Showing posts with label Weekend Update. Show all posts
Showing posts with label Weekend Update. Show all posts

Monday, March 12, 2012

Weekend Update (10-11/03/12)

'Kabur' Ke AK-12
Akhir pekan ini saya memang berencana menginap ke AK-12. Selain sudah lama nggak ke sana, saya juga pengin refreshing dan cari tempat pewe untuk menyelesaikan "My Dream Project". Tadinya mau berangkat Jumat siang, eh tapi hujannya awet banget. Saya langsung ingat rute kantor Nida - AK-12, melewati jalan tol dekat rumah. Saya minta tolong Nida keluar di pintu tol Jatiwarna. Jadi saya bisa bareng ke Depok. Sebelum sampai AK-12, kami mampir di Bakmi Margonda. Saya pesan bakmi goreng seafood, Nida pesan mi yamin pangsit bakso. Kenyang.
Muthia di barisan belakang, ke-2 dari kanan.

Sabtu pagi, kami nganterin putri sulung Nida, Muthia, ke acara ulang tahun di KFC Mall Depok. Kira-kira jam 1 siang acaranya selesai. Lucu deh acara ulang tahun anak cewek sekarang. Yang diundang cuma teman-teman ceweknya, yang laki-lakinya nggak. Hihihi. Btw, Muthia sudah kelas 3 SD.

Mejeng nunggu pintu teater dibuka.
Tadinya kami pengin nonton Negeri 5 Menara setelah Muthia les piano, sekitar jam 3 siang. Eh, tapi kami semua ketiduran. Saya juga ngantuk banget waktu itu, karena malamnya cuma tidur sejam.

Kami akhirnya nonton jam 20:15. Durasi filmnya kurang lebih 2 jam. Satu jam terakhir Muthia ketiduran. Hihihi. Soal filmnya, *bahas sedikit ya* menurut saya kurang greget. Soul "Man Jadda Wa Jada"-nya nggak begitu sampai. Karena yang diceritakan lebih ke aktivitas sehari-hari di Pondok Madani, yang menyebabkan alurnya jadi terasa laaaamaaa. Tapi lumayan lah, karena beberapa dialog dan adegan berhasil bikin senyum dan tertawa. Lumayan cuci mata juga, ada Doni Alamsyah #eaaakkk

***

Minggu pagi, saya dan Muthia berenang di sport center kompleks. Tadinya saya malas dan berharap hujan turun. Soalnya saya masih ngantuk. Ehh, ternyata nggak hujan. Karena saya sudah janji, Muthia pasti "bawel" kalau saya belum bangun dan batalin rencana berenang.

Orang-orang sudah pada pulang, kami masih main air.


Saya dan Muthia berenang selama 4 jam. Dari kolam renang sepi sampai sepi lagi. Ahahahaha. Kaki dan tangan kami sampai belang. Muka kami juga keling. Padahal mataharinya biasa aja lho... Mungkin karena kelamaan di air kali ya... :-) Sekarang badan baru kerasa pegal-pegal karena kaget sudah lama tidak olah raga. Abis kelar berenang? Kami tidur dengan nyenyaknya sampai sore.

Sorenya, selain makan bakso atom, kami santai bermain di depan dan seputaran AK-12. Ya ngobrol, nemenin Nida cuci mobil, main sepeda, dan lain-lain. Cuaca sore ini juga mendukung. Adem.

Oiya, saya berencana nginap di AK-12 sampai Selasa. Sebenarnya sih pengin sampai tulisan saya kelar, tapi pekan ini saya harus pulang ke rumah, karena Unina sekeluarga ke Bengkulu. Kasihan Mama Papa berduaan doang di rumah.

Sunday Santay di AK-12.


Bukan Koki
Ngomong-ngomong soal praktik masak, saya sudah dua kali lagi uji coba lho. Yang pertama, hari Jumat. Mama ngajarin saya masak sup bakso dan sambal goreng macam-macam. Yang kedua, hari Sabtu. Kali ini, saya disupervisi sama Nida. Menunya, sup iga dan perkedel kentang.

My Sup Iga, supervised by Nida.

Supaya catatan masak-memasaknya agak rapi,  saya akhirnya buat blog baru khusus berisi cerita try out memasak saya. Nama blognya Bukan Koki. Yang mau main-main, butuh bahan celaan (karena masakan saya masih culun. hihihihi), atau berbaik hati kasih masukan, silakan mampir ke Bukan Koki. Ditunggu ya!

Monday, February 27, 2012

An 'Honor' Guest Named Family

Credit: S Braswell (sxc.hu)

Masih cerita weekend kemarin. Saya bertugas jadi penerima tamu di acara syukuran khitan adik bungsu Ai. Jauh-jauh hari, Ai dan mamahnya berharap banyak pada saya, tepatnya sama "ketegaan" saya untuk jagain suvenir dari 'tangan-tangan' celamitan keluarga besar. "Bilang aja, kamu dari pihak katering," kata Ai. "Hehhh? Enak aja aku dibilang mbak-mbak katering. Lah bilang aja aku temen kamu!" jawab saya ogah disangka Mbak-mbak katering. Ahahahahaha. "Tenang iii, gampaaang! Nanti mereka aku galakin!"

Saya maklum dengan kekhawatiran Ai dan Si Tante. Nggak cuma di keluarga Ai, keluarga besar saya dan sebagian besar keluarga lainnya (terutama di Indonesia) biasanya jadi pihak paling rempong saat ada perhelatan macam nikahan, lamaran, khitanan, dan acara lainnya. Mulai dari nggak nurut sama protokoler yang sudah disusun panitia (datang terlambat, terobos masuk daerah yang harusnya steril, dan lain-lain), nyuri "start" makan, ngerampok suvenir, ngatur ono ini yang bukan tugasnya, atau justru malah nggak menjalankan tugas yang sudah disepakati.

Kenapa begitu ya? Karena mereka merasa ikut memiliki acara itu? Sehingga mereka merasa berhak mengatur, berlaku seenaknya, dan ingin diistimewakan? Kalau merasa memiliki acara itu, bukankah mereka seharusnya berlaku sebagai tuan rumah yang baik, menyukseskan acara, dan mendahulukan tamu?

Keluarga besar saya juga begitu tuh. Ditugaskan jadi among tamu, bukannya standby menyambut kehadiran tamu, ehhhhh malah sibuk foto-foto dan hahahihi sama tamu lain. Alhasil, spot among tamunya kosong melompong. Sia-sia sudah mereka sengaja dikasih seragam biar kelihatan ciamik. Yang tidak kebagian tugas, selain minta suvenir dalam jumlah banyak, ada juga yang nggak sabaran dapat giliran foto bersama. *tepok jidat*

Mama pernah bilang, memang lebih enak minta tolong ke teman-teman kantor atau tetangga. Mereka biasanya profesional menjalankan tugas. Kalau sama keluarga urusannya jadi panjang. Hmmm ada benarnya juga si Mama.

Saya ingat, waktu nikahan Unina, mama meminta tolong juniornya di kantor. Tapi tentu keluarga besar juga dilibatkan, walaupun ribet nggak ketulungan. Waktu itu saya kebagian tanggung jawab urusan dokumentasi. Di rundown sudah dijadwalkan setelah selesai dandan, pengantin difoto dulu. Lalu masuk ke gedung jam sekian. Nah, waktu itu masih ada waktu 30 menit untuk foto. Ehhh, salah satu Om saya ribut nyuruh pengantin masuk gedung. Haduuuuhhhh, padahal harusnya dia sudah tahu rundown-nya. Waktu itu saya tegaskan saja, "Sekarang foto dulu, masih ada waktu 30 menit." Mas-mas studionya bingung mau ngikutin saya atau si Om. Untungnya mereka "jiper" lihat mata saya yang melotot. Si Om cuma bisa komat-kamit kesal.

Kembali ke cerita tugas saya kemarin, ampuuunnn deh ternyata benar apa yang Ai bilang soal Mami (eyang dari pihak mamanya). Doi getol beberapa kali "malakin" suvenir yang jumlahnya terbatas. Emang sih, maksudnya Mami baik: bagi-bagi ke anak keponakannya. Tapi kan Miiii, suvenirnya cuma segitu-gitunya. Kasihan tamu, terutama yang sudah jauh-jauh datang,  tidak kebagian suvenir. Pertama, pas acara dimulai, Mami senyum-senyum lihat kupon suvenir, "Apa itu? Nanti aku yang tua ini kebagian kannn?" Trus pas pertengahan acara, doi balik lagi dan bilang, "Mbak, masih ada kan suvenirnya? Aku minta satu ya." Waktu itu saya senyum dan dengan tegas bilang, "Nanti ya Eyang, tunggu semua kebagian dulu." Doi tetap maksa :(( Sayapun terpaksa ngasih karena waktu itu ada tamu yang menghampiri meja. Malu ah kalau ribut-ribut begitu. Yah, kecolongan satu deh. Ahahahhaa.

Merasa berhasil, Mami mencoba peruntungan kedua kali. Dengan alasan untuk keluarga yang lain. Waktu itu yang menghadapi kebetulan bukan saya, tapi Manyo. Sudah pasti dikasih. Manyo kan baik hati dan tidak sombong. Hihihihi. Ehhhh, yang lain juga mulai ikutan minta. Ada seorang Mbak-mbak pakai kalimat sakti, "Saya saudara ibunya lhooo". Ehhhh untung si Tante tiba-tiba nongol keluar dan dia sendiri yang bilang "Tunggu nanti semua kebagian." Baru deh si Mbaknya itu nggak jadi minta.

Yayaya... agak dilema juga yah kalau mau bersikap tegas dengan pihak keluarga yang sedikit "susah diatur" seperti itu. Satu yang saya hindari: ribut dan bikin tidak nyaman tamu lain.

Sunday, February 19, 2012

Malam Minggu di Tjikini, Bersama Ari-Reda*


Malam minggu kemarin kamu kemana? Kalau saya, menikmati Ari-Reda di Tjikini (restoran di daerah Cikini). Bermula dari kicauan akun Twitter @RedaGaudiamo (yang kira-kira isinya begini) “Tg. 18/02 jam 19:00, bersama @arimalibu, saya akan menyanyikan puisi: @tjikini, Jl. Cikini 17. Mari datang!” Saya langsung tertarik hadir. Asyik, malam Minggu menikmati puisi!

Sabtu malam, meluncurlah saya  ke Tjikini. Tak sulit menemukan restoran ini. Letaknya tak jauh dari Kantor Pos Kalipasir Cikini, Jakarta Pusat. Suasana malam minggu di sini selalu ramai, karena sepanjang jalan dipenuhi berbagai restoran atau kafe. Berjalan sedikit, kamu sudah sampai di Taman Ismail Marzuki, yang tak kalah ramai.

Di depan pintu Tjikini, saya langsung bisa membeli tiket pertunjukan Ari-Reda seharga Rp50.000 (termasuk minuman selamat datang). Saya sampai kira-kira pukul 19:10. Syukurlah acara belum dimulai. Bangku-bangku sudah terisi. Di ruang belakang, saya melihat Reda bercengkrama dengan beberapa teman-temannya. Pertunjukan ini sepertinya memang dibuat santai, sebagai ajang reuni Ari-Reda dengan teman-teman dan pencinta musik mereka.

Tiket Rp50.000, dapat minuman selamat datang.

Siapa sih Ari-Reda? Bagi kamu yang belum kenal, kebetulan kemarin malam di sela-sela penampilan, Reda menceritakan sedikit cerita pertemuan mereka. Duo yang terdiri dari Ari Malibu dan Reda Gaudiamo ini hasil “mak comblang” komedian Pepeng, pada tahun 1982. Waktu itu  mereka masih kuliah di Universitas Indonesia. “Orang kira, Ari yang perempuan dan Reda yang lelaki. Padahal kebalikannya,” kata Reda disambut riuh-rendah tawa penonton.

Reda bilang, awalnya mereka menyanyikan lagu-lagu seperti Fly Away (John Denver), lagu-lagu duo Simon & Garfunkel, dan lagu sejenis lainnya. Barulah pada 1987 mereka diajak terlibat dalam proyek apresiasi seni yang diprakarsai Fuad Hassan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu).  Tujuannya, membantu orang awam menikmati puisi lewat lagu. Selanjutnya, Ari-Reda akrab menyanyikan sajak-sajak Sapardi Djoko Damono.

Saya sendiri baru mengenal Ari-Reda tahun 2007, saat menerima CD mereka berjudul Becoming Dew. Saya baru sekali mendengar yang model begitu dan langsung jatuh cinta. Syairnya indah, begitu pula lagu, petikan gitar, dan harmonisasi suara mereka berdua. Suka!


Menyanyikan puisi ala Ari-Reda.

Kira-kira pukul 19:30, Ari-Reda siap menghibur kami, dibuka dengan lagu Akulah Si Telaga. Ahhh, syahdu sekali! Suara mereka sama seperti CD. Mengalir, bersahut-sahutan, dan saling mengisi. Saya malahan sempat tidak percaya dan mengira itu lipsync (ahahahha). Penonton bertepuk tangan puas dan saya tak sabar menunggu lagu-lagu selanjutnya. Lagu kedua, lagu kesukaaan saya! Sajak Kecil Tentang Cinta mengalir lembut dari mulut Reda. Sempurna! Saya pun ikut bersenandung kecil.

Belasan lagu dinyanyikan mereka.  Beberapa adalah Hujan Bulan Juni, Sonet X, Aku Ingin, Gadis Kecil, Di Restoran, Ketika Jari-jari Bunga Terbuka, Pada Suatu Hari Nanti, Becoming Dew, Hati Selembar Daun, dan Metamorfosis.

Sudah puas dengan belasan musikalisasi puisi, Ari-Reda mengajak penonton bernostalgia. Mereka membawakan lagu pertama yang mereka nyanyikan dulu, Fly Away (John Denver). Saya , terus terang, tidak mengenal lagu itu. Mungkin, waktu itu saya belum lahir. Meski demikian, saya bisa menikmati musik mereka.  Lagu selanjutnya, tak kalah lawas. “Nah, ini lagu waktu saya SD. Pasti kamu tidak tahu kan?” kata Ibu Desire, salah satu penonton di sebelah saya. Benar, saya baru sekali mendengar Sounds of Silence yang dipopulerkan Simon & Garfunkel. Ternyata lagu-lagu lama itu indah ya. Penonton ikut bernostalgia mendengar lagu itu, termasuk Ibu Desire yang sesekali ikut bernyanyi.

Tak lama kemudian, Ari-Reda rehat sejenak. Dan saya pun memutuskan pulang karena sudah jam 9 lebih. Sebenarnya, saya ingin menyaksikan hingga selesai. Tapi saya harus pulang, khawatir angkutan umum sudah tak ada lagi. Tapi saya sudah puas kok, menikmati puisi bersama Ari-Reda. Terima kasih Ari-Reda. Kalian telah mengisi malam Minggu saya dengan rasa bahagia yang masih berbekas hingga sekarang.


Me & Mba Reda, before the show.

*repost from there.

Monday, February 13, 2012

Weekend Update (11-12/02/12)

Yuhuuu, tiga hari nggak update blog (padahal niat 1 tulisan setiap hari), saya bayar utang pakai Weekend Update dulu yaaa :)

Sabtu, 11 Februari 2012
Mengadu Nasib
Sabtu siang saya ikut ujian rekrutmen suatu instansi yang bikin tangan, mata, punggung, pinggang, fantat, otak, pikiran, dan hati pegal. Ujiannya dari pukul 13:30 - 17:00. Paginya saya masih ribet nge-print dokumen yang harus dibawa. Kemana saja kemarin-kemarin, kok baru disiapin? Yak, saya memalasss. Alhamdulillah beres sebelum jam 11:00. Saya pergi ke lokasi ujian pakai taksi. Dan alhamdulillah juga, lancar jaya. Sampai di sana, saya masih sempat sholat dzuhur dulu.

Hari sebelumnya, Jumat, saya intensif belajar (makanya nggak sempat posting #alasaaan). Eh tapi sodara-sodaraaa soal yang keluar ternyata susah benerrrrrrr. Yang saya pelajari cuma keluar berapa persen. Malahan ada soal yang saya tidak tahu jawabannya sama sekaliiiii. Dudududu. Hmmm, saya cuma yakin mengerjakan 1/5 dari soal keseluruhan. Intinya, saya nggak pede bisa lulus ke tahap selanjutnya. Ya... mari kita lihat pengumuman minggu depan. Semoga saja saya masih punya kesempatan. Amin.

Pulangnya, tentu saya sudah keblinger gara-gara ujian itu. Ahahaha. Dannn, langsung molor supaya badan dan otak bisa fresh lagi.

Minggu, 12 Februari 2012
Sea World
Masih puyeng gara-gara ujian hari Sabtu, saya memutuskan leyeh-leyeh seharian di hari Minggu. Tapi Papa ngajakin jalan. "Ayooo kita makan besar," teriak si Papa dari bawah. Dengar kata "makan" saya langsung semangat. Cuss deh saya mandi dan siap-siap. Kami berangkat dengan format lengkap: Papa, Mama, Unina, Kak Andi (Abang Ipar), Umar, dan saya.

Pas di mobil kita semua bingung mau kemana (selalu begini nih). Tadinya mau makan di Bogor atau Puncak. Tapi si Mama trauma sama kecelakaan yang terjadi akhir-akhir ini. "Ke Taman Mini aja deh. Umar mau naik kereta gantung tuh," kata si Mama. Saya langsung nolak. Bosannnnnn dari dulu ke Taman Mini melulu. Mentang-mentang rumah kami dekat TMII. Trus, saya ingat Umar belum pernah ke Sea World. Yaudah, kami sepakat ke Sea World. Lagipula, saya sudah lama banget nggak ke Sea World :)

Karena sudah rada siang (pukul 12:00), kami akhirnya makan dulu di resto Padang. Bosan sebenarnya -__- tapi cuma itu yang ada sejalan ke Ancol. Si Papa langsung senyum lebar kantongnya nggak jadi 'jebol', karena makan di situ kami ber-6, nggak sampai Rp200rb. Manaaa ini katanya makan besar (enak dan mahal)? Si Papa langsung ngeles, "Makan besar itu kan artinya makan nasi," sambil cengengesan. 

Akhirnya, sampai juga di Ancol. Tumben hari minggu nggak terlalu ramai. Masuk Ancol sekarang Rp15 ribu per orang (2 tahun ke atas). Tapi umar didiskon alias nggak dihitung bayar, padahal usianya sudah hampir 3 tahun. Parkir mobil Rp20 ribu. Sedangkan tiket Sea World, Rp60 ribu per orang (2 tahun ke atas). Karena usianya di atas 55 tahun alias senior citizen, Papa dan Mama cuma bayar Rp36 ribu. Lumayan. Tapi mereka diminta menunjukkan KTP dulu. Nggak masalahhhh, wong umur mereka emang sudah 55 tahun lebih.

Pose dulu sebelum masuk.
(Enek, Atuk, dan Umar).

Umar and family. Yak, Umar udah mulai mual-mual -__-

Awalnya, Umar happy karena kami kasih tau mau lihat ikan. Ehhh, pas dia lihat air mancur, dia jadi mual-mual panik dan grogi. Dia kira Sea World itu kolam renang. Entah kenapa dia trauma diajak ke kolam renang. Alhamdulillah setelah dibujuk Unina, Umar mau masuk. 

Pas masuk, ternyata yah nggak jauh beda lah dengan Sea World yang dulu. Malahan, walaupun sudah diperbesar, saya merasa Sea World nggak sebesar dulu. Mungkin karena dulu sayanya yang kecil. Hihi. 

Saudaraku a.k.a dugong  atau duyung,
lagi dikasih makan. Hihihihi.

Penampakan kolam Sea World dari atas.


Oiya, Si Umar tadinya masih panik, eh syukur deh dia mulai nyaman dan menikmati lihat-lihat ikan di aquarium. Waktu masuk tunnel pertama kali, dia masih bingung. Selanjutnya, dia enjoy dan malah betah.

Di dalam tunnel.
Petugas mengevakuasi ikan yang sakit.

Mumpung ada paus yang lewat, foto dulu :p
Kami sempat melihat atraksi pemberian makan hiu. Ini pertama kali saya lihat. Jadi ikut deg-degan lihatnya. Soalnya, hiu-hiunya aktif banget karena kelaparan. Waktu itu petugas ditemani seorang pengunjung yang ikut program Fun Diving. Menghindari serangan hiu, mereka berlindung di balik jeruji besi berbentuk sarang burung. Senang juga bisa lihat atraksi ini :)

Pengunjung bersiap nonton hiu yang mau lunch.

Para hiu kayaknya lebih ngiler sama yang ngasih makan.

Sudah puas lihat-lihat, kami keluar deh. Trus mampir sebentar duduk-duduk di pinggir pantai. Abis itu, pulang dehhh. Si Papa penginnya kami magrib di rumah.

Muka-muka capek tapi senang.