorang istri yang setia menemaninya. Perempuan itu bernama Tami Ferrasta. Tahun 2009, saya berkesempatan silahturahim ke rumah mereka dan berbincang dengan perempuan hebat ini. Harusnya sih sekalian ngobrol sama Pepeng, tapi waktu itu kondisi beliau sedang tidak fit. Mungkin lain waktu.

Tami menceritakan awal mula mereka menghadapi MS. Saat itu, Tami sempat bingung bagaimana ia harus menyekolahkan keempat putra mereka, sedangkan Pepeng sakit dan tidak bisa bekerja seperti biasa. "Kenapa kamu bingung? Kita punya Allah," Tami menirukan jawaban Pepeng. Kalimat optimis itulah yang membuat Tami akhirnya berani mengahadapi semuanya. Tami bilang, mereka sering kedatangan rezeki yang terduga-duga. "Alhamdulillah, begitu banyak kerabat yang baik," ucap Tami penuh syukur.


Rutinitas Mas Peng dan Mba Tami di "Gua Ajaib" mereka.
(Foto: Dok. Majalah Sekar, Sendie Nurseptara S.)

Ia juga menceritakan "Gua Ajaib", tempat mereka berdua menghabiskan hari. "Gua Ajaib" itu adalah kamar mereka. Kenapa ajaib? "Bayangkan, hampir bertahun-tahun kegiatan kami berdua dihabiskan di dalam kamar. Tapi kami membuat itu semua menjadi tidak membosankan. Orang bilang, kamar kami seperti lorong waktu. Kalau mendengar Peng berbicara dan bercerita, kami suka lupa kalau dia sedang sakit," kata Tami. (Sayang sekali waktu itu saya belum "beruntung" main ke "Gua Ajaib" itu.) Salah satu ritual mereka di Gua  Ajaib adalah menyeruput teh di sore hari. Ah, manisnya...

Menemani pasangan yang sedang sakit tentu bukan perkara mudah. Tapi Tami berhasil menjalaninya. Meski bukan seorang perawat profesional, mau tak mau, Tami terlatih mengurus luka Pepeng akibat terlalu lama berbaring. Dengan kasih sayang dan bantuan Allah, Tami luwes membersihkan luka Pepeng yang tidak kecil itu.

Satu quote Pepeng yang Tami bagi kepada saya dan membuat semangat hingga sekarang adalah, "Saya paling pantang mati sebelum ajal!" Luar biasa.

Semoga Allah memberi kesehatan untuk Mas Pepeng dan Mbak Tami ya... Sehingga bisa terus menginspirasi kami. Amin.


Akhirnya bisa foto bareng mereka :)
Di resepsi pernikahan fotografer Sekar, yang merupakan
keponakan Pepeng.



P.s: Silakan baca obrolan lengkap saya dan Tami di sini.




Tuesday, February 14, 2012

[CelebriTues] Incredible Adele

She deserves those 6 Grammys!
(www.gettyimages.com)

Emang paling pas CelebriTues kali ini bahas Adele. Selain saya memang nge-fans, Adele baru saja menyabet 6 piala Grammy Awards 2012 untuk semua kategori dimana dia dinominasikan! Salut!

Saya pertama kali 'berkenalan' dengan artis Inggris bernama lengkap Adele Laurie Blue Adkins ini lewat www.jango.com. Lagu pertama yang saya dengar adalah Chasing Pavements. Langsung jatuh cinta sama suaranya yang khas dan powerful! Juga nada dan musiknya yang easy listening. Dann, tentu dengan liriknya yang bikin galau. Hihihi. Yak, saya langsung browsing lagu-lagunya dia deh dan  tambah suka sama Adele!

Perempuan kelahiran 5 Mei 1988 (masih muda!) ini, menurut saya, punya inner beauty yang 'kencang'. Walaupun tubuhnya agak besar, tapi di mata saya dia terlihat cantik! Mungkin, memang dasarnya cantik. Pokoknya suka lihat dia :)

(wikipedia.org)
Adele menamai album sesuai dengan usianya ketika menggarap album tersebut. Kedua albumnya, 19 (2008) dan 21 (2011) sukses di pasaran. Malahan, album terakhir tercatat di Guinness World Records, karena menembus angka penjualan 3 juta keping dalam setahun!

Lagu-lagu di album Adele, hampir sebagian besar berisi pengalaman pahit relationships-nya. Mungkin inilah yang bikin lagu-lagunya disukai, karena klik sama pengalaman kegalauan perempuan pada umumnya.

Yang paling gong tentu "Someone Like You" dan "Rolling in The Deep". Lagu-lagu lainnya menurut saya tak kalah ciamik. Di album 19, selain "Chasing Pavements", saya suka 'kecentilan' dan 'kejailan' "First Love", syahdunya "Hometown Glory", santainya "Day Dreamers", dan serunya "My Same". Di album 21, saya juga suka "Turning Tables", "Don't You Remember", "Rumor Has It", "Set Fire To The Rain", pokoknya semua lagu saya suka! Ada beberapa lagu yang di-remake dan jadi lebih oke dinyanyikan Adele, seperti "Lovesong"-nya The Cure, "Make You Feel My Love"-nya Bob Dylan. Oiya, single remake berjudul "That's It, I Quit, I'm Moving On" (sebelumnya dinyanyikan oleh Sam Cooke) juga lucu!

Bicara soal penghargaan, sejak awal kemunculannya Adele sudah mencuri perhatian. Buktinya, dia menerima Grammy Awards 2009, sebagai artis pendatangan baru terbaik. Di ajang yang sama, tahun ini, tak tanggung-tanggung Adele memborong 6 piala! Ia unggul di semua kategori di mana namanya dinominasikan. Keenam penghargaan itu adalah*:
  • Record Of The Year, "Rolling In The Deep"
  • Album of The Year, 21.
  • Song Of The Year, "Rolling In The Deep".
  • Best Pop Solo Performance, "Someone Like You".
  • Best Pop Vocal Album, 21.
  • Best Short Form Music Video, "Rolling In The Deep".

Hebat ya? Semoga prestasi Adele tetap konsisten atau justru meningkat. Semoga dia tetap jadi sosok yang sederhana, rendah hati, dan dekat dengan penggemarnya. Dan semoga kariernya tidak terganggu oleh masalah pribadi atau (amit-amit) tersandung kasus klasik narkoba. Jangan sampai yaaa Dik Adele! (knock knock on the wood).

Dari video penampilan live atau konsernya, bisa dibilang Adele memang entertainer sejati. Dia komunikatif, humoris, dannn (yang paling penting) suaranya sangat prima persis di dapur rekaman. Coba intip cuplikan konsernya beberapa waktu lalu di Royal Albert Hall, London. Saya sampai merinding dengar suaranya dan suara penonton yang kompak menyanyikan lagu "Someone Like You". Pokoknya, kalau Adele ke Indonesia, saya akan bela-belain nonton konsernya, harus!





Adele's stuff
Official site  : www.adele.tv
Facebook   : www.facebook.com/adele
Twitter       : @OfficialAdele







Related Post:
My Life According to Adele

Tuesday, February 7, 2012

[CelebriTues] Umar: Lovely Nephew of Mine

Mainan pintu...

Hello, masih hari selasa kan sekarang? Berarti masih cocok CelebriTues-an dong. Hehe. Kali ini, saya mau ngenalin keponakan saya satu-satunya.

Dari dulu kami selalu berempat; Papa, Mama, Unina, dan saya. Papa satu-satunya cowok di keluarga kami. Lalu, mau tak mau saya harus beradaptasi dengan kehadiran sosok cowok lain, yaitu abang ipar. Mulai berasa di rumah ada cowoknya. Tambah berasa lagi saat keponakan laki-laki saya lahir 8 April 2009.

Sejak di kandungan dan sudah tahu pasti jenis kelamin calon bayinya, Unina sudah ngasih nama. Kami memanggilnya Umar. Unina suka nama itu karena merupakan nama salah satu sahabat Rasulullah, yaitu Umar Bin Khatab. Unina pengin putranya pemberani seperti Umar Bin Khatab.

Lahir dengan berat tak sampai 3 kg dan tinggi normal (lupa detailnya), Umar bikin rumah jadi hidup dan ramai. Papa dan Mama senangnya bukan main. Walaupun Mama pernah bilang nggak mau repot urus cucu, eh ternyata pas Umar lahir si Mama yang paling repot. Papa? Lebih ekstrem. Saking sayangnya sama Umar, kadang Unina diomelin kalau Papa dengar Umar nangis. Saya juga senang, karena kebetulan memang suka anak kecil.

Hampir tiga tahun, kami merasa waktu berlalu begitu cepat. Umar sekarang sudah bisa lari, main sepeda, main bola, ngoceh, lompat-lompat, dan lain-lain. Kami sering merasa Umar datang ke rumah kami ini sudah langsung besar. "Siapa sih anak kecil ini, tiba-tiba hadir di rumah? Main parkir sepeda dan mobilan di kamar," kata Papa sambil tersenyum. Mama dan Papa bilang dulu waktu kami kecil rumah nggak pernah seberantakan begini. Sekarang? Seorang Umar bisa bikin rumah kayak kapal pecah.  Mobil-mobilan yang bisa dinaikin ada 2, sepeda 2, mobil-mobilan kecil nggak kehitung, bola 2, dan mainan lainnya. Tapiii, kondisi ini yang ngangenin. Kami sering tersenyum melihat sepatu dan sendal kecil yang berjejer di anak tangga rumah kami.

Di usianya sekarang, alhamdulillah Umar tumbuh sehat dan pintar. Siang hari Umar nggak pakai diaper lagi. Setiap mau pipis, dia pasti bilang. Pup juga begitu. Umar sudah bisa berhitung sampai 15. Dia tahu nama lengkapnya. Dia ingin dipanggil Abang, karena anak-anak kecil di kompleks yang usianya lebih muda memanggil dia Abang. Umar hapal nama keluarga inti, termasuk manggil saya "Ante". Dia juga bisa bernyanyi Topi Saya Bundar dan Cicak Di Dinding. Sudah bisa bilang "tolong", "terima kasih", "assalamualaikum", "waalaikumsalam", dan percakapan singkat lainnya. Pintar! Saking pintarnya, pernah dia nggak mau tidur siang, lalu saya tanya, "Kenapa nggak bobo?". Dia jawab dengan cuek, "Males". Nahlo? Ngikutin siapa tuh ngomong begitu? Ahahahaha. Lain waktu, saya nanya kemana mainannya. Dia jawab "Nggak tauuuuu". Kali ini saya yakin dia mencontoh saya karena sering jawab begitu kalau Papa nanya sesuatu. Umar lagi senang nanya "Apai?" ke semua penghuni rumah. Maksud dia nanya kami lagi ngapain.

Ayo photo box! :)
Papa, Unina (Umar's Mom), Umar, and Me.


Makan gampang banget, asalkannnnnnn pakai telur dadar dan sambel. Mungkin karena darah Padang, dia senang sambal tomat bikinan Neneknya. Walaupun baru cocol sedikit sudah keringatan dan minta minum. Mandi juga gampang. Nggak kayak tantenya, Umar hobi mandi. Kadang kalau gerah, siang hari bolong dia minta mandi. Atau nggak pas pulang bepergian, walaupun sudah larut, dia pasti minta mandi.

Sekarang, dia hobi main bola. Agak seram sih lihat dia main bola. Tendangannya cukup keras dan terarah. Cangkir si Atuk nyaris pecah. Televisi, pajangan Enek (baca: Nenek), dan badan kami sering jadi korban. Kalau Abinya mau pergi kerja, dia selalu minta main bola. Begitu juga pas pulang, selalu ditodong main bola. Dvd favoritnya, Upin-Ipin, The Cars, Toys Story, dan Shaun The Sheep. Oiya, sekarang dia pintar ngambek. Tidak tahu belajar dari siapa. Kalau kami telat meladeni permintaannya, dia langsung pundung.

Satu lagi, Umar excited banget kalau diajak pergi. Saking senangnya, dia suka mual trus muntah deh. Mungkin karena grogi mau pergi. Tapi itu terjadi saat masih di rumah. Pas sudah keluar rumah, mual-mualnya hilang. Makanya, kami suka mengakali dengan cara semua siap dulu, baru dia diberitahu. Sehingga, kami langsung jalan dan dia nggak perlu mual-mual. Selain itu, Umar sudah bisa membedakan mana baju main dan mana baju pergi. Sudah bisa milih baju sendiri. Walaupun kami tidak bilang, dia tahu mau diajak pergi karena pengasuhnya memakaikan baju bagus. Ahahaha.

Oiya, entah mengapa Umar senang sekali masuk ke kamar saya. Padahal di kamar saya tidak ada mainan. Saya jarang membukakan pintu karena kamar saya selalu berantakan. Nah, dua hari yang lalu, karena kamar sudah rada mendingan, saya akhirnya menyambut ketukan melasnya di pagi hari. Dannnn, Umar senang bukan main. Mau tahu dia ngapain saja? Silakan lihat di foto-foto berikut ini.


Malu-malu sekaligus senang,
karena boleh masuk kamar Ante.
Setelah itu, "Tolong tutup pintu, Nte."
"Tolong kunci, Nte. Tolong ac, Nte."


"Pake bedak boleh, Nte?"
Beberapa menit kemudian, cemong2.
Happy banget dia karena saya nggak larang.

Megang celengan Ante. Tadinya sambil cengar-cengir ,
minta mencet2 laptop. Tapi saya menggeleng
dan dia nurut.

Ucus (baca: susu) Time.
Tak lupa meluk Inga, Si Sohib kental.
Dibujuk pengasuhnya keluar, nggak mau.
"Obo, kamar Ante aja."

Baca dulu ah...

Nggak lama, karena harus tidur siang, dengan terpaksa dia harus balik ke kamarnya. Saya pun diajak ke kamarnya untuk menemani dia tidur. Dannn, sudah ketebak, besoknya dia ketagihan main di kamar saya -__-

Umar and Ante.




Tuesday, January 31, 2012

[CelebriTues] Reda Gaudiamo: Madame Tigresse


Disclaimer: Tulisan ini opini subjektif saya pribadi, selama berteman dengan Mbak Reda :) Ini juga bukan tulisan berbayar :p 


"Pada CelebriTues edisi ini, saya mau bercerita tentang teman kuliah yang sekaligus pernah jadi bos saya."


Pada tulisan dan suaranya,
saya jatuh hati.
(Foto: Sendie Nurseptara S.)
Di kelas, saya paling suka duduk di depan. Namun, malam itu saya harus duduk di barisan kedua karena terlambat datang. Kuliah sudah dimulai dan agak membosankan. Pandangan saya tertuju pada perempuan berambut pendek di sebelah. Bersama sebuah pulpen, jarinya menari di atas kertas. Tak jelas menggambar apa, sepertinya sih bagus.

Namanya Reda Gaudiamo. Saya sempat bingung melafalkan namanya, "Reda" seperti pada kalimat "Hujan sudah reda." atau seperti pada kata "etalase"? Ternyata yang kedua. Reda, nama yang unik.

Gayanya sangat santai ke kampus, pakai jeans dan kemeja. Seingat saya, baru sekali melihatnya sedikit "resmi", yaitu di semester akhir. Malam itu dia memakai blouse dengan bawahan kain tradisional. Saya sempat memotretnya, tapi entah kemana foto itu.

Saya tidak tahu profesi Mbak Reda, sampai suatu hari seorang teman bilang Mbak Reda seorang praktisi media. "The Devil Wears Batik," begitu julukan yang terinspirasi dari film The Devil Wears Prada. "Kata temen gue, di kantor dia itu seperti singa. Seram," bisik teman saya lagi. Oh ya? Saya tak terlalu peduli, toh dia bukan bos saya. Hanya teman sekelas. Lagipula sebagai teman, dia orang yang sopan dan menyenangkan. Pernah sekali, dia berhalangan hadir dan ingin menitipkan tugas. Tak tanggung, dia mengirim supirnya untuk mengantarkan tugasnya itu ke rumah saya di ujung dunia (baca: Bekasi). Sementara, orang lain sering seenaknya kalau meminta tolong.

Layaknya teman sekelas, kami beberapa kali belajar bersama. Kebetulan, saya sedikit mengerti Statistik. Bersama teman yang lain, kami membuat kelompok belajar. Dan hasilnya memuaskan. Kami dapat nilai A, termasuk Mbak Reda. Sebenarnya, Mbak Reda orang yang cepat tangkap bila diajarkan sekali saja, tapi ia tak sabar ingin segera ke tingkat berikutnya. Sehingga, suka lupa materi sebelumnya. Ahahahaha.

Permen dari Mbak Reda.
Dia pernah menghadiahi saya sekotak permen dan CD. Permen yang hingga kini saya suka dan tak tahu belinya di mana. Sedangkan, di dalam CD terdengar suara merdu seorang perempuan menyanyikan syair-syair indah. Setelah membuka cover CD, saya baru tahu itu suara Mbak Reda! Tak sangka ia punya suara merdu begitu, padahal saat bicara suaranya relatif berat. "Mbak, itu beneran suara lo?" tanya saya tak percaya. Dia cuma tersenyum. Keraguan saya hilang saat kami sekelas karaoke bersama.

Saya juga baru tahu dia punya pasangan duet, Ari Malibu, yang sering menyanyikan musikalisasi puisi. Beberapa kali saya menonton pertunjukan mereka. Keren! (Baca kisah lengkap mereka di Dunia Ari Reda).

Dari Teman Jadi Bos
Singkat cerita, saya menjadi anak buahnya di Majalah Sekar. "Tapi lo jangan kaget yah lihat gue di kantor," begitu  pesan Lulusan Sastra Prancis Universitas Indonesia ini. Memangnya kenapa? Sejak hari pertama masuk hingga resign, saya akhirnya mengerti apa yang Mbak Reda maksud. Di situ saya mengenal sisi lain seorang Reda Gaudiamo.

Perempuan kelahiran 1 Agustus ini seperti lambang zodiaknya jika sedang bekerja. Ya, seperti Singa atau Harimau betina. Galak? Iya, tapi demi kebaikan bawahannya. Lebih tepatnya lagi, demi kebaikan majalah kami. Dia tak pernah setengah-setengah atau main-main kalau soal pekerjaan. Untuk itu, dia datang lebih pagi dari kami dan (sering) pulang lebih akhir dari kami.

Kadang omelan atau bentakan menjadi pilihan terakhir agar kami bisa mengerti kesalahan kami. Walaupun secara langsung saya belum pernah "disemprot" Mbak Reda, tapi tim saya cukup sering jadi sasaran. Artinya, teguran itu juga buat saya dong. Mungkin karena sudah mengenal dia sebelumnya, saya tahu sebenarnya dia bermaksud baik. Dia ingin kami mengenal dengan detail majalah apa yang sedang kami garap. Tapi memang, tidak semua orang bisa memahami caranya. Ada beberapa orang yang justru tidak bisa dengan cara begitu. Wajar saja.

Ternyata kami ga pernah foto berdua.
Kapan-kapan ya Mbakkkk :)
Kalau kamu paham, omelannya bukan sekadar luapan emosi. Di situ, dia memberikan banyak pelajaran. Saya sering ikut mendengarkan "tutorial" dia saat mengomentari Tim Fashion dan Tim Layout. Dari situ saya belajar pengetahuan baru seperti komposisi layout, pilihan baju atau model yang harus sesuai dengan sasaran pembaca majalah kami. Dan masih banyak ilmu lainnya.

Yang saya suka dari Mbak Reda adalah, dia profesional. Dia hanya "murka" untuk urusan kantor. Tidak merembet ke urusan personal. Di luar kantor, dia bisa saja tiba-tiba mentraktir anak buahnya yang baru "disentil" tadi pagi. Kalau sudah begitu, si Anak Buah hanya bisa melongo melihat bosnya yang "agak aneh" itu. Ahahahaha.

Saya ingat betul kalau sedang deadline dan Mbak Reda ada di ruangannya, kami semua jadi tegang. Karena sedikit saja kami agak berisik, auman Mbak Reda segera membahana. Ahahahaha. Memang sih, kami yang keterlaluan. Ahhh, kangen suasana Imam Bonjol 61!

Oiya, selain suaranya, saya juga ngefans sama tulisan Mbak Reda. Ya temanya, ya gayanya. Tema tulisan opini Mba Reda adalah masalah sosial sehari-hari di sekitar kita dan biasanya *jleb* atau menyentil. Sedangkan gaya tulisannya, sederhana. Dia jarang memakai kalimat panjang. Saya suka! Silakan baca tulisan Mbak Reda di Rumah Reda atau Reda Writes.

Mau kenalan dengan Mbak Reda? Silakan follow akun Twitternya: @RedaGaudiamo. Dia sering share tips menulis #YouWrite atau tips yang lainnya lho... Atau mau dengar her angel voice? Silakan pesan CD musikalisasi puisi Becoming Dew dan Nyanyian Laut di @RedaGaudiamo.

Selamat berkenalan dengan Madame Tigresse! :)


Di hari Selasa nan sentosa ini, saya punya 3 set CD Mbak Reda yang akan saya bagikan gratis untuk teman-teman yang suka musikalisasi puisi. Caranya? Tulis puisi karyamu, lalu posting di blogmu. Puisi bebas, yang penting baru dan belum pernah muncul di manapun. Tiga orang yang beruntung akan menerima 1 set CD Mbak Reda (Becoming Dew dan Nyanyian Laut). Jangan lupa, kasih tau yaa kalau sudah posting puisi. Saya tunggu sampai akhir pekan (Minggu, 5 Februari 2012). 
Note: CD hanya untuk dinikmati sendiri, dilarang keras mengunggah atau memperbanyak.






Tuesday, January 24, 2012

[CelebriTues] Gengbelengan: Different Colours, One Rainbow


Gengbelengan formasi lengkap!
Akhirnya, saya "kacamata"-an juga lhoo :p
Cibubur - 31 Dec 2009



"CelebriTues edisi ini bahas sahabat SD dan SMP saya. Kebetulan sudah lama tidak ngumpul lengkap. Kangen."

Kami berlima. Ade, Ayu, Fadli, Mas Fani, dan saya. Ade, Mas Fani, dan saya se-SD. Lalu bertemu Ayu dan Fadli di SMP. Kami dekat sejak SMP karena sering main dan pulang bareng. Kenapa bisa awet sahabatan? Entahlah. Mungkin karena persahabatan kami tanpa embel-embel. Berteman tanpa mikir untung-rugi. Beda ya, kalau berteman di kuliah yang kadang suka "milih-milih".

Meminjam istilah seorang teman, karakter kami seperti warna-warni dari pelangi yang sama. Saling melengkapi. Ada Ade, sesepuh (padahal hanya beda kelahiran 1 tahun, tapi kami kekeuh bilang dia tua), yang akrab kami panggil Kancut. Dia plegmatis. Nggak suka konflik, pendengar yang baik, royal, dan good helper. Campuran Virgo-Libra (lahir 23 September 1982) ini sering jadi tempat curhat atau menemani kami ke suatu tempat. Ya, dia siap mendengar keluh kesah dan kasih advice kalau diminta. Ade juga sering jadi mediator kalau di antara kami ada yang slek. Selain itu, emang seru kalau kemana-mana ditemani Ade. Karena dia orangnya mau-an ("murahan"). Tapi kalau jadwal katering sedang padat, susah juga "nyulik" dia.

Soal royal? Jangan ditanya. Kalau dapat bonus, dia nggak ragu-ragu sms saya: "Nanti sore Pizza Hut, yuk." Bukan sekadar ngajak, tapi everything at that noon was on her. Atau nggak, tiba-tiba jadi donatur uang bensin. Penggemar makanan berkeju ini Pelor banget alias "nemPEL langsung molOR". Ritual DVD Marathon di rumah Fadli bakal terbalik buat Ade. Bukan dia yang nonton tivi, tapi tivi yang nonton dia. Nggak cuma pas nonton, di mobil dia juga gampang tidur. Di warung indomie, saking ngantuknya dia hampir merem. Padahal sedang duduk ngobrol dengan kami. Janji bergadang di kamar saya adalah janji buaya. Baru 15 menit ngobrol, dia sudah meringkuk ke dalam selimut. Tiba-tiba hening. Yak, Ade molor.

Begini nih malam minggunya jombloers.
Pondok Kelapa (rumah Bude-nya Mas Fani).
Desember 2009, minus Ayu.


"Nggak Bang," kata Ayu menggeleng kepada Supir Angkot yang nawarin kami tumpangan. Ya, Ayu perhatian sama orang lain. Sementara kami cuek saja. Toh kami nggak nyetop angkot itu. "Kasihan Abangnya nungguin," kata Ayu. Mulia sekali yaaaa. Leo betina ini adalah "dokter" andalan kami. Apoteker yang sering kami tanya-tanyain soal obat-obatan. Kalau gejalanya begini obat yang bagus apa, trus apa efek sampingnya, atau alternatif obat dengan bahan dasar sama tapi lebih murah, dsb. Dia juga sering jelasin masalah kesehatan. Kami terkesima mendengar ulasan yang ilmiah dan detail, lengkap dengan istilah-istilah farmasi yang asing di telinga. Karena sering bersentuhan dengan masalah kesehatan, Ayu sangat higienis. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan? Wajib.

Ayu tidak suka basa-basi tapi sering merasa tidak enak-an. Tepatnya, dia sopan sekali. Misalnya, mikir dua kali kalau diajak kondangan teman atau saudara saya yang bukan teman dia. Dari kami berlima, Ayu yang paling "nggak murahan". Kalau sudah bilang nggak mood keluar rumah, biar diracunin gimana pun (misalnya ngajakin makan jajanan favorit dia a.k.a mie ayam), nggak bakal mempan. Dia tetap ngendon di rumah, tentu dengan koleksi DVD drama Koreanya. Penyuka karakter Monkichi ini hidup teratur dan disiplin. Semuanya terjadwal. Agak susah mendadak janjian dengannya. Apalagi kalau tempat janjian tak searah jalan pulang dari kantornya. Karena disiplin, bukan sekali dua kali Ayu terpilih jadi best employee. Sayang, reward jalan-jalan keluar negerinya belum rezeki. Next time giliran lo Yu! Apalagi sudah punya passport.


Mas Fani's birthday (24/12/2010), minus Ayu.
Umur sudah 72 lebih, kelakuan macam anak Tk -__-


Ngupil bukan perbuatan terkutuk. Tapiii, kalau ngupilnya tiap detik (rada lebay nih saya) trus upilnya dipeper kemana-mana??? Yak, itulah Mas Fani. Duh, saya seram ditampol dia nih karena baru saja melakukan pembunuhan karakter. Soal nampol menampol, saya dan Mas Fani punya "cerita romantis" waktu SD. Dulu ya.... Masa Mas Fani pernah nampol saya gara-gara saya ledek. Memang sih, saya yang jail. Nggak nyangka dia beneran nampol. Huhuhu. Sekarang? Ughh, awas saja kalau berani! Gue smack down lo Mas, mau? Kebiasaan minus Mas Fani lainnya adalah latah! Sudah gitu latahnya nyebut "property" sendiri! Nah, ini yang bikin saya seram jodohin dia ke teman saya. Malu, kalau Mas Fani sampai "kumat". Ahahahaha.

Kebiasaan ngupil dan latah nggak akan jadi masalah kalau kamu tahu betapa family man nya cowok Capricorn ini. Dia sayang banget sama keluarganya, begitu pula sama sahabat-sahabatnya. Si Melankolis sabar menghadapi sahabat-sahabatnya yang ajaib. Dia juga pendengar yang baik. "Hush, dengerin dulu Ade sampai selesai," katanya karena saya bawel nyamber cerita Ade. Saya sering cerita ke dia kalau lagi galau. Dia tahu apa yang saya mau: didengarkan tanpa dihakimi. Dia juga sayang banget sama [mantan] pacar-pacarnya. Tapi kadang jatuhnya lebih ke posesif sih (Peace Masss!). Soal kerjaan, Mas Fani orang yang fokus dan rapi. Walaupun suka panik dan bete kalau schedule-nya diutak-atik.

Waktu zaman keemasan dulu (tenang Mate, bentar lagi masa itu akan kembali. amin), Mas Fani sering jadi "cukong" kami. You named it, mau makan apa saja, pasti ditraktir. Kalau punya duit, dia royal dan boros! Dari dulu sampai sekarang Mas Fani adalah supir tercintah kami :* Thank you Mate. Nggak apa-apa kan pegal, ketimbang gue yang nyetir? Pembenci duren ini sangat memperhatikan penampilan. Rapi dan wangi. Sayang, wanginya lebih sering ketutup "wangi" rokok. Yup, Mas Fani is a bad smoker. Dia jadi "pasien" setia Ayu. Langganan diomelin karena rokok mulu. Oiya, Mas Fani suka Sarah Jessica Parker dan Olla Ramlan.

Abis kondangan bareng biasanya basian ke mol, 
karaoke, atau warung indomie.



Last but not least, multi-talented Fadli. Cowok Pisces ini jago nyanyi (suaranya bagusss), bahasa Inggrisnya jago, pinter ngomong, marketer andal, bisa kayang, jungkir balik, joget poco-poco, dan balet. Empat skill terakhir, saya ngarang. Ahaahaha. Eh tapi, kalau ditantang, mungkin saja Fadli bisa. Sama seperti Mas Fani dan Ayu, pengagum Andien ini kalau kerja juga rapi dan profesional. Banyak bidang yang pernah dia coba. Kami senang punya cerita baru dari pekerjaaan-pekerjaaannya itu. Seru! Dia juga teman diskusi yang asik karena pengetahuannya luas. Selain Ade, Fadli sering nemenin kami ke suatu tempat. Kalau ada waktu, dia pasti bersedia nemenin ke mana dan kapan saja.

Seperti tagline sebuah rokok kretek, "Nggak ada loe, nggak rame!" Ya, kalau nggak ada Fadli nggak rame. Nggak ada dia, saya kehilangan partner nyela atau nyinyir sekaligus "ngebadut". Tim Silet, istilahnya Fadli. Dia nyablak, dannnnnnn ada saja celaan dan celetukan lucu, ajaib, sekaligus dalem dari dia. Waktu Ade mengeluh, "Duh gue nggak punya pantat." Fadli langsung nyeletuk,"Heh? Kalau nggak punya pantat, be*l lo keluar dari mana? Dari mulut?" Lain waktu saya berangan-angan, "Pengin deh ke daerah yang bersalju." Jawaban Fadli sumpah bikin ngakak, "Gih sono ke Papua. Kan gunungnya ada salju." Nggak habis pikir, kok bisa Fadli nyeletuk begitu. Spotan pula, nggak pakai lama mikir. Satu-satunya yang bikin dia mendadak "diem" dan masang plang "Awas Fadli Galak" kalau lagi laper berat.  Oiya, Fadli resik dan rajin mandi.

Ingatlah Hari Ini
Setelah kurang lebih 15 tahun, banyak suka duka kami lewati. Misalnya beberapa persoalan pribadi yang bikin hubungan merenggang. Tapi kadang itulah yang menguji sampai di mana persahabatan kami dan bikin kami "pulang ke rumah". Cobaan terakhir terjadi akhir tahun 2009. Mas Fani jatuh di kamar mandi dan mengalami sedikit amnesia karena trauma otak ringan. Dia cuma ingat memori waktu SD. SMP ke atas, dia lupa. Dia cuma ingat saya dan Ade. Sama Fadli dan Ayu lupa. Sedih deh. Waktu itu kami emang sedang sibuk dengan pekerjaan dan urusan masing-masing. Sejak kecelakaan itu, alhamdulillah kami mulai ngumpul lagi.

Iseng (lebih tepatnya, bokek sih) tingkat tinggi,
jalan tapi cuma ngendon di TransJakarta Pinang Ranti - Grogol (pp).
(Pertengahan 2011, minus Ade dan   Mas Fani)


Berantem? Tentu kami pernah. Justru itu bumbu persahabatan. Yang beberapa kali dan akhir-akhir ini sensi-sensian adalah The Boys (Fadli dan Mas Fani). Keduanya memang sama-sama sensi dan keras. Hmm, kalau begini, kami para cewek bingung mau mendamaikan. Paling cuma bisa berdoa. Huhuhu. Jangan sampai menyesal kehilangan sahabat. Masa harus ada salah satu yang sakit dulu baru baikan? Amit-amit ah. Para cewek juga pernah berantem. Tapi alhamdulillah, cepat kelar dan nggak dipendam. Terakhir slek waktu ke Bali. Padahal sudah happy jalan-jalan, ehhh pas pulang malah berantem. Ahahahaha. Sekarang lumayan bisa jadi bahan ketawa.

Kalau sedang kesal sama salah satu dari mereka, saya langsung ingat-ingat kebaikan sahabat-sahabat saya itu dan masa-masa seru dan gokil kami. Mereka kompak jemput ke rumah demi mendapat izin dari Papa dan Mama saya. Saya emang paling susah keluar rumah. Tapi biasanya, kalau saya bilang perginya sama Gengbelengan, Mama Papa saya ngizinin. Apalagi kalau di jemput dan diantar sampai depan rumah.

Saya juga ingat ritual DVD marathon di rumah Fadli. Kamar Fadli (dan adiknya) kami  rampas demi acara khusus itu. Bisa sehari semalam! Dengan persiapan cemilan dan setumpuk DVD bajakan abangnya Fadli. Walaupun yang biasanya konsen nonton cuma saya, Mas Fani, dan Ayu. Fadli kadang rebahan di kasur, sesekali ikut nyeletuk usil. Ade? Sudah ketebak dong. Yup, dia molor.... Kalau dipikir-pikir nggak banget ya, kami para cewek tidur-tiduran di kamar cowok. Tapi kami memang sudah dekat banget. Cuek kentut (kalau bau, tinggal timpuk), ganti baju, tidur-tiduran, dan lain-lain.

Kerokan sudah jadi ritualnya Fadli - Ade kalau ketemuan. 
Fadli hobi masuk angin. Ahahahaha. 
Asli ya ini foto kayak di Buser, pake diblur-in segala.



Kami juga sering bertemu dadakan. Justru ini efektif daripada direncanakan jauh-jauh hari. Dulu sih sering, baru aja Senin, kami sudah ngumpul lagi. Padahal weekend kami sudah bergadang. Kami menyebutnya "Gaul Prematur". Karena yang penting buat kami adalah ketemuan, tempat tak menjadi masalah. Mau nongkrong di warung tenda roti bakar belakang Pondok (pertokoan dekat rumah kami, Pondok Gede-Bekasi) ayo saja... Makan KFC atau bakso di Pondok, juga boleh. Habis itu karaoke dan nonton ke Pondok lagi, hajarrr! Kok Pondok melulu? Itu yang paling dekat dan murah. Ahahahaha.

Ngobrol dari A-Z, dari kutub utara - kutub selatan.
Nggak ada habisnya.
New year's eve, 31 Dec 2009, Dunkin Donuts PONDOK!


Ahhhh, tulisan yang sudah panjang lebar ini tetap nggak cukup untuk nyeritain mereka dan petualangan kami. Ini ada sedikit cuplikan pembicaraan ngalor ngidul kami kalau sedang ngumpul atau jalan. Coba dengar betapa ributnya kami. [Note: abaikan suara sendawanya Fadli]. Ah, saya kangen mereka. Weekend ini harus ngumpul. Harus.