Showing posts with label lesson learned. Show all posts
Showing posts with label lesson learned. Show all posts

Tuesday, March 13, 2012

[CelebriTues] Ibu Aman Purba: "Siapa Kau Dan Siapa Saya?!"


CelebriTues kali ini bahas salah seorang guru SMA saya. Galak tapi bikin mikir.

Namanya Ibu Aman Purba. Beliau guru sejarah waktu saya kelas 1 SMA. Saya tidak tahu berapa pasti berapa usianya waktu itu (1998). Namun dari fisiknya, saya mengira beliau sudah late 40's. Entahlah sekarang beliau masih sehat dan masih mengajar atau tidak.

Dari namanya, kamu tentu sudah tahu beliau berasal dari mana. Ya, beliau dari Sumatera Utara atau Batak. Seperti stereotype yang sudah terbentuk, orang Batak diidentikkan orang yang keras dan galak. Begitu juga dia. Garis wajah dan suaranya yang lantang menambah "keangkeran" itu.

Gaya mengajar beliau menurut saya kuno. Kenapa saya bilang begitu? Karena beliau sangat text book. Saat mengajar, beliau sambil membaca buku yang kami punya. Kenapa harus dibaca ulang? Kami kan bisa membaca sendiri di rumah. Tapi saya yakin, setiap metode mengajar pasti ada keunggulan dan kekurangannya. Mungkin, dengan membaca bersama begitu, kami jadi ingat.

Kalau sedang membaca bersama begitu, sudah tentu kami tidak boleh ngobrol atau berisik. Karena, kami harus siap dipanggil untuk giliran membaca. Kalau lengah dan tidak bisa melanjutkan bacaan, siap-siap kena omelan Ibu Purba. Hihihi. Saya alhamdulillah belum pernah apes.

Ujian selalu hapalan mati dan dengan jawaban singkat (misalnya: nama tokoh, nama tempat, tahun, dan lain-lain). Saya sih kurang suka model ujian begitu, karena terlalu "sempit". Hihihihi, dasar saya protes saja. Dan yang bikin tambah "sempit" adalah soal yang didikte. Jadi, kami tidak bisa menunda menjawab. Anyway, ulangan sejarah saya nggak pernah bagus. Paling bagus 7.

Dari kekurangan yang dia miliki, ada satu kalimat yang selalu dia ulang-ulang tapi bikin saya mikir. Setiap marah karena kami berisik atau bandel (kelas 1-15 memang terkenal berisik dan sering bikin ngambek guru), dia selalu mengeluarkan kalimat sakti: "Kalian boleh bersikap masa bodoh seperti sekarang. Tapi kita lihat 10 tahun nanti. Siapa kau dan siapa saya?! Kalau 10 tahun nanti kalian jadi orang sukses, kalian boleh sombong. Tapi belum tentu kan?". Saya merinding mendengarkan kalimat itu dan berpikir apa yang akan terjadi pada saya 10 tahun nanti ya? Saya akan menjadi apa?

Siapa saya setelah 10 tahun? 10 tahun dari kelas 1 SMA, berarti tahun 2008, alhamdulillah saya sudah bisa sharing pengalaman lewat reportase dan tulisan. Tahun 2008 hingga 2010 saya jadi jurnalis di sebuah majalah. Tahun 2010 hingga sekarang, selain masih menulis sebagai freelancer, saya juga sharing ilmu lewat lecturing. Alhamdulillah saya bisa bermanfaat untuk orang lain. Amin.



Terima kasih untuk Ibu Purba yang sudah bikin saya mikir!

P.s: Sayang, saya tidak punya foto beliau. Hmmm, mungkin ada di buku tahunan. Nanti deh saya coba cari dan scan.




Thursday, March 8, 2012

Tentang Mama, Putrinya, dan Belajar Memasak

Taken from here.


Ya, setiap peristiwa terjadi untuk sebuah alasan. Begitu pula kejadian papa ngomel-ngomel karena nggak ada makanan. Salah satu alasannya mungkin karena saya harus mulai belajar dan mencoba memasak.

Sepulang Mama dari Padang, saya langsung cerita ke beliau soal omelan Papa. Reaksi Mama sedikit berbeda. Biasanya Mama akan menjawab, "Tuh kannn, emangnya enak nggak ada Mama?" Jawabannya kali ini cukup menenangkan hati, "Ayo,  sekali-kali belajar masak sama Mama. Lihatin Mama masak di dapur."

Pertanyaan yang kemudian muncul dari mulut saya seperti sebuah penuntutan tanggung jawab kepada seorang ibu. "Kenapa dulu Mama ngelarang emy bantuin di dapur? Kalau dulu boleh bantu, emy pasti sekarang sudah biasa di dapur." Hmmm, sebenarnya saya tidak berniat menyudutkan Mama. Hanya penasaran saja apa alasannya.

Mama diam sebentar, seperti menyesali sesuatu. "Dulu Mama kasihan sama kalian. Sudah capek di sekolah dan banyak pe-er. Sekolah kalian kan jauh." Tadinya saya ingin protes, karena saya ingat dulu Mama melarang saya karena takut direcoki. Tapi saya menghormati jawaban beliau. Jangan-jangan memang benar itu alasan sesungguhnya.

Akhirnya kami sepakat akan belajar memasak. Mulai dari masakan sehari-hari seperti nasi, sambal tomat goreng (menu wajib keluarga kami), sayuran dan lauk praktis lainnya. Sumpah ya, saya tidak bisa memasak nasi, padahal tinggal colok rice cooker. Saya tidak tahu takaran airnya. Dulu sekaliii, sewaktu berkemah, saya pernah belajar memasak nasi dengan dandang aronan, tapi saya sudah lupa.

Saya memutuskan berhenti menyesali hal yang sudah lewat. Justru saya bersyukur, karena omelan Papa, saya jadi tergerak untuk belajar memasak. Dan saya tidak perlu menunggu kondisi darurat dulu (seperti Mama sakit atau saya tinggal sendirian di luar negeri) baru "nyemplung" ke dapur. Alhamdulillah, saya masih punya kesempatan belajar langsung dari Mama. Siapa tahu kalau sudah terbiasa, saya bisa masakin Mama dan Papa. Mama tinggal duduk manis saja deh :)

Soal keterampilan memasak ini, saya teringat kicauan seorang teman kuliah di Twiter:
@nectarmadu: Renungan hari ini: life skill yg harus diajarkan sedini mungkin u/ anak: bercocok tanam&masak, jgn sampai mereka hanya jd 'penikmat' saja :)

Hmmm benar juga. Meskipun hidup dengan harta yang berkecukupan, orang tua harusnya jangan lupa mengajarkan anak life skill  dasar untuk bertahan hidup seperti memasak. Saya bertekad, kalau nanti punya anak, akan mengajarkan mereka memasak (termasuk anak laki-laki). Supaya mereka tidak seperti ibunya yang masih linglung di usia hampir menginjak kepala tiga.

Friday, March 2, 2012

Balada Oleh-oleh

Credit: monique72 (sxc.hu)

Ini cerita tentang oleh-oleh. Tepatnya, saat saya plesir ke Singapura April 2011. Bisa dibilang, ini pengalaman memalukan. Saya sadar itu semua terjadi karena saya lagi sensi berat. Padahal, biasanya saya cuek dan tidak perasa.

Begini ceritanya. Meski pergi dengan bujet paspasan, saya bela-belain membeli oleh-oleh untuk sahabat Gengbelengan. Padahal, sebelumnya mereka nggak minta apa-apa loh. Saya berinisiatif sendiri. Waktu itu saya menghindari oleh-oleh seperti gantungan kunci atau tempelan kulkas. Saya memilih oleh-oleh yang bisa kami nikmati bersama. Pilihan jatuh pada cokelat.

Saya membeli Hersey dan Ferrero Rocher. Emang di Jakarta nggak ada? Ada sih, tapi harganya di Singapura lumayan miring. Lagian mereka juga jarang beli cokelat itu. Biasanya kan coki-coki. Ahahahaha. Saya sudah membayangkan serunya kami menikmati cokelat-cokelat itu sambil ngobrol.

Karena sudah tidak sabar menyerahkan oleh-oleh itu, saya langsung mengajak mereka (minus Mas Fani, karena dia lagi lembur kerja) bertemu, tak lama berselang saya mendarat di Jakarta. Saya ingin sekali melihat wajah puas mereka menerima oleh-oleh saya. 

Tapi apa yang terjadi? Ade, yang terkenal berlidah sensitif, dengan polos dan tanpa rasa berdosa berkomentar "Ihhh manis bangetttt!" setelah mencicipi milk chocolate Hersey. Ayu, yang datang belakangan, saat melihat bungkus Hersey dan membaca tulisan milk chocolate, langsung protes "Yahhhh, milk chocolate yahhh??? Manis banget deh pasti. Gue kurang suka." Waktu Ade mencoba Hersey, Fadli sempat ikut mencicipi dan mengiyakan pendapat Ade. Tapi kemudian dia mengalihkan perhatian ke kotak cokelat Ferrero Rocher kesukaannya.

Sebenarnya wajar banget mereka berkomentar begitu. Toh selera orang berbeda. Lah, kalau kenyataannya milk chocolate memang manis dan tidak pas dengan lidah mereka, memangnya salah? Yang salah adalah saya, karena tidak menanyakan pasti cokelat jenis apa yang mereka suka.

Sekarang sih saya bisa berpendapat begitu. Tapi, waktu kejadian, saya sensinya setengah mati. Saat semua protes cokelatnya kemanisan, saya kecewa. Saya kira, saya akan menerima muka-muka bahagia dan excited. Tapi kenyataannya berbeda.

Sampai di rumah, saya langsung menelepon Mas Fani, cerita soal kejadian itu. Pakai nangis sesegukan segala. Ahahahahaha. Sampai akhirnya keluar kata-kata "Gue udah capek-capek nggak mikirin diri gue, ehh taunya begitu. Nggak bisa apa protesnya nanti aja? Minimal bilang terima kasih kek. Sumpah, besok-besok nggak akan gue bawain oleh-oleh lagi," uneg-uneg saya. Deg. Setelah lega, saya baru sadar. Ahhh iya, saya sensi pasti karena capek baru pulang. Ya namanya kondisi fisik melemah, kemampuan otak berpikir jernih juga menurun. Saya geli sendiri sama kekecewaan yang saya alami.

Bukan Kewajiban
Dari apa yang saya rasakan, meskipun waktu itu over sensi, saya akhirnya menyadari beberapa hal. Pertama, jangan pernah berharap apapun dari manusia, termasuk soal perlakuan yang kita terima. Kaitannya sama oleh-oleh? Ya, jangan berharap penerima oleh-oleh akan merasa senang atau excited. Kedua, supaya aman, pilih oleh-oleh standar tapi khas. Contohnya? Gantungan kunci, magnet kulkas, kaus, atau pajangan khas daerah itu. Tapi ingat juga, karena oleh-olehnya standar, kemungkinan penerimaan yang biasa saja juga sangat besar. Ketiga, klise tapi nampol: keikhlasan. Karena sejak awal niat memberi, harusnya tak peduli apapun respons penerima, kita tetap lapang dada.

Sedangkan, kalau jadi penerima oleh-oleh, saya bertekad untuk:  Pertama, menerima oleh-oleh (apapun bentuknya itu) dengan ucapan terima kasih. Suka tidak suka, tidak perlulah diutarakan di depan si pemberi. Atau lebih parah lagi menggosipkan ke orang lain. Sudah bagus diberi oleh-oleh gratis. Coba pertimbangkan waktu yang dialokasikan Si Pemberi. Kedua, kalau memang terpaksa menitip, saya akan menjelaskan detail barang dan memberikan uang tunai dengan mata uang sesuai negara tujuan. Jangan sampai yang dititipi kesulitan mencari toko, apalagi menutupi kekurangan uang.

Terakhir, sebisa mungkin saya tidak berharap atau menagih oleh-oleh atau menitip barang pada orang yang bepergian. Mereka kan mau bersenang-senang, kasihan kalau harus dibebani dengan permintaan oleh-oleh atau barang titipan kita. Sekarang, setiap mendengar ada yang mau bepergian, saya tidak lagi latah bilang "Jangan lupa oleh-oleh ya". Meskipun niat awalnya bercanda atau sekadar basa-basi, itu bisa dianggap serius oleh mereka. Kalaupun ditawarkan mau oleh-oleh apa, saya memilih menjawab "Nggak usah. Yang penting, enjoy your trip!" Jika tetap memaksa, saya akan bilang "Terserah saja". Karena menurut saya, membawakan oleh-oleh hanyalah tradisi. Bukan suatu kewajiban.

Monday, February 20, 2012

Brosur, Kuisioner, dan Empati


Selepas Magrib tadi, saya ke Pondok (pertokoan dekat rumah). Rencana awal ingin ke ATM, bayar tagihan ponsel saya dan si Papa. Tapi tiba-tiba kepingin makan sesuatu yang segar. Pilihan saya tadi, Bakso Atom.

Masuklah saya ke pertokoan. Saya iseng ke departement store yang ada di lantai atas dulu, meskipun kedai bakso di lantai dasar. Cuci mata dan sekalian ngadem. Di depan pintu masuk departement store, ada sales perempuan membagikan tester parfum. Tumben-tumbenan saya "dilirik". Mungkin karena sore ini pakaian saya agak rapi. Saya ambil tester parfum itu, lalu mengucapkan "Terima kasih, ya" sambil memberikan senyuman manis saya (mesem-mesem mode: on, pasrah ditimpuk massa). 

Baru dua langkah berjalan, saya mendengar percakapan sales itu dengan rekan kerjanya. "Senangnya ada yang bilang terima kasih. Jarang-jarang yang begitu. Rasanya capek gue hilang." Hati dan mulut saya ikutan senyum juga. Saya paham betul apa yang dia rasakan.

Saya bukan bidadari yang hatinya selembut kapas (Iyaaa tenang aja My. Nenek gondrong juga nggak bakal percaya kalau lo bidadari. Ahahhaa). Saya bersikap begitu karena alasan sederhana: saya pernah berada di posisi sales itu.

Dulu, waktu kuliah, saya aktif di organisasi kemahasiswaan. Nah, setiap kegiatan, kami selalu membuat leaflet dan menyebarkannya sendiri. Pengalaman pertama saya? Sungguh melelahkan fisik dan hati! Pertama, tidak semua orang mau menerima leaflet yang saya bagikan. Malahan, tak jarang ada yang ketakutan. Mungkin saya dikira minta sumbangan? Ada juga yang ambil, tapiiii tanpa dibaca dulu dia langsung meremas leaflet itu dan  membuangnya di depan mata saya! Huwaaaaaaa, tak tahukah dia bagaimana rasanya tidak tidur semalaman karena mendesain materi leaflet itu?

Untunglah, masih ada beberapa orang baik, yang setidaknya mau melirik sedikit isi leaflet dan memasukkannya ke tas mereka. Ucapan terima kasih dan senyuman dari mereka adalah bonus yang tak ternilai buat saya yang sudah capek seharian berdiri di depan Stasiun UI. "Semoga Allah membalas kebaikan mereka," doa yang tanpa sadar otomatis keluar dari mulut saya waktu itu.

Pengalaman hampir serupa terjadi saat saya terlibat dalam riset kepuasan komunikasi salah satu bank milik pemerintah. Waktu itu saya bertugas menyebarkan kuisioner kepada beberapa nasabah di beberapa cabang. Awalnya saya mengira akan mudah. Kenyataannya? Duh pengin nangis rasanya. 

Padahal kuisioner itu resmi bekerja sama dengan bank. Harusnya sih, sebagai nasabah, mereka mau membantu menyisihkan waktunya sedikit demi peningkatan kualitas bank tersebut. Jika pelayanannya semakin meningkat, mereka juga kan yang senang?

Boro-boro mau menjawab. Kebanyakan mereka bersikap (sok) sibuk. Ada yang bilang mau buru-buru pergi,  padahal saat saya hampiri dia masih di antrean belakang. Kuisioner itu "menyita" 5 menit saja kok. Pertanyaannya juga mudah, tentang pelayanan bank. Responden hanya tinggal mencontreng salah satu jawaban.

Ya, empati baru tumbuh saat kamu benar-benar berada di posisi itu. Saya mengaku, dulu juga bersikap tidak acuh pada sales yang memberikan brosur. Dan paling malas kalau disuruh mengisi kuisioner. Kalaupun terpaksa, saya mengisi asal-asalan. Yang penting selesai.

Tapiii, semenjak merasakan sendiri, saya bertekad dalam hati untuk lebih menghargai mereka. Saya berhasil mengubah kebiasaan buruk sebelumnya. Sekarang, setiap ada yang menawarkan barang tester atau brosur, pasti saya ambil, baca, dan simpan baik-baik. Jika ada yang meminta saya mengisi survei atau kuisioner, pasti saya isi dengan sungguh-sungguh. Kenapa tak boleh asal-asalan? Karena hasil kuisioner itu nantinya akan diolah. Jawab responden yang ngaco akan menyebabkan data menjadi tidak valid atau tidak reliable. Begitu...


Yuk, sisihkan sedikit waktu untuk mengisi kuisioner dan bersikap sedikit manis pada penyebar brosur :)

Friday, February 17, 2012

Surat Cinta Kompasiana*


Saya punya mainan baru bernama Kompasiana. Sementara ini belum banyak posting sih. Baru repost beberapa catatan dari blog. Kalau mau ngintip, silakan main-main ke rumah kedua saya. Oiya, belum apa-apa, saya sudah dapat surat cinta lohhh: p

Sebenarnya, sudah lama saya diajak “main-main” di Kompasiana. Tapi hati belum juga tergerak. Istilahnya, tak kenal maka tak sayang. Karena jarang menengok Kompasiana, saya tidak tahu di sana seperti apa. Sampai akhirnya saya terinspirasi untuk ekspansi ke Kompasiana karena melihat updated post seorang kenalan di Facebook. Ah lucu juga, pikir saya. Setelah mengintip, saya merasa Kompasiana pas untuk beberapa coret-coretan saya yang sedikit serius. Oke, saya ingin bergabung.

Dengan semangat 45, saya membuat akun dan langsung “pindahan” beberapa stok catatan. Saya agak bingung, kenapa tiba-tiba langsung ada kompasianer yang berkomentar. Padahal saya belum mem-forward tulisan itu ke akun social media (seperti yang saya lakukan di blog lain). Ternyata, di Kompasiana ada highlight tulisan terbaru dan beberapa juga ditaut lewat akun Twitter Kompasiana.

Masih membabi-buta “pindahan”, tiba-tiba di inbox pesan ada notifikasi angka 1. Wah ternyata ada satu pesan masuk. Dan isinya adalah *jeng jeng!* surat cinta dari admin Kompasiana. Ya, itu surat cinta pertama yang saya terima di Kompasiana. Ini dia isinya:

Jeda Tayang Antar Posting
Kami menjadwal ulang penayangan postingan anda. Selanjutnya, beri jeda antar-posting minimal 1 jam untuk memberi kesempatan tampil bagi postingan Kompasianer lain. Silakan baca tata tertib Kompasiana untuk lebih jelasnya. Terima kasih.
Untuk melakukan pengaturan waktu tayang postingan Anda di Kompasiana, silakan ikuti tips berikut.
Isi kolom judul dan badan tulisan, tentukan rubrik yang sesuai, isi kolom tag dengan kata kunci yang sesuai –> Klik “Edit” pada “Publish immediately” dan tentukan waktu penayangan, beri jeda tayang jika lebih dari 1 postingan yang akan anda unggah dalam waktu berdekatan –> Klik “Save”; tombol “Publish” akan membatalkan pengaturan waktu tayang yang telah Anda lakukan.
Kompasiana Tercinta
(kata terakhir saya tambahkan sendiri, biar kesannya surat cinta benaran. ahahahha)

Ahhh, saya langsung sadar kalau “apartemen” baru ini punya aturan sendiri. Saya lupa baca aturan itu baik-baik, sebelum masuk atau menetap di sini. Saya berasumsi ‘apartemen’ ini seperti tempat saya yang lain. Di mana saya bebas mengirim banyak tulisan dalam waktu berdekatan. Kenyataannya di sini ada aturan mainnya. Saya harus menghormati dan memberi kesempatan penulis lain. Kenapa? Karena setiap kita mengirim tulisan, pasti akan muncul di list Tulisan Terbaru. Masak iya, 10 kali berturut-turut yang muncul catatan saya semua.

Saya senang mendapat pelajaran baru dini hari tadi. Pertama, meski serupa, setiap tempat punya aturan sendiri. Mau tidak mau, sebagai penghuni atau tamu, saya harus patuh mengikuti. Saya mengaku, terkadang saya mengabaikan terms and conditions. Main klik “yes” saja tanpa baca lebih dulu. Akibatnya? Dapat surat cinta deh :) Pelajaran kedua adalah mencoba memberi kesempatan untuk orang lain. Oke, memang saya lagi semangat-semangatnya menulis. Tapi ada saatnya, saya harus memperlambat kecepatan dan menyelaraskan dengan yang lain, supaya lebih dinamis. Setuju?


Selamat Siang Jakarta,
Perkenalkan saya warga baru Kompasiana :)
Ditunggu surat cinta berikutnya :)


P.s: Terima kasih tak terhingga untuk Mas/Mbak  Admin atau automated answering machine Kompasiana yang sudah mengingatkan :)


*Reposted from here.

Prahara Blogspot Eror

Credit: Michaela Kobyakov (sxc.hu)

Baru-baru ini (atau sudah lama sering begitu ya?) Blogspot eror. Walaupun saya menerima beberapa notifikasi komentar yang masuk melalui email, tapi komentar itu tidak muncul di blog. Nah ini bikin sedikit "prahara" dalam dunia persilatan (baca: persahabatan) sama Ai.

Ceritanya gini, kemarin saya merasa sudah submit comment dan comment-nya sudah langsung muncul, karena di blognya Ai tidak pakai moderasi. Nah, pas saya blogwalking lagi ke tempat Ai, komen saya hilang aja loh. Saya langsung mikir negative thinking, wah mungkin dihapus.

Sebenarnya hak Si Empunya blog ya, mau terima atau hapus komentar yang masuk. Saya juga bukan tipe orang yang narsis pengin komen saya diterima atau dibalas. Di-approve dan direspons syukur, tidak pun emangnya gue pikirin? Suka-suka yang punya blog dong yaa... Tapi, karena yang punya blog itu sahabat yang sudah saya kenal banget, makanya saya merasa sedikit aneh. Soalnya, walaupun kami saling ngecengin atau nyela-nyela, insyaAllah Ai bukan tipe yang tersinggung-an. Kalau pun tersinggung, pasti dia langsung bilang dan itu via japri.

Jadilah saya komen lagi dan konfirmasi nuduh my previous comment was deleted by her (dengan gaya bercandaan saya). *Jeng-jeng* paginya saya dapat WhatsApp dari Ai, yang isinya nggak mungkin dia hapus komentar saya. Dia bilang, dia dapat notifikasi di email tapi comment-nya nggak muncul. Oh gituuuu. Waktu itu saya masih setengah percaya. Masa sih? Wong waktu itu jelas-jelas komennya sudah muncul. Hmm, mungkin Blogspot memang eror.

Lalalala, baru dehhh saya percaya. Jadi, tadi malam saya menerima beberapa notifikasi komentar. Tapi karena sudah sedikit mengantuk, saya pending balas komennya. Eh ternyataaa, paginya saya lihat di blog, komennya tidak ada. Dangg! Baru dehhh saya merasa bersalah sama Ai. Langsung saya sms minta maaf  karena sudah su'udzon (berburuk sangka) ke dia. 

Tapi, bukan Ai namanya kalau nggak ngocol. Padahal saya lagi serius minta maaf, eh dia malah balas sms gini: "Gak usah minta maaf. Kamu bukan Marwan..." Buahahahahaha. Kalau yang di Indonesia pasti tau iklan provider telepon selular XL yang lagi sering ditayangkan di televisi. Cerita tentang cowok bernama Marwan yang lagi pedekate ke cewek bernama Mawar. Di salah satu serinya, si Marwan itu mau minta maaf sama Mawar.

Anyway, jadi  ingat salah satu hadis (atau pepatah ya? saya lupa). Isinya kira-kira begini, cari 100 alasan sebelum kamu berburuk sangka kepada orang lain (terutama saudara atau sahabat sendiri). Saya mengaku, kemarin saya salah.