Showing posts with label mates. Show all posts
Showing posts with label mates. Show all posts

Wednesday, September 19, 2012

0 - 2

sahabat,
bagi aku dan kamu, hidup seperti pertandingan.
kamu berhasil memukul telak, tanpa sempat aku membalasnya.
dua kali kamu 'rebut' bola di tanganku.
bola yang bahkan tidak pernah kutendang.
kembalikan bolanya padaku!
segera!


Good luck, anyway! I'm proud of you!
Kutlarim* :)





* "congratulations" in Turkish - Google Translate.

Tuesday, June 5, 2012

[CelebriTues] Fatimah Noer: A Truly Good Muslimah



Perkenalkan salah satu sahabat terbaik saya, Fatimah Noer. Saya biasa memanggilnya Ima. Kami bersahabat sejak kuliah. Alhamdulillah, kami sempat melanjutkan kuliah bersama. Jadi, kami bersama selama kurang lebih 6 tahun. Sama-sama berzodiak Leo, membuat kami hampir sepikiran dan sama-sama ekstrovert. Dulu, saya sering menginap di rumahnya. Mengerjakan tugas kuliah ataupun sekadar mengobrol semalaman. Ibu dan Ayah Ima pun sudah seperti tante dan om sendiri.

Perbedaan yang paling mencolok adalah Ima anak baik, sedangkan saya anak bandel. Karena Imalah sampai sekarang saya anti mencontek. Padahal, sejak SMA, saya jagonya mencontek, terutama pelajaran sejarah. Kalau ujian, saya santai banget naro buku di paha dan tidak pernah ketahuan guru. Parah! Eh tapi, saya paling gengsi lhooo mencontek untuk pelajaran kesayangan, Matematika. Nah, waktu semester awal di FISIP, semua jurusan wajib mengikuti matakuliah Pengantar Ilmu Antropologi (PIA). Isi kuliahnya hapalan mati. Saya yang benci banget sama hapalan mati, sudah pasti mati gaya kalau kuis atau ujian.

Di suatu hari yang cerah, diumumkanlah kuis dadakan PIA. Saya tenang, buku catatan di tangan. Baru saja mau ngintip catatan, Ima yang duduk di sebelah saya bilang "Kok mencontek? Allah Maha Melihat lho...." JLEB! Entah kenapa ya, ucapan Ima itu bikin saya malu hati. Mungkin karena Ima bilang dari hati, jadi sampai ke hati juga. Saya sama sekali tidak menangkap nada sok menggurui atau sok alim dari ucapan Ima. Sejak saat itulah saya tidak pernah lagi mencontek. Hasilnya? Nilai tes kecil, UTS, dan UAS matakuliah macam PIA dan Pengantar Ilmu Sosiologi selalu di bawah 5. Paling banter 6. Hahahahaha. Sampai sekarang, alhamdulillah saya tidak pernah mencontek, apapun bentuknya itu.

Tak cuma itu. Menurut saya, Ima memang sosok muslimah yang sesungguhnya. Dari perilakunya sehari-hari dia berusaha menjalankan apa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Tutur katanya lemah lembut dan sopan, selalu senyum, ramah, dan sering membantu orang. Dia juga disiplin waktu, baik saat janji bertemu orang, masuk kuliah, ataupun mengumpulkan tugas kuliah. Beda banget dengan saya yang ceplas-ceplos, (terkesan) kasar kalau ngomong sama orang, dan sering telat masuk kuliah atau janjian. "Muslimah yang baik pasti disiplin waktu, My," kalimat lain Ima yang menohok. Prestasi akademik Ima pun baik. Catatan Ima sering dipinjam teman-teman dan Ima juga sering memberikan tutorial kuliah.  Bagi Ima, mensyi'arkan Islam itu tidak perlu koar-koar ceramah. Tapi dimulai dari diri sendiri dan dari hal kecil: menjadi sosok muslim yang berakhlak baik.

Waktu berlalu, dan kami menjalankan hidup masing-masing. Lulus dari MM Kom tahun 2008, Ima sudah menikah. Sedangkan saya sibuk di majalah. Ya, sejak saat itu kami hanya bertukar kabar via sms dan telepon. Alhamdulillah saya bisa menengok saat Ima lahiran anak pertama dan melayat saat Ibu meninggal. Setahun belakangan, kami lumayan sering bertemu di tempat kerja. Saya dan Ima mengajar di universitas yang sama. Ternyata Ima masih seperti dulu, baikkkkk hati. Walaupun melihat sahabatnya mengenakan pakaian yang tidak syar'i (ketat, dada dan fantat kemana-mana), dia tidak lantas memicingkan sebelah mata, berburuk sangka, atau memusuhi saya. Seperti biasa, dari hatinya, dia menasihati dan mendoakan saya.

Seperti kata Hanum Salsabiela Rais di bukunya 99 Cahaya di Langit Eropatentang sahabat-sahabat barunya yang menjadi contoh sosok muslim baik: "Bagiku, orang-orang seperti ini tadinya too good to be true, tapi aku berani berkata: they are really true." Begitu pula Ima. She is truly good muslimah. And she's my best friend. I'm proud of her.



P.s.: Satu hal yang dulu tidak sempat kami lakukan: travelling bareng. Dulu, Ima tidak bisa pergi lama-lama karena menjaga Ibu yang sakit. Sekarang, dengan dua anak, tidak mudah pula buat Ima pergi seenaknya. Semoga nanti kita bisa travelling bawa keluarga masing-masing ya Ma... Doain sahabatnya yaa.





Tuesday, March 20, 2012

[CelebriTues] Ika Karlina Idris

Tahun 2006, kami bertemu di kelas A MM Kom UI.


Kuliah biasa mulai pukul 19:00. Tapi perempuan ini sering datang saat kuliah telah berjalan. Dengan terburu-buru, ia masuk kelas dan langsung duduk di deretan depan. Wajar, selain kuliah, dia juga bekerja sebagai wartawan di salah satu harian nasional. Kalau telat begitu, pasti dia baru saja meliput berita. Namun, bukan berarti dia tidak fokus dengan materi yang diterangkan dosen. Dia bahkan bisa dibilang kritis. Kenalkan, namanya Ika Karlina Idris. Saya biasa memanggilnya Ikot.

Ikot senang sekali diskusi. Semua penjelasan dosen yang kurang sreg di hati pasti akan dia diskusikan. Gaya bicara yang tegas dan cepat  adalah ciri khas Ikot yang mencerminkan kekritisannya. Belum lagi, diskusi bahan berita yang tak kalah rumit. Waktu itu, seingat saya, Ikot bertanggung jawab di desk ekonomi. Kalau Ikot mengajak diskusi tentang ekonomi, saya biasanya menghilang diam-diam karena tidak terlalu menguasai. Ahahahaha. 

Eits, jangan salah. Meski sering bicara berapi-api, perempuan kelahiran 24 Juli ini sangat menyukai puisi. Dia juga piawai menulis sajak-sajak indah. Kata Ikot, "Puisi itu bukan picisan!" Coba deh main-main ke blognya. Tapi, sayang belakangan Ikot tidak sempat meng-update blognya.

Ah saya ingat, dulu ia gemar sekali membeli sepatu! Setiap beli sepatu baru, dia pasti menunjukkannya pada saya. Entahlah sampai sekarang dia masih begitu atau tidak. Oiya, ada satu kedai kopi favorit yang Ikot perkenalkan pada saya. Tapi sayang, kedai itu sekarang sudah tidak ada lagi. Namanya Au Lait, di Cikini. Dia beberapa kali mentraktir saya. Kami ngobrol dan belajar bersama. Tentu saja, Ikot penggemar kopi!

Ketahuan kan CherryBelle nyontek gaya siapa?
Foto ini diambil tahun 2006 lho :)
Kesempatan Mengajar
Ikot adalah orang yang berjasa dalam kegiatan lecturing saya. Dialah yang memberi kesempatan dan mempercayai saya untuk mengajar di universitas tempatnya bekerja. Hingga akhirnya saya menemukan passion sebagai pengajar. Walaupun dia berkali-kali bilang saya lebay, saya tetap akan selalu berterima kasih. Thank you so much Kot! Semoga Allah membalas kebaikan lo dengan kebaikan yang berlipat-lipat. Amin

Sekarang Ikot masih mengajar di Universitas Paramadina Jakarta. Dia juga menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Ilmu Komunikasi. Saya belum pernah menghadiri kelasnya, namun beberapa mahasiswa bilang Ikot dosen yang asyik dan up to date. Walaupun, ada beberapa yang bilang Ikot galak. Aahahaha. "Bukannya galak, Em. Tapi mau nggak mau kita harus nunjukkin kredibilitas. Jadi, mahasiswa tidak seenaknya," begitu pesan Ikot.




Sunday, March 18, 2012

Panggilan Istimewa

Kemarin pagi, 17 Maret 2012, saya menerima telepon dari unknown number. Saya bingung kenapa nomor itu bisa menelepon ke nomor yang tidak saya publish. Hampir, saya ingin me-reject panggilan itu. Tapi yang kepencet malah pilihan "accept".

.... lalu terdengarlah suara cempreng yang tidak asing di telinga: sahabat saya Ai, yang lagi umroh. Dan keharuan pun tiba-tiba menyelimuti saya (drama queen mode: on).
Me: Aiiiii, gimana di sana? (entah kenapa mata saya sudah mulai berair)
Ai: Aku habis subuhan di Masjid Nabawi. (Suaranya terdengar tenang. Yak, kalau yang ini saya beneran lebay ahahaha).
Me: Enak ya iii??? (semakin berderai air mata dan membayangkan saya bisa di sana sama Ai)
Ai: Subhanallah Myyyy... Oiya kemarin di Raudhah (tempat di Masjid Nabawi, konon doa yang dipanjatkan di situ akan dikabulkan. Wallahu'alam.) aku sudah doa sebut nama temannya (maksudnya saya).
Me: (langsung nggak bisa nahan nangis dan ngomong sudah sambil mewek) Doain temennya supaya bisa ke situ juga ya iiii.
Ai:  Iyaaa. Dih nggak usah nangis gitu. Ahahahahaha (Akhirnya keluar juga aslinya. Bukan Ai namanya kalau nggak tukang ngeledek dan cengengesan).
Me: Ih, biarin aja. Aku kan terharu (masih sesegukan).
Ai: Yaudah ya My.. Udah lama nih, nanti pulsaku abis (nyeeeeeeeehhh pelit bin meditnya kumat. ahahahaha).
Me: Okeee. Pokoknya jangan lewatin sedetikpun waktu di situ untuk ibadah ya iiiii.
Ai: Iya insyaAllah. Assalamualaikummmm. (telepon ditutup)

Semoga Ai sehat-sehat selalu di sana hingga kembali ke tanah air dan umrohnya berkah. Amin.
Dan semoga saya juga punya kesempatan ke sana juga. InsyaAllah, amin.

Thursday, February 23, 2012

Fadli's Birthday and That Shocking Number

Tanggal 21 Februari 2012 kemarin, salah satu Gengbelengan, Fadli, ulang tahun yang ke 29. Yak, ulang tahunnya Fadli bikin shock saya. OMG, artinya i'm getting closer to that numba. Agustus nanti, yang tinggal beberapa bulan. Huwaaaaaaaaaaa.

Awalnya kami mau ngumpul pas weekend saja, karena saya kira Fadli sudah mulai kerja di LikeEarth alias Sukabumi. Eh ternyata Fadli masih di Jakarta. Ya sudah, mari kita rayakan malam itu juga di rumah Fadli. Saya dan Ade berbagi tugas menghubungi Gengbelengan yang lain. Sedihnya, Mas Fani dan Ayu nggak bisa karena ribet sama kerjaan.

Juragan katering kami, Kancut a.k.a Ade, seperti biasa berbaik hati menyiapkan tumpeng buat Fadli. Dia sampai rela tangannya berlumuran kunyit demi bukti bahwa dia yang masak tumpeng itu. Buahahahahaha. Padahal saya yakin yang sebenarnya masak pasti pasukannya Ade. Si Ade palingan cuma bantu ngupasin kunyit 3 siung. Tapi malam itu Ade sibuk menyakinkan kami, "Nihhh lihat, jari gue kuning-kuning. Gue yang masak tauuu."  Tentu, saya dan Fadli tidak percaya begitu saja. Anyway, makasih banget ya Ncuttt :* Lo emang selalu perhatian sama kita.

Pas lilinnya dinyalain, macam volcano lagi erupsi yakk.
Ahahahaha. Btw, tumpengnya enyakkkkkkk.
Ya nasi kuningnya, ya lauknya.
Mantep deh Kusuma Katering!
 (post berbayar, dibayar ongkos ojek)


Saya kebagian beli lilin angka 2 dan 9 yang bikin saya merinding sendiri. OMG, sudah tua yaahhh ternyata kita.  Walaupun kelakuan masih nggak jelas macam anak SD. Contohnya, masa umur segini masih berantem diem-dieman? (Psssttttttt, ini kode lohhhh. Semoga yang dikode, bisa nangkep. Aminnn. Ahahhaha.). Balik ke cerita saya beli lilin, waktu mau bayar, kasirnya berniat ramah ke saya sambil nanya, "Wah, ulangtahun yang ke 2 dan 9 ya Bu?" (Iyaaaaaaaaaa tahu, saya udah pantas dikira ibu-ibu beranak 2. Puass??). Saya cuma nyengir dan jawab,  "Sotoy banget sih lo Mbak!" eh salah deng  "Datuk saya ulang tahun ke 92" makin ngaco, yang benar "Sahabat saya ulang tahun ke-29."

Di ulang tahun Fadli ini, saya antara bahagia, ngeri, dan sedih. Bahagia karena, di tahun ini Fadli alhamdulillah mulai memasuki fase "hidup baru"-nya yang insyaAllah lebih baik. Kerjaan baru, umur baru, mobil baru, rumah baru,dan istri baru. Tiga poin yang saya sebutin belakangan, mudah-mudahan segera terealisasi. Aminnn. Ngerinya, karena angka 29 itu. Duh, beneran deh, fase inkubasi Late20Syndrome semakin menjadi-jadi di diri saya. Sedihnya? Sudah jelas karena Gengbelengan nggak ngumpul lengkap. Untungnya, diramein sama teman sepermainan Fadli di rumahnya, yang saya kenal juga: Ika dan Enif.

Acara tiup lilinpun dimulai. Saya memilih untuk mengabadikannya dengan video (soon, videonya saya upload di Youtube). Sejak memasuki usia 25, kami punya lagu andalan saat ulang tahun. Liriknya cuma satu kalimat dan diulang-ulang, tapiiiiiii sangat bermakna. Begini bunyinya, "Udah tua... udah tua... udah tuaa". Setelah lagu sukacita kutukan itu dikumandangkan, Fadli niup lilin dengan bibir monyong syahdu . Dan dilanjutkan dengan potong tumpeng yang dikasih ke ibunda tercinta.

Minus Mas Fani and Ayu.
Sumpah, kangen Gengbelengan versi lengkap,
lengkap dengan kegilaan kita tiada tara.

Saya berharap, seiring pertambahan usianya, Fadli semakin sukses, semakin dewasa, semakin luas hatinya dan bisa memaafkan (another kode, #eaaaaaaa), semakin kurussssssssss (sukses ya cyinn diet karbonya), semakin mendekat ke Jerman (seperti kata Ayu, "Perjalanan ke Jerman dimulai dari Sukabumi dulu" ahahahaha), dan (yang nggak kalah penting) semakin dekat sama Allah SWT. Amin.



Terima kasih atas persahabatan ini, ya Geng.



P.s.: Seperti biasa, fotonya nggak ada yang bagus. Karena saya nggak punya kamera cakep. Saya cuma bawa handycam yang tidak ber-flash. Apalagi lampu di rumah fadli, redup. Udah pasti hasil fotonya buram durjana. *manyun*

Sunday, February 19, 2012

"Owhhhhhhh Soulmateeeeeeeee, I'm Hereeeeeeeee!"

Disclaimer: Sekarang lagi edisi galau ala late 20's single women :p Skip aja kalau mual.

Suatu malam, gara-gara hujan saya jadi galau (Dih nyalahin hujan. Galau mah galau aja). Kalau lagi galau begitu, saya biasanya numpang meracau ke beberapa orang yang saya anggap dekat. Malam itu orang yang "beruntung" adalah Sis Angie, sahabat saya di Bali. Walaupun terpaut 15 tahun lebih, kami cocok. Selain cantik, dia pintar dan selalu ngajarin saya self positive suggestion. Bisa dibilang, dia salah satu my significant other! Jangan tanya asal-muasal panggilan Sis, yang pasti bukan karena kenalan di online shopping. Ahhahaaha.

Inilah obrolan ngasal kami via BBM:

Participants:
[en]emy, Sis angie
Messages:
[en]emy:PING!!!
I miss my (future) mate already :( where has he been yaaa? :'( lama banget kesini nya =)) nyahhahahaha galau hormonal
Sis angie:Mang udah ada?
[en]emy:Ga ada lahhhhh. Ini racauan wishful thinking=))
Sis angie:Aw hahahahahahhahah
Katanya sih "speak out loud to the cozmo, I'm hereeeeee, comeee to meee"
[en]emy:Begitukahhh?
Sis angie:Iya dan jangan judes2. Wkwkwkwkwk
[en]emy:Baikklahh nanti aku praktikin
Sis angie:Ahahahahh. Mulai hari ini nama emy agustia aku masukin daftar doa buat jodoh. Pasti ces pleng
[en]emy:Aminnnn. Jodohnya yg baik yaaaaa
Sis angie:Amin. Besok pergi ke tebing atau ke pantai, trus triak2 deh disana "comeee to meee, owhhh soulmateee, I'm hereeee"




Thank you Sis :*

Friday, February 17, 2012

Prahara Blogspot Eror

Credit: Michaela Kobyakov (sxc.hu)

Baru-baru ini (atau sudah lama sering begitu ya?) Blogspot eror. Walaupun saya menerima beberapa notifikasi komentar yang masuk melalui email, tapi komentar itu tidak muncul di blog. Nah ini bikin sedikit "prahara" dalam dunia persilatan (baca: persahabatan) sama Ai.

Ceritanya gini, kemarin saya merasa sudah submit comment dan comment-nya sudah langsung muncul, karena di blognya Ai tidak pakai moderasi. Nah, pas saya blogwalking lagi ke tempat Ai, komen saya hilang aja loh. Saya langsung mikir negative thinking, wah mungkin dihapus.

Sebenarnya hak Si Empunya blog ya, mau terima atau hapus komentar yang masuk. Saya juga bukan tipe orang yang narsis pengin komen saya diterima atau dibalas. Di-approve dan direspons syukur, tidak pun emangnya gue pikirin? Suka-suka yang punya blog dong yaa... Tapi, karena yang punya blog itu sahabat yang sudah saya kenal banget, makanya saya merasa sedikit aneh. Soalnya, walaupun kami saling ngecengin atau nyela-nyela, insyaAllah Ai bukan tipe yang tersinggung-an. Kalau pun tersinggung, pasti dia langsung bilang dan itu via japri.

Jadilah saya komen lagi dan konfirmasi nuduh my previous comment was deleted by her (dengan gaya bercandaan saya). *Jeng-jeng* paginya saya dapat WhatsApp dari Ai, yang isinya nggak mungkin dia hapus komentar saya. Dia bilang, dia dapat notifikasi di email tapi comment-nya nggak muncul. Oh gituuuu. Waktu itu saya masih setengah percaya. Masa sih? Wong waktu itu jelas-jelas komennya sudah muncul. Hmm, mungkin Blogspot memang eror.

Lalalala, baru dehhh saya percaya. Jadi, tadi malam saya menerima beberapa notifikasi komentar. Tapi karena sudah sedikit mengantuk, saya pending balas komennya. Eh ternyataaa, paginya saya lihat di blog, komennya tidak ada. Dangg! Baru dehhh saya merasa bersalah sama Ai. Langsung saya sms minta maaf  karena sudah su'udzon (berburuk sangka) ke dia. 

Tapi, bukan Ai namanya kalau nggak ngocol. Padahal saya lagi serius minta maaf, eh dia malah balas sms gini: "Gak usah minta maaf. Kamu bukan Marwan..." Buahahahahaha. Kalau yang di Indonesia pasti tau iklan provider telepon selular XL yang lagi sering ditayangkan di televisi. Cerita tentang cowok bernama Marwan yang lagi pedekate ke cewek bernama Mawar. Di salah satu serinya, si Marwan itu mau minta maaf sama Mawar.

Anyway, jadi  ingat salah satu hadis (atau pepatah ya? saya lupa). Isinya kira-kira begini, cari 100 alasan sebelum kamu berburuk sangka kepada orang lain (terutama saudara atau sahabat sendiri). Saya mengaku, kemarin saya salah.

Thursday, February 9, 2012

Amnesia Does Exist


Di post sebelumnya, saya pernah bilang punya banyak cerita tentang salah satu sahabat cowok yang biasa saya panggil Mate atau Mas Fani. Kali ini saya pengin cerita soal amnesia ringan yang pernah dia alami di akhir tahun 2009.

Iya, amnesia kayak di sinetron-sinetron atau di film-film. Amnesia sering jadi jalan keluar jitu kalau sinetron sudah kehabisan cerita. Dibuatlah Si Pemeran Utama mengalami amnesia, supaya cerita tambah panjang dan seru membosankan. 

Apa sih amnesia? Silakan baca ulasan lengkap Mba Wikipedia. Definisi singkatnya, hilang ingatan. Tadinya saya percaya amnesia hanya ada di sinetron. Sampai akhirnya saya melihat sendiri. Di suatu siang, saya dikabari Fadli (sahabat cowok saya juga) kalau Mas Fani jatuh di kamar mandi. Waktu itu, saya masih tenang. "Oh, cuma jatuh. Oke, nanti pulang kantor saya mampir ke rumah sakit," jawab saya. Nggak lama, Fadli mengabari kondisi terbaru Mas Fani. "Dia hilang ingatan," kata Fadli. Hah? Saya masih tetap nggak percaya. 

Di rumah sakit saya ketemu Ade, Fadli, dan Erfan. Mereka sedih banget. Fadli cerita kalau Mas Fani nggak kenal sama dia. "Hmmm siapa ya?" begitu tanya Mas Fani datar dan bingung. Erfan pun mengalami begitu. Mas Fani nggak mengenali dia. Padahal mereka sahabat karib. Tapi katanya, Mas Fani ingat Mama, Papa, adiknya, dan Ade. 

Dengan perasaan deg-degan, saya menengok dia ke kamar. Dahi Mas Fani sedikit mengeryit melihat saya, lalu dia bilang "Emy kan?". Masih sedikit bingung dia bilang lagi, "Kayaknya dulu nggak pakai jilbab ya?". Di satu sisi saya lega Mas Fani masih ingat saya, di sisi lain saya bingung kenapa Mas Fani seakan-akan baru melihat saya pakai jilbab. Padahal saya sudah  lumayan lama pakai jilbab.

Atas: Mate hari pertama jatuh. Kalau diperhatikan,
ada benjolan kecil di kening kirinya.
Bawah: Mate hari ke-2 atau ke-3, masih linglung.


Kami masih bingung kenapa dia bisa mengenali sebagian dari kami, sementara sebagian lain tidak. Lalu datanglah Pina (teman SD kami). Ternyata Mas Fani kenal. Datang juga tetangga Mas Fani bernama Bapak A (saya lupa namanya). Mas Fani mengenali tapi memanggil dia dengan sebutan Pak RT. Padahal, Bapak itu sudah lama sekali tidak menjabat ketua RT. 

Saat ditanya di mana rumahnya, Mas Fani menjawab alamat lama waktu masih SD. Dia juga kaget, mobil keluarganya bukan mobil yang dulu lagi. Kami akhirnya baru ngeh, ternyata memori yang Mas Fani ingat sebatas masa SD-nya. Terbukti, dia mengenali semua teman-teman SD dan orang-orang pada masa SD. Tapi dia lupa teman-teman SMP, SMA, teman kuliah, dan teman kantornya. Aneh? Sangat.

Dokter bilang, Mas Fani mengalami amnesia ringan karena benturan yang dia alami. Banyak oknum yang mengira Mas Fani cuma pura-pura. Gila ya, orang lagi sakit masih saja dicurigai yang tidak-tidak. Mereka baru percaya saat menjenguk langsung. Mas Fani benar-benar seperti orang linglung. Dia bingung melihat teman-teman SMA, kuliah, dan kantornya yang mendatanginya. Dia tidak ingat sama sekali! "Emy, aku nggak kenal mereka. Bisa nggak mereka keluar aja? Aku pusing," katanya datar dan bingung. Bahkan mantan pacarnya yang nangis-nangis, dia juga tidak ingat. "Kamu siapa? Kok nangis sih? Sayang kan nanti tisunya habis," kata dia polos dan datar.

Kami menemukan fakta baru lagi. Setelah diamati, tingkah Mas Fani seperti anak SD. Pertama, dia manggil aku-kamu ke saya, padahal selama ini gue-lo. Kedua, dia manggil Mbak Nana ke Ade. Panggilan Mbak Nana itu ada saat kami masih di sekolah dasar. Ketiga, cara bicara dan tingkah dia juga seperti anak kecil. 

Salah satu contohnya, waktu kami berkumpul lalu ada suster yang mendatangi dan mengingatkan waktu jenguk telah habis, tiba-tiba Mas Fani berbisik pada kami "Sttt, udah di sini aja nginep bareng-bareng.  Ditutup tirainya supaya nggak ketahuan suster," katanya dengan aksen bocah. Saya menahan tawa tapi jadi ikut-ikutan bersikap seperti anak SD. Ah sayang banget waktu itu saya tidak merekam tingkah Mas Fani. Terkadang, sekarang Mas Fani suka nggak percaya kalau kami ceritain dulu dia begitu.

Beberapa hari kemudian, Mate mulai kenal Ayu
(teman SMP). Tadinya, kami mau culik dia
ke KFC seberang. Tapi nggak jadi,
takut diomelin RS.

Hari-hari selanjutnya, kami rutin menjenguknya. Tujuannya? Bercerita agar dia pelan-pelan ingat yang lain. Saya mulai dengan ulang tahunnya. "Ulang tahun Mas Fani 24 Desember 1983. Ingetin ya," kata saya.  Dia mengulang kalimat saya,"Kata Emy, tanggal lahirku 24 Desember 1983." Secara bergantian, kami menceritakan memori yang dia lupa. Kalau dia sudah merasa bingung atau pusing karena tidak ingat, kami berhenti bercerita. Dia juga dikasih "pe er" sama dokter untuk mengingat 3 benda (kalau tidak salah: sepatu, pensil, dan buku). Suatu malam dia menelepon saya, "Emy, aku disuruh ngingetin apa sih sama dokter?" antara sedih dan lucu dengar pertanyaan dia. Serasa punya teman anak kecil.

Lalu kapan Mas Fani mulai ingat? Tidak, bukan seperti di sinetron yang harus kejedot lagi. Alhamdulillah, lama-lama Mas Fani ingat Fadli, Ayu, Erfan, dan teman-teman SMP lainnya. Dalam waktu seminggu dia sudah lumayan mengingat masa SMP dan cerita di masa itu. Walaupun belum sepenuhnya. Seiring berjalannya waktu, dia juga mulai mengingat teman-teman SMA, teman-teman kuliah, dan teman-teman kantor. Semuanya kembali secara bertahap.

Oiya, waktu amnesia si Mate nggak ingat sama sekali kalau dia perokok berat. Uh, happy banget dong kami (terutama saya dan Ayu yang nggak suka bau asap rokok). Ahh, sayang banget Papanya dan Erfan ngasih tau dan nawarin dia rokok. Alasan mereka, supaya Mas Fani rileks. Huhhh, harusnya kan kalau Mas Fani lupa, sekarang enak nggak usah nyium bau rokok kalau gembelengan sama dia.

Soal amnesia ini, Mas Fani pernah bilang nggak enak banget rasanya linglung. Seperti ada sesuatu yang menganggu di pikirannya, tapi dia tidak tahu itu apa. Dulu, suatu kali Mas Fani memang pernah bilang pengin amnesia. Ehhh, ternyata pas ngalamin sendiri, nggak enak banget! Masih pengin amnesia? Pikir-pikir dulu deh!


Me and Mate.
Bagi saya, "amnesia" nya Si Mate
nggak sembuh2. Buahahahahaha.

Sunday, February 5, 2012

Welcoming Monday



 Asikkk. Menjelang Senin Tercintah, ada yang share puisi tentang hari keramat itu. Cakep deh puisinya :p Hari selasa kemarin saya janji akan kasih 1 set CD Musikalisasi Puisi Mbak Reda untuk teman-teman yang nulis puisi barunya di blog. Iid ikutan dannn ini dia puisinya. Happy reading :) 


Senin*
Written by: Iid


Menjadi tawanan pikiran
Melihat banyak hal berubah
Tidak bisa berbuat apa-apa
Hanya menonton saja
Dan di saat yang sama tiba-tiba menjadi tertekan

Aku menyebutnya 'Senin'
Hari ketika mimpi dimulai
Hari ketika orang-orang bangun pagi
Hari ketika optimisme berdiri
Dan tubuh yang berjanji untuk baik-baik saja hingga akhir nanti

Aku menyebutnya 'Senin'
Hari ketika akhirnya aku malah lupa tersenyum
Hari ketika aku melihat air mata
Hari ketika banyak makian keluar dari mulut orang-orang

Aku menyebutnya 'Senin'
Ketika 'kau' memerangkapku
Ketika 'kau' mencoba menghinaku
Dan berharap mengalahkanku

Dan aku juga menyebutnya 'Senin'
Hari ketika aku menemukan bahwa aku tidak selemah itu
Hari ketika aku menyadari semua bisa baik-baik saja
Hari ketika masih kulihat senyum tulus di wajah-wajah lelah

Dan akupun berkata
Aku tidak bermasalah dengan 'Senin'
Inilah hari ketika awal dan akhir bisa terjadi bersama.

*reblog from here.

Wednesday, February 1, 2012

Bertemu Kekasih Hati

Selamat datang Elmo :*
Si Elmo punya tattoo "FISIP UI".
Wah  kita satu almamater! :P


Horreee, akhirnya saya punya gitar juga.
Dari SMP kepengin banget punya gitar sendiri tapi duitnya nggak kekumpul untuk beli alias nggak ada budget. Lebih tepatnya lagi, nggak punya duit (duh, bilang kere aja diplomatis banget sih My).
Giliran udah punya duit sendiri, ehh malah beli yang lain.
Beberapa bulan ini saya pinjam punya tetangga. Tapi kurang semangat mainnya karena senarnya kurang enak.
Mau ganti, malas sekali.

Nah, tadi malam entah ada angin surga dari mana, sahabat saya sms. Dia bilang mau ke rumah nitip gitar. Katanya mau dijual. Barusan aja, dia mampir ke rumah nganterin gitarnya itu. Dia cerita kenapa dia mau jual. Trus saya iseng bilang, sebenarnya pengin beli gitar juga. Eh, dia bilang "Yaudah kamu aja yang beli, jadinya kalau aku kangen bisa ke rumahmu main gitarku".

Setelah melewati tawar-menawar yang alot (lebay), akhirnya gitar itu sekarang milik saya. Alhamdulillah kami setuju di harga persahabatan (karena bisa dicicil seumur hidup. ahahhaha). Akad jual belinya kami lakukan dengan saksi Om Gmail dan Paman Yahoo Mail. Makasih sahabatkuuu akhirnya aku punya gitar juga!

Langsung saya pandang-pandangi jodoh (baca: gitar) saya itu. Dia dari ras Yamaha akustik, marganya C-40. Hmmm mau dikasih nama siapa ya? (saya sering memberi nama barang-barang saya). Nggak jauh dari si gitar, ada boneka Elmo punya keponakan saya. Hmmm, Elmo lucu juga. Yaudah, mulai sekarang gitar itu namanya Elmo! "Kenapa Elmo? Kenapa nggak Bahtiar atau Herman?" tanya sahabat saya. Ahahahaha. Pokoknya Elmo!

Asikkk, jadi semangat mau latihan dan main lagi... Yeayyy! Dan yang harus saya lakukan segera adalah, memulangkan gitar pinjaman yang jarang dimainin itu. Hihihihi.



Selamat Sore Jakarta,
Ayo mainkan gitarmu :)





Update (16 Feb 2012): Saya sudah menebus Elmo dengan tunai. Alhamdulillah ada rezeki, jadi nggak perlu nyicil berbulan-bulan. Ahaahhaha #lebay. Artinya, Elmo sudah benar-benar milik saya. Yeayyy!!

Tuesday, January 31, 2012

[CelebriTues] Reda Gaudiamo: Madame Tigresse


Disclaimer: Tulisan ini opini subjektif saya pribadi, selama berteman dengan Mbak Reda :) Ini juga bukan tulisan berbayar :p 


"Pada CelebriTues edisi ini, saya mau bercerita tentang teman kuliah yang sekaligus pernah jadi bos saya."


Pada tulisan dan suaranya,
saya jatuh hati.
(Foto: Sendie Nurseptara S.)
Di kelas, saya paling suka duduk di depan. Namun, malam itu saya harus duduk di barisan kedua karena terlambat datang. Kuliah sudah dimulai dan agak membosankan. Pandangan saya tertuju pada perempuan berambut pendek di sebelah. Bersama sebuah pulpen, jarinya menari di atas kertas. Tak jelas menggambar apa, sepertinya sih bagus.

Namanya Reda Gaudiamo. Saya sempat bingung melafalkan namanya, "Reda" seperti pada kalimat "Hujan sudah reda." atau seperti pada kata "etalase"? Ternyata yang kedua. Reda, nama yang unik.

Gayanya sangat santai ke kampus, pakai jeans dan kemeja. Seingat saya, baru sekali melihatnya sedikit "resmi", yaitu di semester akhir. Malam itu dia memakai blouse dengan bawahan kain tradisional. Saya sempat memotretnya, tapi entah kemana foto itu.

Saya tidak tahu profesi Mbak Reda, sampai suatu hari seorang teman bilang Mbak Reda seorang praktisi media. "The Devil Wears Batik," begitu julukan yang terinspirasi dari film The Devil Wears Prada. "Kata temen gue, di kantor dia itu seperti singa. Seram," bisik teman saya lagi. Oh ya? Saya tak terlalu peduli, toh dia bukan bos saya. Hanya teman sekelas. Lagipula sebagai teman, dia orang yang sopan dan menyenangkan. Pernah sekali, dia berhalangan hadir dan ingin menitipkan tugas. Tak tanggung, dia mengirim supirnya untuk mengantarkan tugasnya itu ke rumah saya di ujung dunia (baca: Bekasi). Sementara, orang lain sering seenaknya kalau meminta tolong.

Layaknya teman sekelas, kami beberapa kali belajar bersama. Kebetulan, saya sedikit mengerti Statistik. Bersama teman yang lain, kami membuat kelompok belajar. Dan hasilnya memuaskan. Kami dapat nilai A, termasuk Mbak Reda. Sebenarnya, Mbak Reda orang yang cepat tangkap bila diajarkan sekali saja, tapi ia tak sabar ingin segera ke tingkat berikutnya. Sehingga, suka lupa materi sebelumnya. Ahahahaha.

Permen dari Mbak Reda.
Dia pernah menghadiahi saya sekotak permen dan CD. Permen yang hingga kini saya suka dan tak tahu belinya di mana. Sedangkan, di dalam CD terdengar suara merdu seorang perempuan menyanyikan syair-syair indah. Setelah membuka cover CD, saya baru tahu itu suara Mbak Reda! Tak sangka ia punya suara merdu begitu, padahal saat bicara suaranya relatif berat. "Mbak, itu beneran suara lo?" tanya saya tak percaya. Dia cuma tersenyum. Keraguan saya hilang saat kami sekelas karaoke bersama.

Saya juga baru tahu dia punya pasangan duet, Ari Malibu, yang sering menyanyikan musikalisasi puisi. Beberapa kali saya menonton pertunjukan mereka. Keren! (Baca kisah lengkap mereka di Dunia Ari Reda).

Dari Teman Jadi Bos
Singkat cerita, saya menjadi anak buahnya di Majalah Sekar. "Tapi lo jangan kaget yah lihat gue di kantor," begitu  pesan Lulusan Sastra Prancis Universitas Indonesia ini. Memangnya kenapa? Sejak hari pertama masuk hingga resign, saya akhirnya mengerti apa yang Mbak Reda maksud. Di situ saya mengenal sisi lain seorang Reda Gaudiamo.

Perempuan kelahiran 1 Agustus ini seperti lambang zodiaknya jika sedang bekerja. Ya, seperti Singa atau Harimau betina. Galak? Iya, tapi demi kebaikan bawahannya. Lebih tepatnya lagi, demi kebaikan majalah kami. Dia tak pernah setengah-setengah atau main-main kalau soal pekerjaan. Untuk itu, dia datang lebih pagi dari kami dan (sering) pulang lebih akhir dari kami.

Kadang omelan atau bentakan menjadi pilihan terakhir agar kami bisa mengerti kesalahan kami. Walaupun secara langsung saya belum pernah "disemprot" Mbak Reda, tapi tim saya cukup sering jadi sasaran. Artinya, teguran itu juga buat saya dong. Mungkin karena sudah mengenal dia sebelumnya, saya tahu sebenarnya dia bermaksud baik. Dia ingin kami mengenal dengan detail majalah apa yang sedang kami garap. Tapi memang, tidak semua orang bisa memahami caranya. Ada beberapa orang yang justru tidak bisa dengan cara begitu. Wajar saja.

Ternyata kami ga pernah foto berdua.
Kapan-kapan ya Mbakkkk :)
Kalau kamu paham, omelannya bukan sekadar luapan emosi. Di situ, dia memberikan banyak pelajaran. Saya sering ikut mendengarkan "tutorial" dia saat mengomentari Tim Fashion dan Tim Layout. Dari situ saya belajar pengetahuan baru seperti komposisi layout, pilihan baju atau model yang harus sesuai dengan sasaran pembaca majalah kami. Dan masih banyak ilmu lainnya.

Yang saya suka dari Mbak Reda adalah, dia profesional. Dia hanya "murka" untuk urusan kantor. Tidak merembet ke urusan personal. Di luar kantor, dia bisa saja tiba-tiba mentraktir anak buahnya yang baru "disentil" tadi pagi. Kalau sudah begitu, si Anak Buah hanya bisa melongo melihat bosnya yang "agak aneh" itu. Ahahahaha.

Saya ingat betul kalau sedang deadline dan Mbak Reda ada di ruangannya, kami semua jadi tegang. Karena sedikit saja kami agak berisik, auman Mbak Reda segera membahana. Ahahahaha. Memang sih, kami yang keterlaluan. Ahhh, kangen suasana Imam Bonjol 61!

Oiya, selain suaranya, saya juga ngefans sama tulisan Mbak Reda. Ya temanya, ya gayanya. Tema tulisan opini Mba Reda adalah masalah sosial sehari-hari di sekitar kita dan biasanya *jleb* atau menyentil. Sedangkan gaya tulisannya, sederhana. Dia jarang memakai kalimat panjang. Saya suka! Silakan baca tulisan Mbak Reda di Rumah Reda atau Reda Writes.

Mau kenalan dengan Mbak Reda? Silakan follow akun Twitternya: @RedaGaudiamo. Dia sering share tips menulis #YouWrite atau tips yang lainnya lho... Atau mau dengar her angel voice? Silakan pesan CD musikalisasi puisi Becoming Dew dan Nyanyian Laut di @RedaGaudiamo.

Selamat berkenalan dengan Madame Tigresse! :)


Di hari Selasa nan sentosa ini, saya punya 3 set CD Mbak Reda yang akan saya bagikan gratis untuk teman-teman yang suka musikalisasi puisi. Caranya? Tulis puisi karyamu, lalu posting di blogmu. Puisi bebas, yang penting baru dan belum pernah muncul di manapun. Tiga orang yang beruntung akan menerima 1 set CD Mbak Reda (Becoming Dew dan Nyanyian Laut). Jangan lupa, kasih tau yaa kalau sudah posting puisi. Saya tunggu sampai akhir pekan (Minggu, 5 Februari 2012). 
Note: CD hanya untuk dinikmati sendiri, dilarang keras mengunggah atau memperbanyak.






Thursday, January 26, 2012

Vocab Oh Vocab...

Credit: Thiago Felipe Festa (sxc.hu)

Percakapan dengan seorang teman baru.
Saya manggil dia Upil, dia manggil saya Montok.

Jadi ya, Si Upil ini kemampuan linguistiknya sangaaat baik. Bahasa Inggrisnya, lisan dan tulisan, sangat baik. Dia juga bisa Bahasa Belanda. Kalau mood belajar bahasa lain, saya rasa dia cepat tangkap.

Saya: Ih canggih jadi guru EF. Ajarin gue donggg. Grammar sih masih lumayan, bisa belajar sendiri. Vocab, lumanyun :( 
Upil : Heh? Masa sih? Lo kan jurnalis. Pasti english nya bagus. Kalau soal vocab susah ngajarinnya. Itu masalah otak lo yang susah ingat, Ntok. (Sial. Mungkin benar juga).
Saya: Ya, minimal lo kasih gue vocab yang susah setiap hari. Kasih tau artinya, nanti gue ingat-ingat.
Upil: Ah lo Ntok. Gue kasih tau bahasa Padang "maco" aja lo lupa mulu artinya ikan asin.
Saya: Pill, gue serius pengin bisa nulis dan ngomong english yang rada beneran.
Upil: Oke, gue kasih tips sedikit ya. Tips ini sebenarnya jarang gw lakuin. Ahahahahaha.
Saya: Yeee, gimana sih?
Upil: Oke, serius ya. Setiap hari, mulai sekarang:
  • Lo coba baca JakartaGlobe. Menurut gue Bahasa Inggrisnya lumayan gampang dimengerti.
  • Tapi sebelum itu sebaiknya lo baca Detik atau Kompas, biar nyambung. Jadi, lo nggak bingung-bingung banget baca JakartaGlobe-nya.
  • Nah, setiap ada kata baru yang lo nggak tahu, catat. Cari artinya, di Sederet juga boleh.
  • Abis itu, coba bikin resume singkat dari berita yang lo baca itu, pake si kata baru itu. Begitu. Tapi, lo harus rajin. Nggak boleh males.
Saya: (angguk-angguk, nggak yakin bisa nggak males).

Beberapa waktu lalu, Ikot, teman kuliah saya, juga pernah saya tanyai soal Bahasa Inggris. Dia pernah ikut short course ke NZ. Hampir mirip penjelasan si Upil, Ikot bilang begini (kira-kira):
"Kalau soal ngomong Bahasa Inggris, menurut gue sih cuma masalah pede aja. Palingan gue dilatih untuk baca buku atau artikel yang berhubungan dengan akademis (misalnya jurnal atau karya ilmiah lainnya). Nah kalau nemu kata yang lo nggak ngerti, catat deh di kartu kecil gitu. Cari artinya dan cari pasangan kata atau atribut yang biasanya ngikutin kata itu. Misalnya subdivided (biasanya diikutin kata) into(Sebenarnya bukan frase ini yang dicontohin Ikot. Saya lupa :( ). Trus, coba bikin kalimat pakai kata atau frase itu. "
Baiklah teman-teman, saya coba yah...
Ada yang mau kasih tips gimana bisa cas cis cus dan koleksi vocab bertambah? Bagi-bagi ilmu ya...



[sedang mendengar: Album Quite Down - Adhitia Sofyan, yang baru diunduh kemarin :D]

Tuesday, January 24, 2012

[CelebriTues] Gengbelengan: Different Colours, One Rainbow


Gengbelengan formasi lengkap!
Akhirnya, saya "kacamata"-an juga lhoo :p
Cibubur - 31 Dec 2009



"CelebriTues edisi ini bahas sahabat SD dan SMP saya. Kebetulan sudah lama tidak ngumpul lengkap. Kangen."

Kami berlima. Ade, Ayu, Fadli, Mas Fani, dan saya. Ade, Mas Fani, dan saya se-SD. Lalu bertemu Ayu dan Fadli di SMP. Kami dekat sejak SMP karena sering main dan pulang bareng. Kenapa bisa awet sahabatan? Entahlah. Mungkin karena persahabatan kami tanpa embel-embel. Berteman tanpa mikir untung-rugi. Beda ya, kalau berteman di kuliah yang kadang suka "milih-milih".

Meminjam istilah seorang teman, karakter kami seperti warna-warni dari pelangi yang sama. Saling melengkapi. Ada Ade, sesepuh (padahal hanya beda kelahiran 1 tahun, tapi kami kekeuh bilang dia tua), yang akrab kami panggil Kancut. Dia plegmatis. Nggak suka konflik, pendengar yang baik, royal, dan good helper. Campuran Virgo-Libra (lahir 23 September 1982) ini sering jadi tempat curhat atau menemani kami ke suatu tempat. Ya, dia siap mendengar keluh kesah dan kasih advice kalau diminta. Ade juga sering jadi mediator kalau di antara kami ada yang slek. Selain itu, emang seru kalau kemana-mana ditemani Ade. Karena dia orangnya mau-an ("murahan"). Tapi kalau jadwal katering sedang padat, susah juga "nyulik" dia.

Soal royal? Jangan ditanya. Kalau dapat bonus, dia nggak ragu-ragu sms saya: "Nanti sore Pizza Hut, yuk." Bukan sekadar ngajak, tapi everything at that noon was on her. Atau nggak, tiba-tiba jadi donatur uang bensin. Penggemar makanan berkeju ini Pelor banget alias "nemPEL langsung molOR". Ritual DVD Marathon di rumah Fadli bakal terbalik buat Ade. Bukan dia yang nonton tivi, tapi tivi yang nonton dia. Nggak cuma pas nonton, di mobil dia juga gampang tidur. Di warung indomie, saking ngantuknya dia hampir merem. Padahal sedang duduk ngobrol dengan kami. Janji bergadang di kamar saya adalah janji buaya. Baru 15 menit ngobrol, dia sudah meringkuk ke dalam selimut. Tiba-tiba hening. Yak, Ade molor.

Begini nih malam minggunya jombloers.
Pondok Kelapa (rumah Bude-nya Mas Fani).
Desember 2009, minus Ayu.


"Nggak Bang," kata Ayu menggeleng kepada Supir Angkot yang nawarin kami tumpangan. Ya, Ayu perhatian sama orang lain. Sementara kami cuek saja. Toh kami nggak nyetop angkot itu. "Kasihan Abangnya nungguin," kata Ayu. Mulia sekali yaaaa. Leo betina ini adalah "dokter" andalan kami. Apoteker yang sering kami tanya-tanyain soal obat-obatan. Kalau gejalanya begini obat yang bagus apa, trus apa efek sampingnya, atau alternatif obat dengan bahan dasar sama tapi lebih murah, dsb. Dia juga sering jelasin masalah kesehatan. Kami terkesima mendengar ulasan yang ilmiah dan detail, lengkap dengan istilah-istilah farmasi yang asing di telinga. Karena sering bersentuhan dengan masalah kesehatan, Ayu sangat higienis. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan? Wajib.

Ayu tidak suka basa-basi tapi sering merasa tidak enak-an. Tepatnya, dia sopan sekali. Misalnya, mikir dua kali kalau diajak kondangan teman atau saudara saya yang bukan teman dia. Dari kami berlima, Ayu yang paling "nggak murahan". Kalau sudah bilang nggak mood keluar rumah, biar diracunin gimana pun (misalnya ngajakin makan jajanan favorit dia a.k.a mie ayam), nggak bakal mempan. Dia tetap ngendon di rumah, tentu dengan koleksi DVD drama Koreanya. Penyuka karakter Monkichi ini hidup teratur dan disiplin. Semuanya terjadwal. Agak susah mendadak janjian dengannya. Apalagi kalau tempat janjian tak searah jalan pulang dari kantornya. Karena disiplin, bukan sekali dua kali Ayu terpilih jadi best employee. Sayang, reward jalan-jalan keluar negerinya belum rezeki. Next time giliran lo Yu! Apalagi sudah punya passport.


Mas Fani's birthday (24/12/2010), minus Ayu.
Umur sudah 72 lebih, kelakuan macam anak Tk -__-


Ngupil bukan perbuatan terkutuk. Tapiii, kalau ngupilnya tiap detik (rada lebay nih saya) trus upilnya dipeper kemana-mana??? Yak, itulah Mas Fani. Duh, saya seram ditampol dia nih karena baru saja melakukan pembunuhan karakter. Soal nampol menampol, saya dan Mas Fani punya "cerita romantis" waktu SD. Dulu ya.... Masa Mas Fani pernah nampol saya gara-gara saya ledek. Memang sih, saya yang jail. Nggak nyangka dia beneran nampol. Huhuhu. Sekarang? Ughh, awas saja kalau berani! Gue smack down lo Mas, mau? Kebiasaan minus Mas Fani lainnya adalah latah! Sudah gitu latahnya nyebut "property" sendiri! Nah, ini yang bikin saya seram jodohin dia ke teman saya. Malu, kalau Mas Fani sampai "kumat". Ahahahaha.

Kebiasaan ngupil dan latah nggak akan jadi masalah kalau kamu tahu betapa family man nya cowok Capricorn ini. Dia sayang banget sama keluarganya, begitu pula sama sahabat-sahabatnya. Si Melankolis sabar menghadapi sahabat-sahabatnya yang ajaib. Dia juga pendengar yang baik. "Hush, dengerin dulu Ade sampai selesai," katanya karena saya bawel nyamber cerita Ade. Saya sering cerita ke dia kalau lagi galau. Dia tahu apa yang saya mau: didengarkan tanpa dihakimi. Dia juga sayang banget sama [mantan] pacar-pacarnya. Tapi kadang jatuhnya lebih ke posesif sih (Peace Masss!). Soal kerjaan, Mas Fani orang yang fokus dan rapi. Walaupun suka panik dan bete kalau schedule-nya diutak-atik.

Waktu zaman keemasan dulu (tenang Mate, bentar lagi masa itu akan kembali. amin), Mas Fani sering jadi "cukong" kami. You named it, mau makan apa saja, pasti ditraktir. Kalau punya duit, dia royal dan boros! Dari dulu sampai sekarang Mas Fani adalah supir tercintah kami :* Thank you Mate. Nggak apa-apa kan pegal, ketimbang gue yang nyetir? Pembenci duren ini sangat memperhatikan penampilan. Rapi dan wangi. Sayang, wanginya lebih sering ketutup "wangi" rokok. Yup, Mas Fani is a bad smoker. Dia jadi "pasien" setia Ayu. Langganan diomelin karena rokok mulu. Oiya, Mas Fani suka Sarah Jessica Parker dan Olla Ramlan.

Abis kondangan bareng biasanya basian ke mol, 
karaoke, atau warung indomie.



Last but not leastmulti-talented Fadli. Cowok Pisces ini jago nyanyi (suaranya bagusss), bahasa Inggrisnya jago, pinter ngomongmarketer andal, bisa kayang, jungkir balik, joget poco-poco, dan balet. Empat skill terakhir, saya ngarang. Ahaahaha. Eh tapi, kalau ditantang, mungkin saja Fadli bisa. Sama seperti Mas Fani dan Ayu, pengagum Andien ini kalau kerja juga rapi dan profesional. Banyak bidang yang pernah dia coba. Kami senang punya cerita baru dari pekerjaaan-pekerjaaannya itu. Seru! Dia juga teman diskusi yang asik karena pengetahuannya luas. Selain Ade, Fadli sering nemenin kami ke suatu tempat. Kalau ada waktu, dia pasti bersedia nemenin ke mana dan kapan saja.

Seperti tagline sebuah rokok kretek, "Nggak ada loe, nggak rame!" Ya, kalau nggak ada Fadli nggak rame. Nggak ada dia, saya kehilangan partner nyela atau nyinyir sekaligus "ngebadut". Tim Silet, istilahnya Fadli. Dia nyablak, dannnnnnn ada saja celaan dan celetukan lucu, ajaib, sekaligus dalem dari dia. Waktu Ade mengeluh, "Duh gue nggak punya pantat." Fadli langsung nyeletuk,"Heh? Kalau nggak punya pantat, be*l lo keluar dari mana? Dari mulut?" Lain waktu saya berangan-angan, "Pengin deh ke daerah yang bersalju." Jawaban Fadli sumpah bikin ngakak"Gih sono ke Papua. Kan gunungnya ada salju." Nggak habis pikir, kok bisa Fadli nyeletuk begitu. Spotan pula, nggak pakai lama mikir. Satu-satunya yang bikin dia mendadak "diem" dan masang plang "Awas Fadli Galak" kalau lagi laper berat.  Oiya, Fadli resik dan rajin mandi.

Ingatlah Hari Ini
Setelah kurang lebih 15 tahun, banyak suka duka kami lewati. Misalnya beberapa persoalan pribadi yang bikin hubungan merenggang. Tapi kadang itulah yang menguji sampai di mana persahabatan kami dan bikin kami "pulang ke rumah". Cobaan terakhir terjadi akhir tahun 2009. Mas Fani jatuh di kamar mandi dan mengalami sedikit amnesia karena trauma otak ringan. Dia cuma ingat memori waktu SD. SMP ke atas, dia lupa. Dia cuma ingat saya dan Ade. Sama Fadli dan Ayu lupa. Sedih deh. Waktu itu kami emang sedang sibuk dengan pekerjaan dan urusan masing-masing. Sejak kecelakaan itu, alhamdulillah kami mulai ngumpul lagi.

Iseng (lebih tepatnya, bokek sih) tingkat tinggi,
jalan tapi cuma ngendon di TransJakarta Pinang Ranti - Grogol (pp).
(Pertengahan 2011, minus Ade dan   Mas Fani)


Berantem? Tentu kami pernah. Justru itu bumbu persahabatan. Yang beberapa kali dan akhir-akhir ini sensi-sensian adalah The Boys (Fadli dan Mas Fani). Keduanya memang sama-sama sensi dan keras. Hmm, kalau begini, kami para cewek bingung mau mendamaikan. Paling cuma bisa berdoa. Huhuhu. Jangan sampai menyesal kehilangan sahabat. Masa harus ada salah satu yang sakit dulu baru baikan? Amit-amit ah. Para cewek juga pernah berantem. Tapi alhamdulillah, cepat kelar dan nggak dipendam. Terakhir slek waktu ke Bali. Padahal sudah happy jalan-jalan, ehhh pas pulang malah berantem. Ahahahaha. Sekarang lumayan bisa jadi bahan ketawa.

Kalau sedang kesal sama salah satu dari mereka, saya langsung ingat-ingat kebaikan sahabat-sahabat saya itu dan masa-masa seru dan gokil kami. Mereka kompak jemput ke rumah demi mendapat izin dari Papa dan Mama saya. Saya emang paling susah keluar rumah. Tapi biasanya, kalau saya bilang perginya sama Gengbelengan, Mama Papa saya ngizinin. Apalagi kalau di jemput dan diantar sampai depan rumah.

Saya juga ingat ritual DVD marathon di rumah Fadli. Kamar Fadli (dan adiknya) kami  rampas demi acara khusus itu. Bisa sehari semalam! Dengan persiapan cemilan dan setumpuk DVD bajakan abangnya Fadli. Walaupun yang biasanya konsen nonton cuma saya, Mas Fani, dan Ayu. Fadli kadang rebahan di kasur, sesekali ikut nyeletuk usil. Ade? Sudah ketebak dong. Yup, dia molor.... Kalau dipikir-pikir nggak banget ya, kami para cewek tidur-tiduran di kamar cowok. Tapi kami memang sudah dekat banget. Cuek kentut (kalau bau, tinggal timpuk), ganti baju, tidur-tiduran, dan lain-lain.

Kerokan sudah jadi ritualnya Fadli - Ade kalau ketemuan. 
Fadli hobi masuk angin. Ahahahaha. 
Asli ya ini foto kayak di Buser, pake diblur-in segala.



Kami juga sering bertemu dadakan. Justru ini efektif daripada direncanakan jauh-jauh hari. Dulu sih sering, baru aja Senin, kami sudah ngumpul lagi. Padahal weekend kami sudah bergadang. Kami menyebutnya "Gaul Prematur". Karena yang penting buat kami adalah ketemuan, tempat tak menjadi masalah. Mau nongkrong di warung tenda roti bakar belakang Pondok (pertokoan dekat rumah kami, Pondok Gede-Bekasi) ayo saja... Makan KFC atau bakso di Pondok, juga boleh. Habis itu karaoke dan nonton ke Pondok lagi, hajarrr! Kok Pondok melulu? Itu yang paling dekat dan murah. Ahahahaha.

Ngobrol dari A-Z, dari kutub utara - kutub selatan.
Nggak ada habisnya.
New year's eve, 31 Dec 2009, Dunkin Donuts PONDOK!


Ahhhh, tulisan yang sudah panjang lebar ini tetap nggak cukup untuk nyeritain mereka dan petualangan kami. Ini ada sedikit cuplikan pembicaraan ngalor ngidul kami kalau sedang ngumpul atau jalan. Coba dengar betapa ributnya kami. [Note: abaikan suara sendawanya Fadli]. Ah, saya kangen mereka. Weekend ini harus ngumpul. Harus.







Sunday, January 22, 2012

Urus SIM Hilang Cuma 1 Jam!

Dengan sistem chip, data kita sudah tersimpan secara online.

Oke, saya mau cerita Tour De Samsat tahun lalu (Maret 2011). Singkat cerita, dompet dan ponsel saya hilang. Salah satu dokumen penting yang ikutan raib dan harus dibuat baru adalah SIM A. Hmmm, memangnya penting banget diurus yah? Nggak juga sih. Karena toh saya jarang (hampir nggak pernah, malah) nyetir mobil. Tapi, karena takut sewaktu-waktu SIM itu diperluin, saya akhirnya meluncur ke Samsat di Kalideres, Jakarta Barat. Aslinya sih, malas sangat. Selain tempatnya jauh, saya sudah ngebayangin prosesnya akan bertele-tele, lama, dan 'boros'. Kepenginnya sih nyerahin semua ke calo (nggak mau susah). Tapi karena bokek, mending ngurus sendiri deh.

Bikin Surat Kehilangan dan KTP Dulu
Iya benar, sebelumnya saya sudah buat Surat Keterangan Kehilangan di kantor polisi terdekat. Prosesnya realtif gampang dan cepat kok. Kita cuma bawa copy-an KTP, Kartu Keluarga, atau identitas resmi lainnya. Lalu, laporkan semua dokumen yang hilang. Lebih bagus kalau kita punya salinan dokumen tersebut. Oiya, jangan lupa minta legalisasi sejumlah yang kita butuhkan. Kemarin saya buat 6 rangkap: untuk urus KTP, SIM, 2 ATM, NPWP, dan arsip pribadi. Umumnya, tiap instansi akan minta surat keterangan yang asli.

Trus, biayanya berapa? Kayaknya sih gratis. Tapi pas seorang oknum petugas salah tingkah bilang "Terserah mau ngasih berapa," saya akhirnyanyodorin Rp20 ribu. Saya sih nggak merasa 'dirampok'. Anggap saja, itu traktiran karena mereka kerjanya cepat. Tidak sampai 15 menit sudah kelar. Tujuan selanjutnya adalah ke rumah Pak RT - rumah Pak RW - Kelurahan - Kecamatan.Ngapain? Yups, bikin KTP! Seminggu kemudian, KTP baru sudah di tangan. Tanpa biaya! Jempol buat Kecamatan Pondok Melati - Bekasi.

[Udah Nggak] Jauh
Saya bikin SIM tahun 2004. Waktu itu ikutan SIM kolektif dari kampus. Dan seingat saya, Samsat Kalideres itu jauhhhhhh banget di ujung dunia. Maka, ketika mau ngurus ke sana lagi, saya ngebayangin capeknya perjalanan ke sana. Sebelum berangkat saya cari-cari info di internet soal cara urus SIM hilang dan trayek angkutan umum menuju ke sana. Informasi yang saya butuhkan pun ketemu dan sangat detail. Plus tip dan triknya. Ternyata banyak orang yang bilang mengurus sendiri itu cepat dan murah. Baiklah, saya semakin mantap urus sendiri. Berita baik lainnya adalah Samsat Kalideres dilewati busway. Dari Pinang Ranti (Koridor 9, Pinang Ranti - Pluit), transit di Grogol 2 (naik Koridor 3, Harmoni - Kalideres), lalu turun di halte Taman Kota. Dan katanya, dari situ tinggal jalan sekitar 200 meter. Semoga saja sesuai dengan kenyataan.

Trauma Kejadian Apes saya masih berlanjut. Saya jadi parno keluar rumah sendiri, apalagi harus naik Transjakarta dan melewati jembatan penyebrangan. Supaya aman, saya membajak sahabat Gengbelengan saya, Mas Fani, untuk nemenin saya. Tadinya saya mau pergi hari Sabtu, tapi Mas Fani nyaraninweekdays saja. Rabu jadi pilihan. Si Sahabat pun rela bolos demi Sahabatnya nan rempong sedunia ini. (Thank you Mas Faniii :*).

Tuh kan benar apes saya belum hilang. Pas sudah sampai di UKI, saya baru ingat kalau Surat Keterangan Kehilangan ketinggalan di rumah. Saya  cuma bawa KTP baru dan fotokopi SIM yang hilang. Tadinya udah pengin ngebatalin acara bikin SIM dan lanjut gembelengan nggak jelas sama Mas Fani. Habisnya sayanggak ngebayangin kalau harus balik ke rumah yang macetnya ampun-ampunan. Tapi, pas ingat kalau Mas Fani bolos kerja demi saya dan nanti belum tentu dia bisa nemenin saya lagi, akhirnya otak kreatif sama kasih alert: bikin Surat Keterangan Kehilangan lagi di kantor polisi terdekat! Setelah nanya-nanya sama Pak Polisi yang mangkal di UKI, akhirnya saya memilih Polsek Jatinegara, Otista. Alhamdulillah, prosesnya pun cepat. Saya ngasih Rp10 ribu.

Tepat di depan Polsek Jatinegara, ada halte Transjakarta. Saya langsung naik ke tempat janjian sama Mas Fani di Halte Sarinah. Berarti rute Transjakarta yang saya harus lewati Kampung Melayu - Matraman - Dukuh Atas - Sarinah. Alhamdulillah, perjalanan lancar dan nggak begitu ramai. Sesampainya di Halte Sarinah, Mas Fani langsung masuk ke Transjakarta yang saya naikin. Dari situ kita transit di Harmoni, pindah ke Koridor 3 jurusan Pulogadung - Kalideres. Di Halte Taman Kota kita turun. Yang bikin kita amazed adalah, cuma kira-kira 15 menit kita sudah sampai! Ternyata sekarang Samsat Kalideres sudah nggak di ujung berung lagi. Hahahaha. Sebelum turun tangga penyeberangan, saya nanya ke petugas Transjakarta lokasi Samsat Kalideres. Dia menunjuk lurus papan petunjuk arah yang tidak begitu jauh dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Hmmm, ternyata beneran nggak jauh.

Calo Melulu
Saat saya dan Mas Fani mau jalan di penyebrangan, tiba-tiba ada lelaki yang menyapa Mas Fani dan bilang "Mau bikin SIM baru atau perpanjang SIM, Mas?". "Ih dia tahu saja," celetuk saya sambil senyum kode ke Mas Fani. Sementara Mas Fani cuma senyum dan menggeleng ke lelaki itu. Gila yah, calo-calo zaman sekarang udah canggih-canggih. Mereka sampai "jemput bola" di jembatan Transjakarta. Ckckckck.

Segitu aja teror calonya? Tidak dong! Iya benar, sepanjang jalan kami ke Samsat, semua yang teridentifikasi sebagai calo menyapa kami dan nawarin jasa mereka. Untung ada Mas Fani yang udah terlatih senyum-senyum geleng ngadepin para calo itu. Oiya, lucunya lagi, tukang ojeg pun ikut-ikutan "double job". Mereka sampai rela cuma dibayar ongkos ojeg Rp2000 demi meluncurkan tawaran manis jasa calo mereka.

Bagi kamu yang tidak punya banyak waktu tapi punya banyak uang, calo emang berjasa. Sedia uang Rp300-500 ribu, Anda tinggal duduk manis sekitar 1 jam lalu dipanggil foto dan voila, SIM pun jadi! Ternyata setelah masuk ke dalam Samsat, nggak cuma tukang ojeg yang punya double job. Mulai tukang foto kopi, mbak-mbak penjual di kantin, sampai oknum polisi sendiri, ikutan unjuk gigi jadi "pemulus urusan". Saya memergoki oknum polisi sedang negosiasi harga dengan calon pelanggan. Saking sibuknya "jualan", polisi itu nyuekin saya waktu bertanya soal tempat pendaftaran.

Benaran 1 Jam
Di blog yang saya baca, tempat pendaftaran pertama kali di dekat kantin. Tapi di kantin itu sama sekali tidak ada petunjuk. Cuma ada tulisan "Tes Kesehatan". Saya dan Mas Fani sempat bolak-balik mencari tempat pendaftaran. Rupanya, loket bertuliskan "Tes Kesehatan" itu yang menjual formulir permohonan SIM. Harga formulir Rp20 ribu. Yang dibutuhkan adalah KTP asli, surat keterangan hilang, dan fotokopi SIM yang hilang (kalau ada). Petugas mengingatkan saya untuk Tes Kesehatan mata di belakang loketnya, lalu menuju BRI, lanjut ke lantai 2, dan loket 18. Sebelumnya dia juga mengingatkan kami untuk tidak menggunakan jasa calo. "Cepat dan gampang kok ngurusnya," kata Si Petugas.

Tes mata cuma lima menit. Saya disuruh membaca huruf-huruf yang ditampilkan. Dari situ kami menuju loket BRI. Biaya pengurusan SIM hilang sama dengan perpanjangan SIM, yaitu Rp80 ribu. Saya kemudian menuju loket pengisian formulir. Tapi saya malah disuruh ke loket asuransi. Sempat baca di blog kalau asuransi itu nggak wajib. Di loket itu saya harus bayar premi Rp30 ribu. Setelah mengisi formulir, lantas saya harus ke lantai 2 untuk proses pengecekan data-data. Lucunya, di sini saya "dipalak" Rp30 ribu. Setelah sebelumnya oknum petugas menanyakan tempat kuliah saya dan mobil yang sering saya pakai. Saya dipatok harga segitu karena mengaku kuliah di Pascasarjana UI dan menyetir mobil Avanza. Nggak kebayang kalau saya mengaku menyetir BMW atau Jaguar. Pasti mereka minta Rp100 atau 200 ribu. Sigh. Tapi karena pengin cepat selesai, saya malas berdebat soal pungutan liar tak berkwitansi ini. Lagi-lagi, saya anggap Rp30 ribu itu adalah traktiran saya buat mereka yang mempercepat proses pengurusan SIM hilang ini.

Dari situ saya lalu turun ke lantai dasar menuju loket 18, loket khusus permohonan SIM yang hilang. Di sini pun cuma legalisasi sebentar, lalu saya disuruh ke ruang foto. Di ruang foto saya antrian ke 3. Nggak sampai 10 menit saya sudah difoto dan disuruh menunggu panggilan pengambilan SIM. Nggak lama kemudian nama saya dipanggil. Padahal di ruangan itu masih banyak orang yang belum dipanggil. Mungkin karena data SIM saya sudah ada, jadi prosesnya pun cepat. Hampir 1 jam, SIM saya sudah di tangan. Dan saya  puas. Walaupun, kurang puas sama foto di SIM. Hahahahaha. Jadi, total biaya pengurusan SIM hilang ini hanya Rp160.000. 

Oiya, harusnya setelah itu saya bisa mengambil kartu asuransi dengan menunjukkan resi pembayaran premi plus SIM yang sudah jadi. Tapi kemarin saya lupa ngambil, saking senangnya SIM saya sudah jadi dengan cepat dan murah. Good luck untuk kamu yang mau ngurus SIM juga!

Tips and Trik:
1. Siapin berkas-berkas yang lengkap. Fotokopi yang banyak supaya tidak ribet cari fotokopian di sana. Lagipula, harganya pasti lebih mahal.
2. Bawa pulpen dan pensil.
3. Boleh menolak asuransi.
4. Boleh menolak pungli di bagian pengarsipan.