Showing posts with label gengbelengan. Show all posts
Showing posts with label gengbelengan. Show all posts

Friday, March 2, 2012

Balada Oleh-oleh

Credit: monique72 (sxc.hu)

Ini cerita tentang oleh-oleh. Tepatnya, saat saya plesir ke Singapura April 2011. Bisa dibilang, ini pengalaman memalukan. Saya sadar itu semua terjadi karena saya lagi sensi berat. Padahal, biasanya saya cuek dan tidak perasa.

Begini ceritanya. Meski pergi dengan bujet paspasan, saya bela-belain membeli oleh-oleh untuk sahabat Gengbelengan. Padahal, sebelumnya mereka nggak minta apa-apa loh. Saya berinisiatif sendiri. Waktu itu saya menghindari oleh-oleh seperti gantungan kunci atau tempelan kulkas. Saya memilih oleh-oleh yang bisa kami nikmati bersama. Pilihan jatuh pada cokelat.

Saya membeli Hersey dan Ferrero Rocher. Emang di Jakarta nggak ada? Ada sih, tapi harganya di Singapura lumayan miring. Lagian mereka juga jarang beli cokelat itu. Biasanya kan coki-coki. Ahahahaha. Saya sudah membayangkan serunya kami menikmati cokelat-cokelat itu sambil ngobrol.

Karena sudah tidak sabar menyerahkan oleh-oleh itu, saya langsung mengajak mereka (minus Mas Fani, karena dia lagi lembur kerja) bertemu, tak lama berselang saya mendarat di Jakarta. Saya ingin sekali melihat wajah puas mereka menerima oleh-oleh saya. 

Tapi apa yang terjadi? Ade, yang terkenal berlidah sensitif, dengan polos dan tanpa rasa berdosa berkomentar "Ihhh manis bangetttt!" setelah mencicipi milk chocolate Hersey. Ayu, yang datang belakangan, saat melihat bungkus Hersey dan membaca tulisan milk chocolate, langsung protes "Yahhhh, milk chocolate yahhh??? Manis banget deh pasti. Gue kurang suka." Waktu Ade mencoba Hersey, Fadli sempat ikut mencicipi dan mengiyakan pendapat Ade. Tapi kemudian dia mengalihkan perhatian ke kotak cokelat Ferrero Rocher kesukaannya.

Sebenarnya wajar banget mereka berkomentar begitu. Toh selera orang berbeda. Lah, kalau kenyataannya milk chocolate memang manis dan tidak pas dengan lidah mereka, memangnya salah? Yang salah adalah saya, karena tidak menanyakan pasti cokelat jenis apa yang mereka suka.

Sekarang sih saya bisa berpendapat begitu. Tapi, waktu kejadian, saya sensinya setengah mati. Saat semua protes cokelatnya kemanisan, saya kecewa. Saya kira, saya akan menerima muka-muka bahagia dan excited. Tapi kenyataannya berbeda.

Sampai di rumah, saya langsung menelepon Mas Fani, cerita soal kejadian itu. Pakai nangis sesegukan segala. Ahahahahaha. Sampai akhirnya keluar kata-kata "Gue udah capek-capek nggak mikirin diri gue, ehh taunya begitu. Nggak bisa apa protesnya nanti aja? Minimal bilang terima kasih kek. Sumpah, besok-besok nggak akan gue bawain oleh-oleh lagi," uneg-uneg saya. Deg. Setelah lega, saya baru sadar. Ahhh iya, saya sensi pasti karena capek baru pulang. Ya namanya kondisi fisik melemah, kemampuan otak berpikir jernih juga menurun. Saya geli sendiri sama kekecewaan yang saya alami.

Bukan Kewajiban
Dari apa yang saya rasakan, meskipun waktu itu over sensi, saya akhirnya menyadari beberapa hal. Pertama, jangan pernah berharap apapun dari manusia, termasuk soal perlakuan yang kita terima. Kaitannya sama oleh-oleh? Ya, jangan berharap penerima oleh-oleh akan merasa senang atau excited. Kedua, supaya aman, pilih oleh-oleh standar tapi khas. Contohnya? Gantungan kunci, magnet kulkas, kaus, atau pajangan khas daerah itu. Tapi ingat juga, karena oleh-olehnya standar, kemungkinan penerimaan yang biasa saja juga sangat besar. Ketiga, klise tapi nampol: keikhlasan. Karena sejak awal niat memberi, harusnya tak peduli apapun respons penerima, kita tetap lapang dada.

Sedangkan, kalau jadi penerima oleh-oleh, saya bertekad untuk:  Pertama, menerima oleh-oleh (apapun bentuknya itu) dengan ucapan terima kasih. Suka tidak suka, tidak perlulah diutarakan di depan si pemberi. Atau lebih parah lagi menggosipkan ke orang lain. Sudah bagus diberi oleh-oleh gratis. Coba pertimbangkan waktu yang dialokasikan Si Pemberi. Kedua, kalau memang terpaksa menitip, saya akan menjelaskan detail barang dan memberikan uang tunai dengan mata uang sesuai negara tujuan. Jangan sampai yang dititipi kesulitan mencari toko, apalagi menutupi kekurangan uang.

Terakhir, sebisa mungkin saya tidak berharap atau menagih oleh-oleh atau menitip barang pada orang yang bepergian. Mereka kan mau bersenang-senang, kasihan kalau harus dibebani dengan permintaan oleh-oleh atau barang titipan kita. Sekarang, setiap mendengar ada yang mau bepergian, saya tidak lagi latah bilang "Jangan lupa oleh-oleh ya". Meskipun niat awalnya bercanda atau sekadar basa-basi, itu bisa dianggap serius oleh mereka. Kalaupun ditawarkan mau oleh-oleh apa, saya memilih menjawab "Nggak usah. Yang penting, enjoy your trip!" Jika tetap memaksa, saya akan bilang "Terserah saja". Karena menurut saya, membawakan oleh-oleh hanyalah tradisi. Bukan suatu kewajiban.

Thursday, February 23, 2012

Fadli's Birthday and That Shocking Number

Tanggal 21 Februari 2012 kemarin, salah satu Gengbelengan, Fadli, ulang tahun yang ke 29. Yak, ulang tahunnya Fadli bikin shock saya. OMG, artinya i'm getting closer to that numba. Agustus nanti, yang tinggal beberapa bulan. Huwaaaaaaaaaaa.

Awalnya kami mau ngumpul pas weekend saja, karena saya kira Fadli sudah mulai kerja di LikeEarth alias Sukabumi. Eh ternyata Fadli masih di Jakarta. Ya sudah, mari kita rayakan malam itu juga di rumah Fadli. Saya dan Ade berbagi tugas menghubungi Gengbelengan yang lain. Sedihnya, Mas Fani dan Ayu nggak bisa karena ribet sama kerjaan.

Juragan katering kami, Kancut a.k.a Ade, seperti biasa berbaik hati menyiapkan tumpeng buat Fadli. Dia sampai rela tangannya berlumuran kunyit demi bukti bahwa dia yang masak tumpeng itu. Buahahahahaha. Padahal saya yakin yang sebenarnya masak pasti pasukannya Ade. Si Ade palingan cuma bantu ngupasin kunyit 3 siung. Tapi malam itu Ade sibuk menyakinkan kami, "Nihhh lihat, jari gue kuning-kuning. Gue yang masak tauuu."  Tentu, saya dan Fadli tidak percaya begitu saja. Anyway, makasih banget ya Ncuttt :* Lo emang selalu perhatian sama kita.

Pas lilinnya dinyalain, macam volcano lagi erupsi yakk.
Ahahahaha. Btw, tumpengnya enyakkkkkkk.
Ya nasi kuningnya, ya lauknya.
Mantep deh Kusuma Katering!
 (post berbayar, dibayar ongkos ojek)


Saya kebagian beli lilin angka 2 dan 9 yang bikin saya merinding sendiri. OMG, sudah tua yaahhh ternyata kita.  Walaupun kelakuan masih nggak jelas macam anak SD. Contohnya, masa umur segini masih berantem diem-dieman? (Psssttttttt, ini kode lohhhh. Semoga yang dikode, bisa nangkep. Aminnn. Ahahhaha.). Balik ke cerita saya beli lilin, waktu mau bayar, kasirnya berniat ramah ke saya sambil nanya, "Wah, ulangtahun yang ke 2 dan 9 ya Bu?" (Iyaaaaaaaaaa tahu, saya udah pantas dikira ibu-ibu beranak 2. Puass??). Saya cuma nyengir dan jawab,  "Sotoy banget sih lo Mbak!" eh salah deng  "Datuk saya ulang tahun ke 92" makin ngaco, yang benar "Sahabat saya ulang tahun ke-29."

Di ulang tahun Fadli ini, saya antara bahagia, ngeri, dan sedih. Bahagia karena, di tahun ini Fadli alhamdulillah mulai memasuki fase "hidup baru"-nya yang insyaAllah lebih baik. Kerjaan baru, umur baru, mobil baru, rumah baru,dan istri baru. Tiga poin yang saya sebutin belakangan, mudah-mudahan segera terealisasi. Aminnn. Ngerinya, karena angka 29 itu. Duh, beneran deh, fase inkubasi Late20Syndrome semakin menjadi-jadi di diri saya. Sedihnya? Sudah jelas karena Gengbelengan nggak ngumpul lengkap. Untungnya, diramein sama teman sepermainan Fadli di rumahnya, yang saya kenal juga: Ika dan Enif.

Acara tiup lilinpun dimulai. Saya memilih untuk mengabadikannya dengan video (soon, videonya saya upload di Youtube). Sejak memasuki usia 25, kami punya lagu andalan saat ulang tahun. Liriknya cuma satu kalimat dan diulang-ulang, tapiiiiiii sangat bermakna. Begini bunyinya, "Udah tua... udah tua... udah tuaa". Setelah lagu sukacita kutukan itu dikumandangkan, Fadli niup lilin dengan bibir monyong syahdu . Dan dilanjutkan dengan potong tumpeng yang dikasih ke ibunda tercinta.

Minus Mas Fani and Ayu.
Sumpah, kangen Gengbelengan versi lengkap,
lengkap dengan kegilaan kita tiada tara.

Saya berharap, seiring pertambahan usianya, Fadli semakin sukses, semakin dewasa, semakin luas hatinya dan bisa memaafkan (another kode, #eaaaaaaa), semakin kurussssssssss (sukses ya cyinn diet karbonya), semakin mendekat ke Jerman (seperti kata Ayu, "Perjalanan ke Jerman dimulai dari Sukabumi dulu" ahahahaha), dan (yang nggak kalah penting) semakin dekat sama Allah SWT. Amin.



Terima kasih atas persahabatan ini, ya Geng.



P.s.: Seperti biasa, fotonya nggak ada yang bagus. Karena saya nggak punya kamera cakep. Saya cuma bawa handycam yang tidak ber-flash. Apalagi lampu di rumah fadli, redup. Udah pasti hasil fotonya buram durjana. *manyun*

Tuesday, January 24, 2012

[CelebriTues] Gengbelengan: Different Colours, One Rainbow


Gengbelengan formasi lengkap!
Akhirnya, saya "kacamata"-an juga lhoo :p
Cibubur - 31 Dec 2009



"CelebriTues edisi ini bahas sahabat SD dan SMP saya. Kebetulan sudah lama tidak ngumpul lengkap. Kangen."

Kami berlima. Ade, Ayu, Fadli, Mas Fani, dan saya. Ade, Mas Fani, dan saya se-SD. Lalu bertemu Ayu dan Fadli di SMP. Kami dekat sejak SMP karena sering main dan pulang bareng. Kenapa bisa awet sahabatan? Entahlah. Mungkin karena persahabatan kami tanpa embel-embel. Berteman tanpa mikir untung-rugi. Beda ya, kalau berteman di kuliah yang kadang suka "milih-milih".

Meminjam istilah seorang teman, karakter kami seperti warna-warni dari pelangi yang sama. Saling melengkapi. Ada Ade, sesepuh (padahal hanya beda kelahiran 1 tahun, tapi kami kekeuh bilang dia tua), yang akrab kami panggil Kancut. Dia plegmatis. Nggak suka konflik, pendengar yang baik, royal, dan good helper. Campuran Virgo-Libra (lahir 23 September 1982) ini sering jadi tempat curhat atau menemani kami ke suatu tempat. Ya, dia siap mendengar keluh kesah dan kasih advice kalau diminta. Ade juga sering jadi mediator kalau di antara kami ada yang slek. Selain itu, emang seru kalau kemana-mana ditemani Ade. Karena dia orangnya mau-an ("murahan"). Tapi kalau jadwal katering sedang padat, susah juga "nyulik" dia.

Soal royal? Jangan ditanya. Kalau dapat bonus, dia nggak ragu-ragu sms saya: "Nanti sore Pizza Hut, yuk." Bukan sekadar ngajak, tapi everything at that noon was on her. Atau nggak, tiba-tiba jadi donatur uang bensin. Penggemar makanan berkeju ini Pelor banget alias "nemPEL langsung molOR". Ritual DVD Marathon di rumah Fadli bakal terbalik buat Ade. Bukan dia yang nonton tivi, tapi tivi yang nonton dia. Nggak cuma pas nonton, di mobil dia juga gampang tidur. Di warung indomie, saking ngantuknya dia hampir merem. Padahal sedang duduk ngobrol dengan kami. Janji bergadang di kamar saya adalah janji buaya. Baru 15 menit ngobrol, dia sudah meringkuk ke dalam selimut. Tiba-tiba hening. Yak, Ade molor.

Begini nih malam minggunya jombloers.
Pondok Kelapa (rumah Bude-nya Mas Fani).
Desember 2009, minus Ayu.


"Nggak Bang," kata Ayu menggeleng kepada Supir Angkot yang nawarin kami tumpangan. Ya, Ayu perhatian sama orang lain. Sementara kami cuek saja. Toh kami nggak nyetop angkot itu. "Kasihan Abangnya nungguin," kata Ayu. Mulia sekali yaaaa. Leo betina ini adalah "dokter" andalan kami. Apoteker yang sering kami tanya-tanyain soal obat-obatan. Kalau gejalanya begini obat yang bagus apa, trus apa efek sampingnya, atau alternatif obat dengan bahan dasar sama tapi lebih murah, dsb. Dia juga sering jelasin masalah kesehatan. Kami terkesima mendengar ulasan yang ilmiah dan detail, lengkap dengan istilah-istilah farmasi yang asing di telinga. Karena sering bersentuhan dengan masalah kesehatan, Ayu sangat higienis. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan? Wajib.

Ayu tidak suka basa-basi tapi sering merasa tidak enak-an. Tepatnya, dia sopan sekali. Misalnya, mikir dua kali kalau diajak kondangan teman atau saudara saya yang bukan teman dia. Dari kami berlima, Ayu yang paling "nggak murahan". Kalau sudah bilang nggak mood keluar rumah, biar diracunin gimana pun (misalnya ngajakin makan jajanan favorit dia a.k.a mie ayam), nggak bakal mempan. Dia tetap ngendon di rumah, tentu dengan koleksi DVD drama Koreanya. Penyuka karakter Monkichi ini hidup teratur dan disiplin. Semuanya terjadwal. Agak susah mendadak janjian dengannya. Apalagi kalau tempat janjian tak searah jalan pulang dari kantornya. Karena disiplin, bukan sekali dua kali Ayu terpilih jadi best employee. Sayang, reward jalan-jalan keluar negerinya belum rezeki. Next time giliran lo Yu! Apalagi sudah punya passport.


Mas Fani's birthday (24/12/2010), minus Ayu.
Umur sudah 72 lebih, kelakuan macam anak Tk -__-


Ngupil bukan perbuatan terkutuk. Tapiii, kalau ngupilnya tiap detik (rada lebay nih saya) trus upilnya dipeper kemana-mana??? Yak, itulah Mas Fani. Duh, saya seram ditampol dia nih karena baru saja melakukan pembunuhan karakter. Soal nampol menampol, saya dan Mas Fani punya "cerita romantis" waktu SD. Dulu ya.... Masa Mas Fani pernah nampol saya gara-gara saya ledek. Memang sih, saya yang jail. Nggak nyangka dia beneran nampol. Huhuhu. Sekarang? Ughh, awas saja kalau berani! Gue smack down lo Mas, mau? Kebiasaan minus Mas Fani lainnya adalah latah! Sudah gitu latahnya nyebut "property" sendiri! Nah, ini yang bikin saya seram jodohin dia ke teman saya. Malu, kalau Mas Fani sampai "kumat". Ahahahaha.

Kebiasaan ngupil dan latah nggak akan jadi masalah kalau kamu tahu betapa family man nya cowok Capricorn ini. Dia sayang banget sama keluarganya, begitu pula sama sahabat-sahabatnya. Si Melankolis sabar menghadapi sahabat-sahabatnya yang ajaib. Dia juga pendengar yang baik. "Hush, dengerin dulu Ade sampai selesai," katanya karena saya bawel nyamber cerita Ade. Saya sering cerita ke dia kalau lagi galau. Dia tahu apa yang saya mau: didengarkan tanpa dihakimi. Dia juga sayang banget sama [mantan] pacar-pacarnya. Tapi kadang jatuhnya lebih ke posesif sih (Peace Masss!). Soal kerjaan, Mas Fani orang yang fokus dan rapi. Walaupun suka panik dan bete kalau schedule-nya diutak-atik.

Waktu zaman keemasan dulu (tenang Mate, bentar lagi masa itu akan kembali. amin), Mas Fani sering jadi "cukong" kami. You named it, mau makan apa saja, pasti ditraktir. Kalau punya duit, dia royal dan boros! Dari dulu sampai sekarang Mas Fani adalah supir tercintah kami :* Thank you Mate. Nggak apa-apa kan pegal, ketimbang gue yang nyetir? Pembenci duren ini sangat memperhatikan penampilan. Rapi dan wangi. Sayang, wanginya lebih sering ketutup "wangi" rokok. Yup, Mas Fani is a bad smoker. Dia jadi "pasien" setia Ayu. Langganan diomelin karena rokok mulu. Oiya, Mas Fani suka Sarah Jessica Parker dan Olla Ramlan.

Abis kondangan bareng biasanya basian ke mol, 
karaoke, atau warung indomie.



Last but not least, multi-talented Fadli. Cowok Pisces ini jago nyanyi (suaranya bagusss), bahasa Inggrisnya jago, pinter ngomong, marketer andal, bisa kayang, jungkir balik, joget poco-poco, dan balet. Empat skill terakhir, saya ngarang. Ahaahaha. Eh tapi, kalau ditantang, mungkin saja Fadli bisa. Sama seperti Mas Fani dan Ayu, pengagum Andien ini kalau kerja juga rapi dan profesional. Banyak bidang yang pernah dia coba. Kami senang punya cerita baru dari pekerjaaan-pekerjaaannya itu. Seru! Dia juga teman diskusi yang asik karena pengetahuannya luas. Selain Ade, Fadli sering nemenin kami ke suatu tempat. Kalau ada waktu, dia pasti bersedia nemenin ke mana dan kapan saja.

Seperti tagline sebuah rokok kretek, "Nggak ada loe, nggak rame!" Ya, kalau nggak ada Fadli nggak rame. Nggak ada dia, saya kehilangan partner nyela atau nyinyir sekaligus "ngebadut". Tim Silet, istilahnya Fadli. Dia nyablak, dannnnnnn ada saja celaan dan celetukan lucu, ajaib, sekaligus dalem dari dia. Waktu Ade mengeluh, "Duh gue nggak punya pantat." Fadli langsung nyeletuk,"Heh? Kalau nggak punya pantat, be*l lo keluar dari mana? Dari mulut?" Lain waktu saya berangan-angan, "Pengin deh ke daerah yang bersalju." Jawaban Fadli sumpah bikin ngakak, "Gih sono ke Papua. Kan gunungnya ada salju." Nggak habis pikir, kok bisa Fadli nyeletuk begitu. Spotan pula, nggak pakai lama mikir. Satu-satunya yang bikin dia mendadak "diem" dan masang plang "Awas Fadli Galak" kalau lagi laper berat.  Oiya, Fadli resik dan rajin mandi.

Ingatlah Hari Ini
Setelah kurang lebih 15 tahun, banyak suka duka kami lewati. Misalnya beberapa persoalan pribadi yang bikin hubungan merenggang. Tapi kadang itulah yang menguji sampai di mana persahabatan kami dan bikin kami "pulang ke rumah". Cobaan terakhir terjadi akhir tahun 2009. Mas Fani jatuh di kamar mandi dan mengalami sedikit amnesia karena trauma otak ringan. Dia cuma ingat memori waktu SD. SMP ke atas, dia lupa. Dia cuma ingat saya dan Ade. Sama Fadli dan Ayu lupa. Sedih deh. Waktu itu kami emang sedang sibuk dengan pekerjaan dan urusan masing-masing. Sejak kecelakaan itu, alhamdulillah kami mulai ngumpul lagi.

Iseng (lebih tepatnya, bokek sih) tingkat tinggi,
jalan tapi cuma ngendon di TransJakarta Pinang Ranti - Grogol (pp).
(Pertengahan 2011, minus Ade dan   Mas Fani)


Berantem? Tentu kami pernah. Justru itu bumbu persahabatan. Yang beberapa kali dan akhir-akhir ini sensi-sensian adalah The Boys (Fadli dan Mas Fani). Keduanya memang sama-sama sensi dan keras. Hmm, kalau begini, kami para cewek bingung mau mendamaikan. Paling cuma bisa berdoa. Huhuhu. Jangan sampai menyesal kehilangan sahabat. Masa harus ada salah satu yang sakit dulu baru baikan? Amit-amit ah. Para cewek juga pernah berantem. Tapi alhamdulillah, cepat kelar dan nggak dipendam. Terakhir slek waktu ke Bali. Padahal sudah happy jalan-jalan, ehhh pas pulang malah berantem. Ahahahaha. Sekarang lumayan bisa jadi bahan ketawa.

Kalau sedang kesal sama salah satu dari mereka, saya langsung ingat-ingat kebaikan sahabat-sahabat saya itu dan masa-masa seru dan gokil kami. Mereka kompak jemput ke rumah demi mendapat izin dari Papa dan Mama saya. Saya emang paling susah keluar rumah. Tapi biasanya, kalau saya bilang perginya sama Gengbelengan, Mama Papa saya ngizinin. Apalagi kalau di jemput dan diantar sampai depan rumah.

Saya juga ingat ritual DVD marathon di rumah Fadli. Kamar Fadli (dan adiknya) kami  rampas demi acara khusus itu. Bisa sehari semalam! Dengan persiapan cemilan dan setumpuk DVD bajakan abangnya Fadli. Walaupun yang biasanya konsen nonton cuma saya, Mas Fani, dan Ayu. Fadli kadang rebahan di kasur, sesekali ikut nyeletuk usil. Ade? Sudah ketebak dong. Yup, dia molor.... Kalau dipikir-pikir nggak banget ya, kami para cewek tidur-tiduran di kamar cowok. Tapi kami memang sudah dekat banget. Cuek kentut (kalau bau, tinggal timpuk), ganti baju, tidur-tiduran, dan lain-lain.

Kerokan sudah jadi ritualnya Fadli - Ade kalau ketemuan. 
Fadli hobi masuk angin. Ahahahaha. 
Asli ya ini foto kayak di Buser, pake diblur-in segala.



Kami juga sering bertemu dadakan. Justru ini efektif daripada direncanakan jauh-jauh hari. Dulu sih sering, baru aja Senin, kami sudah ngumpul lagi. Padahal weekend kami sudah bergadang. Kami menyebutnya "Gaul Prematur". Karena yang penting buat kami adalah ketemuan, tempat tak menjadi masalah. Mau nongkrong di warung tenda roti bakar belakang Pondok (pertokoan dekat rumah kami, Pondok Gede-Bekasi) ayo saja... Makan KFC atau bakso di Pondok, juga boleh. Habis itu karaoke dan nonton ke Pondok lagi, hajarrr! Kok Pondok melulu? Itu yang paling dekat dan murah. Ahahahaha.

Ngobrol dari A-Z, dari kutub utara - kutub selatan.
Nggak ada habisnya.
New year's eve, 31 Dec 2009, Dunkin Donuts PONDOK!


Ahhhh, tulisan yang sudah panjang lebar ini tetap nggak cukup untuk nyeritain mereka dan petualangan kami. Ini ada sedikit cuplikan pembicaraan ngalor ngidul kami kalau sedang ngumpul atau jalan. Coba dengar betapa ributnya kami. [Note: abaikan suara sendawanya Fadli]. Ah, saya kangen mereka. Weekend ini harus ngumpul. Harus.







Sunday, January 22, 2012

Urus SIM Hilang Cuma 1 Jam!

Dengan sistem chip, data kita sudah tersimpan secara online.

Oke, saya mau cerita Tour De Samsat tahun lalu (Maret 2011). Singkat cerita, dompet dan ponsel saya hilang. Salah satu dokumen penting yang ikutan raib dan harus dibuat baru adalah SIM A. Hmmm, memangnya penting banget diurus yah? Nggak juga sih. Karena toh saya jarang (hampir nggak pernah, malah) nyetir mobil. Tapi, karena takut sewaktu-waktu SIM itu diperluin, saya akhirnya meluncur ke Samsat di Kalideres, Jakarta Barat. Aslinya sih, malas sangat. Selain tempatnya jauh, saya sudah ngebayangin prosesnya akan bertele-tele, lama, dan 'boros'. Kepenginnya sih nyerahin semua ke calo (nggak mau susah). Tapi karena bokek, mending ngurus sendiri deh.

Bikin Surat Kehilangan dan KTP Dulu
Iya benar, sebelumnya saya sudah buat Surat Keterangan Kehilangan di kantor polisi terdekat. Prosesnya realtif gampang dan cepat kok. Kita cuma bawa copy-an KTP, Kartu Keluarga, atau identitas resmi lainnya. Lalu, laporkan semua dokumen yang hilang. Lebih bagus kalau kita punya salinan dokumen tersebut. Oiya, jangan lupa minta legalisasi sejumlah yang kita butuhkan. Kemarin saya buat 6 rangkap: untuk urus KTP, SIM, 2 ATM, NPWP, dan arsip pribadi. Umumnya, tiap instansi akan minta surat keterangan yang asli.

Trus, biayanya berapa? Kayaknya sih gratis. Tapi pas seorang oknum petugas salah tingkah bilang "Terserah mau ngasih berapa," saya akhirnyanyodorin Rp20 ribu. Saya sih nggak merasa 'dirampok'. Anggap saja, itu traktiran karena mereka kerjanya cepat. Tidak sampai 15 menit sudah kelar. Tujuan selanjutnya adalah ke rumah Pak RT - rumah Pak RW - Kelurahan - Kecamatan.Ngapain? Yups, bikin KTP! Seminggu kemudian, KTP baru sudah di tangan. Tanpa biaya! Jempol buat Kecamatan Pondok Melati - Bekasi.

[Udah Nggak] Jauh
Saya bikin SIM tahun 2004. Waktu itu ikutan SIM kolektif dari kampus. Dan seingat saya, Samsat Kalideres itu jauhhhhhh banget di ujung dunia. Maka, ketika mau ngurus ke sana lagi, saya ngebayangin capeknya perjalanan ke sana. Sebelum berangkat saya cari-cari info di internet soal cara urus SIM hilang dan trayek angkutan umum menuju ke sana. Informasi yang saya butuhkan pun ketemu dan sangat detail. Plus tip dan triknya. Ternyata banyak orang yang bilang mengurus sendiri itu cepat dan murah. Baiklah, saya semakin mantap urus sendiri. Berita baik lainnya adalah Samsat Kalideres dilewati busway. Dari Pinang Ranti (Koridor 9, Pinang Ranti - Pluit), transit di Grogol 2 (naik Koridor 3, Harmoni - Kalideres), lalu turun di halte Taman Kota. Dan katanya, dari situ tinggal jalan sekitar 200 meter. Semoga saja sesuai dengan kenyataan.

Trauma Kejadian Apes saya masih berlanjut. Saya jadi parno keluar rumah sendiri, apalagi harus naik Transjakarta dan melewati jembatan penyebrangan. Supaya aman, saya membajak sahabat Gengbelengan saya, Mas Fani, untuk nemenin saya. Tadinya saya mau pergi hari Sabtu, tapi Mas Fani nyaraninweekdays saja. Rabu jadi pilihan. Si Sahabat pun rela bolos demi Sahabatnya nan rempong sedunia ini. (Thank you Mas Faniii :*).

Tuh kan benar apes saya belum hilang. Pas sudah sampai di UKI, saya baru ingat kalau Surat Keterangan Kehilangan ketinggalan di rumah. Saya  cuma bawa KTP baru dan fotokopi SIM yang hilang. Tadinya udah pengin ngebatalin acara bikin SIM dan lanjut gembelengan nggak jelas sama Mas Fani. Habisnya sayanggak ngebayangin kalau harus balik ke rumah yang macetnya ampun-ampunan. Tapi, pas ingat kalau Mas Fani bolos kerja demi saya dan nanti belum tentu dia bisa nemenin saya lagi, akhirnya otak kreatif sama kasih alert: bikin Surat Keterangan Kehilangan lagi di kantor polisi terdekat! Setelah nanya-nanya sama Pak Polisi yang mangkal di UKI, akhirnya saya memilih Polsek Jatinegara, Otista. Alhamdulillah, prosesnya pun cepat. Saya ngasih Rp10 ribu.

Tepat di depan Polsek Jatinegara, ada halte Transjakarta. Saya langsung naik ke tempat janjian sama Mas Fani di Halte Sarinah. Berarti rute Transjakarta yang saya harus lewati Kampung Melayu - Matraman - Dukuh Atas - Sarinah. Alhamdulillah, perjalanan lancar dan nggak begitu ramai. Sesampainya di Halte Sarinah, Mas Fani langsung masuk ke Transjakarta yang saya naikin. Dari situ kita transit di Harmoni, pindah ke Koridor 3 jurusan Pulogadung - Kalideres. Di Halte Taman Kota kita turun. Yang bikin kita amazed adalah, cuma kira-kira 15 menit kita sudah sampai! Ternyata sekarang Samsat Kalideres sudah nggak di ujung berung lagi. Hahahaha. Sebelum turun tangga penyeberangan, saya nanya ke petugas Transjakarta lokasi Samsat Kalideres. Dia menunjuk lurus papan petunjuk arah yang tidak begitu jauh dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Hmmm, ternyata beneran nggak jauh.

Calo Melulu
Saat saya dan Mas Fani mau jalan di penyebrangan, tiba-tiba ada lelaki yang menyapa Mas Fani dan bilang "Mau bikin SIM baru atau perpanjang SIM, Mas?". "Ih dia tahu saja," celetuk saya sambil senyum kode ke Mas Fani. Sementara Mas Fani cuma senyum dan menggeleng ke lelaki itu. Gila yah, calo-calo zaman sekarang udah canggih-canggih. Mereka sampai "jemput bola" di jembatan Transjakarta. Ckckckck.

Segitu aja teror calonya? Tidak dong! Iya benar, sepanjang jalan kami ke Samsat, semua yang teridentifikasi sebagai calo menyapa kami dan nawarin jasa mereka. Untung ada Mas Fani yang udah terlatih senyum-senyum geleng ngadepin para calo itu. Oiya, lucunya lagi, tukang ojeg pun ikut-ikutan "double job". Mereka sampai rela cuma dibayar ongkos ojeg Rp2000 demi meluncurkan tawaran manis jasa calo mereka.

Bagi kamu yang tidak punya banyak waktu tapi punya banyak uang, calo emang berjasa. Sedia uang Rp300-500 ribu, Anda tinggal duduk manis sekitar 1 jam lalu dipanggil foto dan voila, SIM pun jadi! Ternyata setelah masuk ke dalam Samsat, nggak cuma tukang ojeg yang punya double job. Mulai tukang foto kopi, mbak-mbak penjual di kantin, sampai oknum polisi sendiri, ikutan unjuk gigi jadi "pemulus urusan". Saya memergoki oknum polisi sedang negosiasi harga dengan calon pelanggan. Saking sibuknya "jualan", polisi itu nyuekin saya waktu bertanya soal tempat pendaftaran.

Benaran 1 Jam
Di blog yang saya baca, tempat pendaftaran pertama kali di dekat kantin. Tapi di kantin itu sama sekali tidak ada petunjuk. Cuma ada tulisan "Tes Kesehatan". Saya dan Mas Fani sempat bolak-balik mencari tempat pendaftaran. Rupanya, loket bertuliskan "Tes Kesehatan" itu yang menjual formulir permohonan SIM. Harga formulir Rp20 ribu. Yang dibutuhkan adalah KTP asli, surat keterangan hilang, dan fotokopi SIM yang hilang (kalau ada). Petugas mengingatkan saya untuk Tes Kesehatan mata di belakang loketnya, lalu menuju BRI, lanjut ke lantai 2, dan loket 18. Sebelumnya dia juga mengingatkan kami untuk tidak menggunakan jasa calo. "Cepat dan gampang kok ngurusnya," kata Si Petugas.

Tes mata cuma lima menit. Saya disuruh membaca huruf-huruf yang ditampilkan. Dari situ kami menuju loket BRI. Biaya pengurusan SIM hilang sama dengan perpanjangan SIM, yaitu Rp80 ribu. Saya kemudian menuju loket pengisian formulir. Tapi saya malah disuruh ke loket asuransi. Sempat baca di blog kalau asuransi itu nggak wajib. Di loket itu saya harus bayar premi Rp30 ribu. Setelah mengisi formulir, lantas saya harus ke lantai 2 untuk proses pengecekan data-data. Lucunya, di sini saya "dipalak" Rp30 ribu. Setelah sebelumnya oknum petugas menanyakan tempat kuliah saya dan mobil yang sering saya pakai. Saya dipatok harga segitu karena mengaku kuliah di Pascasarjana UI dan menyetir mobil Avanza. Nggak kebayang kalau saya mengaku menyetir BMW atau Jaguar. Pasti mereka minta Rp100 atau 200 ribu. Sigh. Tapi karena pengin cepat selesai, saya malas berdebat soal pungutan liar tak berkwitansi ini. Lagi-lagi, saya anggap Rp30 ribu itu adalah traktiran saya buat mereka yang mempercepat proses pengurusan SIM hilang ini.

Dari situ saya lalu turun ke lantai dasar menuju loket 18, loket khusus permohonan SIM yang hilang. Di sini pun cuma legalisasi sebentar, lalu saya disuruh ke ruang foto. Di ruang foto saya antrian ke 3. Nggak sampai 10 menit saya sudah difoto dan disuruh menunggu panggilan pengambilan SIM. Nggak lama kemudian nama saya dipanggil. Padahal di ruangan itu masih banyak orang yang belum dipanggil. Mungkin karena data SIM saya sudah ada, jadi prosesnya pun cepat. Hampir 1 jam, SIM saya sudah di tangan. Dan saya  puas. Walaupun, kurang puas sama foto di SIM. Hahahahaha. Jadi, total biaya pengurusan SIM hilang ini hanya Rp160.000. 

Oiya, harusnya setelah itu saya bisa mengambil kartu asuransi dengan menunjukkan resi pembayaran premi plus SIM yang sudah jadi. Tapi kemarin saya lupa ngambil, saking senangnya SIM saya sudah jadi dengan cepat dan murah. Good luck untuk kamu yang mau ngurus SIM juga!

Tips and Trik:
1. Siapin berkas-berkas yang lengkap. Fotokopi yang banyak supaya tidak ribet cari fotokopian di sana. Lagipula, harganya pasti lebih mahal.
2. Bawa pulpen dan pensil.
3. Boleh menolak asuransi.
4. Boleh menolak pungli di bagian pengarsipan.

Tuesday, January 17, 2012

Today's Random Thoughts


Setelah bengong-bengong nggak ngetik satu hurufpun. Akhirnya saya memutuskan menuliskan my random thoughts hari ini. Apa saja?

I Love My Mate(s)!
Saya bersyukur masih punya sahabat cowok yang sampai sekarang masih keep in touch. Apalagi mereka baik semua. Ada Mas Fani, Fadli, dan Arya. Eh, sama Arya udah lama nggak keep in touch deh. Tapi entah bagaimana, saya merasa selalu dekat dia. Sama Fadli juga udah lama nggak gengbelengan bareng. Kangen.

Tapi malam ini saya lagi pengin bahas Mas Fani. Saya manggil dia Mate. Lupa gara-gara apa manggil dia begitu. Kenapa bahas Mas Fani? Kebetulan hari ini saya seharian (lembur) bareng di kantor dia. Di perjalanan pulang, saya bersyukur sampai sekarang bisa bersahabat sama dia. Walaupun suka latah “nggak banget”, ngupil, dan sensi-an, tapi dia sahabat yang bisa diandalkan banget deh. Selalu sabar menghadapi sahabat nan rempong ini. (Ih, ternyata banyak yang saya mau ceritain soal Mate. Nanti deh yaa bikin posting-an terpisah :p)

Love you, Mate! Semoga lo selalu sehat, bahagia, dan sukses yaaa…. Dua tahun lagi deh gw kenalin sama temen gw. Oiya, kalau mau lembur, ajak2 gw yaaa…Tumben-tumbenan nih weekend gue produktif. Ahahahaha.

Bingung Nulis Apa
Niat awal pengin rajin nulis di blog ke-pending melulu. Alasannya? Terlalu banyak yang mau di-ceritain dengan rinci Jadi, bingung mau ngetik yang mana dulu dan ribet nyiapin data pelengkap yang detail seperti ilustrasi, foto, link, dan lain-lain. Kadang jadi senewen karena printilannya nggak lengkap. Akhirnya? Boro-boro nulis satu paragraf, “add new” nya pun belum diklik. Lalu, dengan alasan pengin cari inspirasi, saya malah keasikan blog walking. Baca-baca blog orang lain. Ehhhh, malah jadi penasaran baca semua posting-an. Hmmm tapi lumayan juga sih, jadi bisa “niru” (banyakkk) ide dan tema tulisan. Tapiiii, malam ini, saking asik baca, eh jadi bablas malas nulis.

[Akhirnya Nggak] Ngiri Sama Hidup Orang
Selain jadi lupa nulis blog sendiri, efek samping blog walking adalah saya jadi ngiri sama kehidupan orang-orang di blog yang saya mampiri. “Ih, hidupnya enak banget”. Lalu, jadi pengin ngalamin hal yang sama. Kesan itu saya dapati setelah baca posting-an terbaru mereka, hal-hal yang biasanya indah dan wah. Setelah baca tulisan yang lainnya, ternyata hidup mereka tidak selamanya enak kok. Di tulisan-tulisan mereka lainnya, saya justru merasa hidup saya lebih beruntung. Akhirnya dari yang tadinya sirik, saya malah jadi ikutan senang ngeliat kebahagiaan mereka. Iya, kesenangan orang yang bahkan tidak saya kenal. Mungkin karena orang itu menulis dengan hati, maka sampainya juga ke hati. Akhirnya saya malah menyisipkan simpati dan empati saat membaca. Jadi berasa ikut merasakan apa yang ditulis di situ. Padahal blog yang saya baca malam ini, blog daily journal biasa. Tapi senang aja bacanya. Tadinya pengin ikutan komen dan kenalan sama penulisnya. Lain waktu deh. Saya udah say hi di blognya Bebe (ini nama penulisnya).

Tentang Papa dan Celana Ketat Saya
Dari blog yang sama, saya mewek baca artikel yang sebenarnya sudah pernah saya baca di milis-milis. Intinya tentang kasih sayang seorang ayah yang sering diekspresikan dengan cara “aneh”. Yang selalu kita kira amarah, padahal itu bentuk lain kasih sayang mereka. Pas saya baca semuanya hampir mirip yang dilakuin Papa. Salah satunya, bener banget Mama yang selalu nyariin saya di telepon kalau belum pulang. Tapi Mama bilang, Papa yang nyuruh Mama nelpon saya. Saya tahu pasti, Papa sayang saya banget. Dari yang dilihatin langsung sampai terselebung seperti “ngomel”2 nggak jelas.

Baru-baru ini sih yang rada aneh (tapi bener juga) adalah protes dia soal celana panjang saya yang keketatan. Dia jarang protes sama pakaian saya. Tapi belakangan dia bawel ngeliat saya pakai celana cokelat bahan yang emang rada ketat. Walaupun saya pakai atasan yang rada panjangan, dia tetap protes. Tapi protesnya kalem. “Celananya ketat banget, Nak”. Saya yang waktu itu lagi buru-buru mau berangkat kerja, cuma datar jawab “Oh, ya?” sambil ngeloyor kabur.

Dan di jalan saya jadi kepikiran omongan Papa. Sejak naik angkot di depan gang, saya langsung minta maaf sama Allah dan berdoa semoga nggak kualat di jalan. Papa cuma bengong liat reaksi lempeng anak bontotnya. Saya kira, cuma sekali itu doang. Eh ternyata protes lagi pas lihat saya pakai celana yang sama di lain kesempatan. Oke Papa, insyaAllah celana cokelat yang sebenarnya pewe banget ini, sebentar lagi (mungkin) aku pensiunin. Btw, ternyata masih banyak yang mau saya ceritain  tentang Papa. Dilanjut nanti saja yaaa….

Terima Kasih
Akhirnya, saya tak berhenti-henti berterima kasih pada Alloh SWT. Untuk hari ini. Untuk hidup saya hingga detik ini. Untuk semua peristiwa baik dan buruk yang pernah saya alami. Untuk kesempatan yang selalu diberikan walaupun saya termasuk hamba yang nggak tau diri (suka lupa kalau lagi senang, suka bandel melanggar larangan-Nya, dan lain-lain). Saya senang bisa merasakan “ingin pulang”. Terima kasih ya Alloh.

Saya juga berterima kasih untuk semua orang, secara langsung atau tidak, sengaja atau tidak, yang memberikan saya pelajaran hidup. Terima kasih ya… Semoga Alloh SWT memberikan kalian nikmat yang berlimpah-limpah. Amin.


p.s: ini lho blog yang bikin saya nyengir lebar malam ini. terima kasih.