Showing posts with label tips and tricks. Show all posts
Showing posts with label tips and tricks. Show all posts

Tuesday, February 21, 2012

Magazine Things: Horizontal Flip

Meskipun cuma sebagai penulis waktu kerja di majalah dulu, saya sedikit banyak belajar hal lain soal permajalahan. Salah satu ilmu yang "nyangkut" adalah tentang foto dan layout halaman. Saya tidak sengaja belajar ini dan bukan karena ikut pelatihan. Saya cuma "nguping" saat Mbak Bos merevisi layout dan memberikan wejangan kepada art director.  Kebetulan, jarak meja saya dan meja art director tidak jauh. Saya bisa melihat jelas apa yang ada di layar komputernya. Secara, layarnya segede gaban. Hihihi.

Kali ini saya mau bahas tentang kapan horizontal flip wajib dilakukan pada sebuah foto. Oiya, tips ini bukan tips profesional yang berdasarkan teori sahih yaaaa. Setidaknya, tips inilah yang diterapkan di majalah saya dulu. Jadi, silakan kalau ada yang mau menambahkan atau membetulkan.



Contoh 1.
Sebelum di-flip horizontal.

Foto dalam sebuah artikel merupakan elemen pelengkap sekaligus utama. Karena sifatnya yang visual, majalah pasti lebih menarik dengan kehadiran foto atau ilustrasi. Tapi, jangan sampai foto tersebut menjadi bumerang. Kesalahan layout foto seringkali, tanpa disadari, memengaruhi mood atau habit membaca. Jika layout-nya keliru, biasanya pembaca akan men-skip halaman itu.

Layout bagaimana sih yang keliru? Hindari foto yang mengajak pembaca "keluar" dari halaman dan tidak fokus pada artikel. Bingung ya? Oke, langsung ke contoh aja yah. Coba lihat gambar contoh 1 di atas. Foto ilustrasi di halaman kiri, posisi wajah modelnya menghadap ke kiri atau ke luar halaman. Sama seperti halaman kanan. Selain posisi model, space background foto itu juga lebih banyak ke arah kanan atau ke luar halaman majalah.

Layout foto yang baik mampu mengajak pembaca "masuk" ke dalam halaman sehingga fokus kepada teks. Jadi, carilah foto ilustrasi sesuai kebutuhan layout yang, sekali lagi, mengajak pembaca "masuk" ke halaman. Trus, dua foto di atas nggak bisa dipakai dong? Masih bisa diselamatkan kok! Caranya? Pakai teknologi photo editor yang ada fasilitas horizontal flip. Treatment itu membalik foto seperti efek cermin. Voila, hasilnya akan seperti di bawah ini :)



Contoh 2.
Lebih fokus kan?


Oke, jadi kalau fotonya kurang pas, tinggal di-horizontal flip. Eitsss, nggak semuanya bisa begitu. Kita harus hati-hati. Jangan sampai timbul kejanggalan baru yang fatal. Maksudnya? (nanyak mulu ihhhh, ahahaha)
Coba lihat contoh foto di bawah ini. Gara-gara di- horizontal flip, tulisan backdrop di belakang pacar saya itu ikutan kebalik. Selain itu, sebagai pacarnya, saya tahu betul tattoo "Jack" and "Flying Bird" Johnny Depp ada di tangan kanan. Horizontal flip yang tadinya mau "menyelamatkan" artikel, malah bikin cacat. 

PARIS, FRANCE - NOVEMBER 08: 
Johnny Depp and Amber Heard attend 
the 'Rhum Express' Paris Premiere at
Cinema Gaumont Marignan on November 8, 2011 
in Paris, France. 

(Photo by Dominique Charriau/WireImage)

Hal serupa pernah kejadian di majalah saya. Waktu itu kolega saya menulis artikel profil seorang dokter. Sudah pasti si Dokter difoto dong yaa. Nah, karena foto pilihan posisi Si Dokter menghadap keluar halaman, akhirnya di-horizontal flip lah sama art director saya. Ehhhh gara-gara itu kami jadi "dinyanyiin" sama Mbak Bos, karena horizontal flip-nya bikin kejanggalan fatal. Pertama, tulisan di piagam yang jadi background Si Dokter jadi ikutan kebalik. Trus, mata Si Dokter yang aslinya memang asimetris antara yang kanan dan kiri, jadi makin aneh karena di-horizontal flip. 

Kami semua nggak ada yang sadar. Padahal sebelum naik cetak biasanya print out artikel dibaca ulang oleh beberapa orang. Parahnya, kejanggalan itu justru dirasakan Si Dokter dan dia protes langsung setelah melihat artikel itu. Duh, malunya kami.

Jadi, perhatikan baik-baik elemen fotonya. Selain tulisan dan ciri khas fisik seseorang, masih banyak elemen yang akan cacat bila dilakukan horizontal flip. Misalnya, bendera, bangunan terkenal (patung, gedung, dan lain-lain), dan masih banyak lagi.

Untuk kasus ini, saya jadi ingat pesan Mbak Bos yang selalu diulang. Reporter dan fotografer harus punya opsi foto sebanyak-banyaknya, dari berbagai angle dan posisi (potrait dan landscape). Jadi, opsi horizontal flip bisa dihindari dan tidak bikin kami kehilangan muka lagi.

Thursday, January 26, 2012

Vocab Oh Vocab...

Credit: Thiago Felipe Festa (sxc.hu)

Percakapan dengan seorang teman baru.
Saya manggil dia Upil, dia manggil saya Montok.

Jadi ya, Si Upil ini kemampuan linguistiknya sangaaat baik. Bahasa Inggrisnya, lisan dan tulisan, sangat baik. Dia juga bisa Bahasa Belanda. Kalau mood belajar bahasa lain, saya rasa dia cepat tangkap.

Saya: Ih canggih jadi guru EF. Ajarin gue donggg. Grammar sih masih lumayan, bisa belajar sendiri. Vocab, lumanyun :( 
Upil : Heh? Masa sih? Lo kan jurnalis. Pasti english nya bagus. Kalau soal vocab susah ngajarinnya. Itu masalah otak lo yang susah ingat, Ntok. (Sial. Mungkin benar juga).
Saya: Ya, minimal lo kasih gue vocab yang susah setiap hari. Kasih tau artinya, nanti gue ingat-ingat.
Upil: Ah lo Ntok. Gue kasih tau bahasa Padang "maco" aja lo lupa mulu artinya ikan asin.
Saya: Pill, gue serius pengin bisa nulis dan ngomong english yang rada beneran.
Upil: Oke, gue kasih tips sedikit ya. Tips ini sebenarnya jarang gw lakuin. Ahahahahaha.
Saya: Yeee, gimana sih?
Upil: Oke, serius ya. Setiap hari, mulai sekarang:
  • Lo coba baca JakartaGlobe. Menurut gue Bahasa Inggrisnya lumayan gampang dimengerti.
  • Tapi sebelum itu sebaiknya lo baca Detik atau Kompas, biar nyambung. Jadi, lo nggak bingung-bingung banget baca JakartaGlobe-nya.
  • Nah, setiap ada kata baru yang lo nggak tahu, catat. Cari artinya, di Sederet juga boleh.
  • Abis itu, coba bikin resume singkat dari berita yang lo baca itu, pake si kata baru itu. Begitu. Tapi, lo harus rajin. Nggak boleh males.
Saya: (angguk-angguk, nggak yakin bisa nggak males).

Beberapa waktu lalu, Ikot, teman kuliah saya, juga pernah saya tanyai soal Bahasa Inggris. Dia pernah ikut short course ke NZ. Hampir mirip penjelasan si Upil, Ikot bilang begini (kira-kira):
"Kalau soal ngomong Bahasa Inggris, menurut gue sih cuma masalah pede aja. Palingan gue dilatih untuk baca buku atau artikel yang berhubungan dengan akademis (misalnya jurnal atau karya ilmiah lainnya). Nah kalau nemu kata yang lo nggak ngerti, catat deh di kartu kecil gitu. Cari artinya dan cari pasangan kata atau atribut yang biasanya ngikutin kata itu. Misalnya subdivided (biasanya diikutin kata) into. (Sebenarnya bukan frase ini yang dicontohin Ikot. Saya lupa :( ). Trus, coba bikin kalimat pakai kata atau frase itu. "
Baiklah teman-teman, saya coba yah...
Ada yang mau kasih tips gimana bisa cas cis cus dan koleksi vocab bertambah? Bagi-bagi ilmu ya...



[sedang mendengar: Album Quite Down - Adhitia Sofyan, yang baru diunduh kemarin :D]

Sunday, January 22, 2012

Urus SIM Hilang Cuma 1 Jam!

Dengan sistem chip, data kita sudah tersimpan secara online.

Oke, saya mau cerita Tour De Samsat tahun lalu (Maret 2011). Singkat cerita, dompet dan ponsel saya hilang. Salah satu dokumen penting yang ikutan raib dan harus dibuat baru adalah SIM A. Hmmm, memangnya penting banget diurus yah? Nggak juga sih. Karena toh saya jarang (hampir nggak pernah, malah) nyetir mobil. Tapi, karena takut sewaktu-waktu SIM itu diperluin, saya akhirnya meluncur ke Samsat di Kalideres, Jakarta Barat. Aslinya sih, malas sangat. Selain tempatnya jauh, saya sudah ngebayangin prosesnya akan bertele-tele, lama, dan 'boros'. Kepenginnya sih nyerahin semua ke calo (nggak mau susah). Tapi karena bokek, mending ngurus sendiri deh.

Bikin Surat Kehilangan dan KTP Dulu
Iya benar, sebelumnya saya sudah buat Surat Keterangan Kehilangan di kantor polisi terdekat. Prosesnya realtif gampang dan cepat kok. Kita cuma bawa copy-an KTP, Kartu Keluarga, atau identitas resmi lainnya. Lalu, laporkan semua dokumen yang hilang. Lebih bagus kalau kita punya salinan dokumen tersebut. Oiya, jangan lupa minta legalisasi sejumlah yang kita butuhkan. Kemarin saya buat 6 rangkap: untuk urus KTP, SIM, 2 ATM, NPWP, dan arsip pribadi. Umumnya, tiap instansi akan minta surat keterangan yang asli.

Trus, biayanya berapa? Kayaknya sih gratis. Tapi pas seorang oknum petugas salah tingkah bilang "Terserah mau ngasih berapa," saya akhirnyanyodorin Rp20 ribu. Saya sih nggak merasa 'dirampok'. Anggap saja, itu traktiran karena mereka kerjanya cepat. Tidak sampai 15 menit sudah kelar. Tujuan selanjutnya adalah ke rumah Pak RT - rumah Pak RW - Kelurahan - Kecamatan.Ngapain? Yups, bikin KTP! Seminggu kemudian, KTP baru sudah di tangan. Tanpa biaya! Jempol buat Kecamatan Pondok Melati - Bekasi.

[Udah Nggak] Jauh
Saya bikin SIM tahun 2004. Waktu itu ikutan SIM kolektif dari kampus. Dan seingat saya, Samsat Kalideres itu jauhhhhhh banget di ujung dunia. Maka, ketika mau ngurus ke sana lagi, saya ngebayangin capeknya perjalanan ke sana. Sebelum berangkat saya cari-cari info di internet soal cara urus SIM hilang dan trayek angkutan umum menuju ke sana. Informasi yang saya butuhkan pun ketemu dan sangat detail. Plus tip dan triknya. Ternyata banyak orang yang bilang mengurus sendiri itu cepat dan murah. Baiklah, saya semakin mantap urus sendiri. Berita baik lainnya adalah Samsat Kalideres dilewati busway. Dari Pinang Ranti (Koridor 9, Pinang Ranti - Pluit), transit di Grogol 2 (naik Koridor 3, Harmoni - Kalideres), lalu turun di halte Taman Kota. Dan katanya, dari situ tinggal jalan sekitar 200 meter. Semoga saja sesuai dengan kenyataan.

Trauma Kejadian Apes saya masih berlanjut. Saya jadi parno keluar rumah sendiri, apalagi harus naik Transjakarta dan melewati jembatan penyebrangan. Supaya aman, saya membajak sahabat Gengbelengan saya, Mas Fani, untuk nemenin saya. Tadinya saya mau pergi hari Sabtu, tapi Mas Fani nyaraninweekdays saja. Rabu jadi pilihan. Si Sahabat pun rela bolos demi Sahabatnya nan rempong sedunia ini. (Thank you Mas Faniii :*).

Tuh kan benar apes saya belum hilang. Pas sudah sampai di UKI, saya baru ingat kalau Surat Keterangan Kehilangan ketinggalan di rumah. Saya  cuma bawa KTP baru dan fotokopi SIM yang hilang. Tadinya udah pengin ngebatalin acara bikin SIM dan lanjut gembelengan nggak jelas sama Mas Fani. Habisnya sayanggak ngebayangin kalau harus balik ke rumah yang macetnya ampun-ampunan. Tapi, pas ingat kalau Mas Fani bolos kerja demi saya dan nanti belum tentu dia bisa nemenin saya lagi, akhirnya otak kreatif sama kasih alert: bikin Surat Keterangan Kehilangan lagi di kantor polisi terdekat! Setelah nanya-nanya sama Pak Polisi yang mangkal di UKI, akhirnya saya memilih Polsek Jatinegara, Otista. Alhamdulillah, prosesnya pun cepat. Saya ngasih Rp10 ribu.

Tepat di depan Polsek Jatinegara, ada halte Transjakarta. Saya langsung naik ke tempat janjian sama Mas Fani di Halte Sarinah. Berarti rute Transjakarta yang saya harus lewati Kampung Melayu - Matraman - Dukuh Atas - Sarinah. Alhamdulillah, perjalanan lancar dan nggak begitu ramai. Sesampainya di Halte Sarinah, Mas Fani langsung masuk ke Transjakarta yang saya naikin. Dari situ kita transit di Harmoni, pindah ke Koridor 3 jurusan Pulogadung - Kalideres. Di Halte Taman Kota kita turun. Yang bikin kita amazed adalah, cuma kira-kira 15 menit kita sudah sampai! Ternyata sekarang Samsat Kalideres sudah nggak di ujung berung lagi. Hahahaha. Sebelum turun tangga penyeberangan, saya nanya ke petugas Transjakarta lokasi Samsat Kalideres. Dia menunjuk lurus papan petunjuk arah yang tidak begitu jauh dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Hmmm, ternyata beneran nggak jauh.

Calo Melulu
Saat saya dan Mas Fani mau jalan di penyebrangan, tiba-tiba ada lelaki yang menyapa Mas Fani dan bilang "Mau bikin SIM baru atau perpanjang SIM, Mas?". "Ih dia tahu saja," celetuk saya sambil senyum kode ke Mas Fani. Sementara Mas Fani cuma senyum dan menggeleng ke lelaki itu. Gila yah, calo-calo zaman sekarang udah canggih-canggih. Mereka sampai "jemput bola" di jembatan Transjakarta. Ckckckck.

Segitu aja teror calonya? Tidak dong! Iya benar, sepanjang jalan kami ke Samsat, semua yang teridentifikasi sebagai calo menyapa kami dan nawarin jasa mereka. Untung ada Mas Fani yang udah terlatih senyum-senyum geleng ngadepin para calo itu. Oiya, lucunya lagi, tukang ojeg pun ikut-ikutan "double job". Mereka sampai rela cuma dibayar ongkos ojeg Rp2000 demi meluncurkan tawaran manis jasa calo mereka.

Bagi kamu yang tidak punya banyak waktu tapi punya banyak uang, calo emang berjasa. Sedia uang Rp300-500 ribu, Anda tinggal duduk manis sekitar 1 jam lalu dipanggil foto dan voila, SIM pun jadi! Ternyata setelah masuk ke dalam Samsat, nggak cuma tukang ojeg yang punya double job. Mulai tukang foto kopi, mbak-mbak penjual di kantin, sampai oknum polisi sendiri, ikutan unjuk gigi jadi "pemulus urusan". Saya memergoki oknum polisi sedang negosiasi harga dengan calon pelanggan. Saking sibuknya "jualan", polisi itu nyuekin saya waktu bertanya soal tempat pendaftaran.

Benaran 1 Jam
Di blog yang saya baca, tempat pendaftaran pertama kali di dekat kantin. Tapi di kantin itu sama sekali tidak ada petunjuk. Cuma ada tulisan "Tes Kesehatan". Saya dan Mas Fani sempat bolak-balik mencari tempat pendaftaran. Rupanya, loket bertuliskan "Tes Kesehatan" itu yang menjual formulir permohonan SIM. Harga formulir Rp20 ribu. Yang dibutuhkan adalah KTP asli, surat keterangan hilang, dan fotokopi SIM yang hilang (kalau ada). Petugas mengingatkan saya untuk Tes Kesehatan mata di belakang loketnya, lalu menuju BRI, lanjut ke lantai 2, dan loket 18. Sebelumnya dia juga mengingatkan kami untuk tidak menggunakan jasa calo. "Cepat dan gampang kok ngurusnya," kata Si Petugas.

Tes mata cuma lima menit. Saya disuruh membaca huruf-huruf yang ditampilkan. Dari situ kami menuju loket BRI. Biaya pengurusan SIM hilang sama dengan perpanjangan SIM, yaitu Rp80 ribu. Saya kemudian menuju loket pengisian formulir. Tapi saya malah disuruh ke loket asuransi. Sempat baca di blog kalau asuransi itu nggak wajib. Di loket itu saya harus bayar premi Rp30 ribu. Setelah mengisi formulir, lantas saya harus ke lantai 2 untuk proses pengecekan data-data. Lucunya, di sini saya "dipalak" Rp30 ribu. Setelah sebelumnya oknum petugas menanyakan tempat kuliah saya dan mobil yang sering saya pakai. Saya dipatok harga segitu karena mengaku kuliah di Pascasarjana UI dan menyetir mobil Avanza. Nggak kebayang kalau saya mengaku menyetir BMW atau Jaguar. Pasti mereka minta Rp100 atau 200 ribu. Sigh. Tapi karena pengin cepat selesai, saya malas berdebat soal pungutan liar tak berkwitansi ini. Lagi-lagi, saya anggap Rp30 ribu itu adalah traktiran saya buat mereka yang mempercepat proses pengurusan SIM hilang ini.

Dari situ saya lalu turun ke lantai dasar menuju loket 18, loket khusus permohonan SIM yang hilang. Di sini pun cuma legalisasi sebentar, lalu saya disuruh ke ruang foto. Di ruang foto saya antrian ke 3. Nggak sampai 10 menit saya sudah difoto dan disuruh menunggu panggilan pengambilan SIM. Nggak lama kemudian nama saya dipanggil. Padahal di ruangan itu masih banyak orang yang belum dipanggil. Mungkin karena data SIM saya sudah ada, jadi prosesnya pun cepat. Hampir 1 jam, SIM saya sudah di tangan. Dan saya  puas. Walaupun, kurang puas sama foto di SIM. Hahahahaha. Jadi, total biaya pengurusan SIM hilang ini hanya Rp160.000. 

Oiya, harusnya setelah itu saya bisa mengambil kartu asuransi dengan menunjukkan resi pembayaran premi plus SIM yang sudah jadi. Tapi kemarin saya lupa ngambil, saking senangnya SIM saya sudah jadi dengan cepat dan murah. Good luck untuk kamu yang mau ngurus SIM juga!

Tips and Trik:
1. Siapin berkas-berkas yang lengkap. Fotokopi yang banyak supaya tidak ribet cari fotokopian di sana. Lagipula, harganya pasti lebih mahal.
2. Bawa pulpen dan pensil.
3. Boleh menolak asuransi.
4. Boleh menolak pungli di bagian pengarsipan.

Tuesday, January 17, 2012

8 Things to Get The Tickets!

"Ini dia tip dan trik saat berburu tiket promo. Selamat mencoba!"
1. Pilih alternatif waktu. Dari jauh-jauh hari, kita sudah harus menentukan beberapa alternatif tanggal dan waktu travelling. Jangan sampai, ribet pas browsing tiket. Waktu keburu habis. Jadi, ambil kalender dan cocokkan tanggal merah dengan agenda aktivitas di kantor kita. Ingat, airlines pada umumnya punya rate yang tinggi di akhir pekan dan peak season (liburan sekolah atau tanggal merah). Dari pengalaman saya, waktu yang tarifnya murah adalah pergi Sabtu, pulang Senin. Waktu standar travelling singkat: 3 hari 2 malam (termasuk 1 hari cuti).

2. Jadi member berbagai airlines. Dengan menjadi member, kita biasanya akan selalu dikabari kalau ada promosi. Jangan hanya ikut member budget airlines. Nggak jarang, beberapa premiere airlines yang kasih harga miring. Waktu itu saya dapat tiket Garuda Jakarta – Padang pp Rp971ribu. Memang masih lebih murah budget airlines. Kalau dengan selisih yang tidak terlalu jauh namun kita dapat fasilitas yang lebih baik, kenapa tidak?

Selain jadi member, follow juga social media mereka seperti Facebook dan Twitter. Ada beberapa promosi yang hanya muncul di social media. Oiya, kalau sudah jadi member dan follow social media, kita harus rajin mengecek email dan timeline social media kita. Jangan sampai ada promosi yang terlewat. Nyesek!

3. Jaringan internet bebas hambatan. Rata-rata promo diadakan secara online. Siapkan jaringan internet yang prima. Internet lemot bakal bikin kacau proses booking. Link down, harus refresh page, dan harga pasti berubah! Atau yang mengerikan kalau link down pas transaksi kartu kredit. Kemungkinan buruknya ada dua: gagal dan ulang lagi dari awal (dengan rate yang biasanya sudah naik), atau transaksi eror: kartu sudah terdebet tapi status booking masih pending. Kalau mengalami kejadian serupa, kita jangan panik. Kadang transaksinya berhasil, tapi kita harus menunggu beberapa saat.

Kalau situs reguler sedang down, coba saja situs versi mobile-nya. Biasanya orang-orang jarang mengakses situs tersebut. Saya 2 kali berhasil booking via situs mobile. Booking via situs mobile lebih simple dan singkat. Bahkan terkadang, kalau beruntung, bisa lebih murah dari website reguler. Oiya, soal browser, saya belum bandingin mana yang lebih oke untuk proses hunting ini. Kebetulan saja saya terbiasa pakai Google Chrome.

4. Data lengkap. Catat di notepad data lengkap traveller seperti nama lengkap sesuai paspor, tempat tanggal lahir, alamat lengkap, serta nomor paspor atau ktp. Juga, data kartu kredit dan pemegang kartu kredit seperti: Jenis kartu kredit (visa atau mastercard), nomor kartu, tiga angka kode rahasia (Cardholder Verivication Value), tanggal expired kartu, nama bank, nama lengkap pemegang kartu dan alamat penagihan. Karena waktu promosi yang singkat, pencatatan di notepad tentu mempermudah dan mempercepat. Kita tinggal copy paste saja. Kemungkinan kesalahan data pun kecil. Dengan catatan: nyatat di notepadnya benar.

Kadang untuk lebih mempermudah dan kalau sudah menjadi member sebuah maskapai, kita biasanya bisa mengisi dan menyimpan data tersebut di situs mereka. Jadi, saat booking nanti kita tinggal input data yang sudah tersimpan. Lebih mudah dan cepat, kan?

5. Sooner is better. Benar deh. Mendingan secepatnya browsing atau booking. Kalau nanti-nanti, waktu promosi habis, waktu dan destinasi yang kita mau fully booked, atau harga jadi nggak ‘cantik’ lagi.

6. Be detailer. Pastikan data yang kita pilih atau masukkan sudah sesuai dengan keinginan kita. Cek lagi data diri, harus sesuai paspor. Pilihan destinasi, tanggal dan waktu keberangkatan juga harus dicek lagi. Dan yang tak kalah pentingnya, tarif tiket. Oiya, hati-hati membaca pilihan yang diberikan airlines. Ada beberapa pilihan yang tidak kita sadari akan menambah biaya. Misalnya: biaya asuransi (tapi, asuransi penting juga sih:p), tambahan biaya konsumsi, tambahan bagasi (padahal kita tidak perlu), atau biaya memilih nomor kursi. Intinya, kesalahan sedikit saja bisa jadi ‘ladang duit’ buat mereka.Ada maskapai yang mengenakan biaya jika kita salah meng-input nama penumpang atau salah pilihan hari. Tapi ada pula yang dengan cuma-cuma membolehkan penumpang merevisi datanya (tentu dengan persyaratan tertentu). Kenapa nama nggak boleh salah tulis? Untuk perjalanan luar negeri, perbedaan nama di tiket dan paspor akan menjadi masalah atau hambatan di imigrasi. Jadi, sebelum melakukan langkah selanjutnya, periksa lagi semua data yang kita input.

7. Safety online transaction. Penting: waktu “menggesek” kartu kredit, pastikan nominal yang harus kita bayar sesuai. Cek juga jenis mata uang dan biaya administrasinya. Seperti yang sudah disebutkan di poin sebelumnya, cek juga data lengkap kartu kredit. Kesalahan sedikit bisa mengakibatkan transaksi gagal.Saat akan “menggesek”, cukup tekan sekali tombol “ok” dan tunggu prosesnya berlangsung. Jangan sampai menekan 2 kali karena bisa jadi kartu kita akan “tergesek” dua kali alias transaksi ganda. Tunggu sampai ada keterangan status transaksi: gagal, berhasil, atau pending.

8. Catat kode booking. Kalau proses booking dan pembayaran sukses, biasanya kita akan dikasih kode booking dan itinerary plus invoice. Meskipun kita sudah menyimpannya di folder email, kode booking perlu dicatat. Karena dengan kode ini kita bisa memproses tiket lebih lanjut.

Serunya Berburu Tiket Promo


Sebenarnya saya sudah lama tahu Air Asia sering ngadain promo tiket gila-gilaan, bahkan ada yang free seat (cuma bayar airport tax). Tapi, seperti yang saya bilang, dulu boro-boro kepikiran liburan. Napas saja susah (lebayy… ahahaha).

Jeng.. jeng! Saya ikut-ikutan berburu tiket promo Air Asia, demi liburan impian. Yang super irit pastinya  Tujuan pertama adalah Singapore. Kalau nggak ada, pilihan berikutnya Bali. Dari Januari 2011 saya tungguin, tapi promo Air Asia nggak nongol juga   Untungnya Fadli ngasih alternatif budget airlines yang melayani rute Jakarta – Singapore: Tiger Air dan JetStar. Tiger Air, budget airline punya Singapore Airlines . Sedangkan JetStar, ‘anak’nya Qantas punya Australia.  Saya  nggak tahu pasti reputasi mereka. Kata Fadli sih lumayan. Yaudah, saya percaya Fadli. Yang penting murah dan sampai tujuan dengan selamat!

Waktu itu JetStar sedang tidak ada promo. Harga normalnya masih terhitung rada mahal buat kantong saya. Ya sudah, saya akhirnya cuma register jadi member. Supaya kalau ada promo, saya dikabari via email. Sedangkan Tiger Air kebetulan lagi promo. Harganya miring, tapi waktunya nggak asik. Saya santai saja. Saya punya prinsip, travelling itu jodoh-jodohan. Nggak perlu dipaksain. Daripada nanti jalan-jalannya malah nggak seru. Promo lainnya pasti ada.

Awal Februari 2011 akhirnya saya dapat email promo dari JetStar. Mungkin karena banyak yang tidak tahu dan promonya tidak seheboh Air Asia, saya relatif mudah saat browsing tiket. Tidak seperti promo Air Asia yang rebutan sampai bikin link-nya down. Alhamdulillah saya dapat harga lumayan murah dan waktu perginya pas. Rp375ribu saja untuk perjalanan pergi pulang  (Note: testimonial budget airlines yang sudah saya coba, bakal saya share di posting-an terpisah). Oiya, waktu itu saya pinjam kartu kredit sepupu saya, Nidian 

Bergadang Ayo Bergadang
Big Sale Air Asia yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga di akhir Februari. Karena tiket ke Singapore untuk April 2011 sudah di tangan, maka saya melirik destinasi lain: Bali. Kali ini saya mengajak Nidian (lagi) dan sahabat gengbelengan saya (Mas Fani, Fadli, Kancut, dan Ayu). Promonya dibuka tengah malam. Dan saya udah standby di depan laptop pukul 23:00. Data-data yang dibutuhkan (data lengkap traveller dan data kartu kredit).

Tapiiii…. ada saja yang kurang. Padahal waktu awal-awal promo dibuka, akses situsnya masih mulus dan harga tiketnya bikin ‘napsu’. Gimana nggak. Ke Bali pp cuma Rp245ribu. Pilihan waktunya pun masih banyak. Pas mau booking, ternyata ada data kartu kredit yang kurang. Pas saya hubungi Ayu dan Nidian. Semuanya lagi pada tidur! Bbm dan sms nggak dibalas, telpon nggak diangkat  Saya cuma bisa pasrah melihat perubahan harga tiket dan ketersediaan jadwal tiket.

Untungnya pas mereka bangun, masih ada harga yang termurah dan waktunya pun pas. Berarti, memang masih rezeki.Ada yang ngasih saran ke saya untuk browsing pas jam 03:00 (asumsinya orang sudah capek booking dari tengah malam) atau pas jam kerja. Tapi yang saya temui, justru semakin lama kita tunda booking, semakin harga tiketnya naik. Yang paling benar emang harus udah standby sebelum promonya mulai. Dengan catatan: semua data udah benar lengkap.

Satu hal. Ticket hunting ini benar-benar bikin nagih, penasaran, dan berpotensi bikin saya jadi impulsive traveller. Untunggg saja, saya nggak punya kartu kredit. Dan yang sudah pasti, gara-gara hunting tiket saya bisa nggak tidur sehari semalam. Penasaran utak-atik cari waktu travelling dan harga tiket yang ciamik. Alhasil: mata panda! @-@

Oke, untuk lengkapnya saya akan share tip dan trik singkat berburu tiket promo ala saya di sini. Udah kepanjangan nih. Nggak enak dilihat :p